Demo Rusuh Guncang Georgia, Massa Serbu Istana Presiden
Minggu, 05 Oktober 2025 - 05:39 WIB
loading...
Demonstrasi rusuh guncang Ibu Kota Georgia, Tbilisi, Sabtu malam. Para demonstran anti-pemerintah serbu kompleks istana presiden dan bentrok dengan polisi. Foto/Screenshot video Russia Today
A
A
A
TBILISI - Demonstrasi yang diwarnai kerusuhan telah mengguncang Ibu Kota Georgia, Tbilisi, Sabtu malam, menyusul pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) yang sebagian diboikot oleh kubu oposisi. Para demonstran menyerbu kompleks istana presiden dan bentrok dengan polisi yang bersenjata semprotan merica dan meriam air.
Kubu oposisi yang memboikoit Pilkada sebelumnya berjanji untuk menggelar "revolusi damai".
Perdana Menteri Irakli Kobakhidze, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (5/10/2025), mengatakan proyeksi awal menunjukkan partai Georgian Dream (Impian Georgia) yang berkuasa unggul di seluruh negeri.
Baca Juga: Georgia Kacau, Presiden Ogah Lengser dan PM-nya Tuduh Oposisi Rencanakan Revolusi
Rekaman video kerusuhan dari lokasi kejadian menunjukkan para demonstran memanjat pagar istana presiden dan merobohkan beberapa bagiannya. Kerumunan yang tidak terkendali itu disambut di halaman oleh pasukan polisi yang cukup besar, berpakaian lengkap, yang bereaksi menggunakan tongkat, semprotan merica, dan gas air mata.
Bentrokan antara demonstran dan polisi juga pecah di luar. Aparat penegak hukum mengerahkan beberapa truk meriam air untuk membubarkan massa yang berusaha mendirikan barikade di jalanan.
Bendera Uni Eropa, Ukraina, dan bahkan varian bendera Georgia dengan warna Ukraina terlihat dibawa di antara kerumunan.
Setelah para demonstran diusir dari halaman istana presiden, sekelompok orang bertopeng terlihat menyerang kafe dan tempat-tempat umum lainnya di sekitarnya, memecahkan jendela, merusak furnitur, dan membakarnya.
Georgia mengalami gelombang kerusuhan yang disertai kekerasan setelah Pemilu Presiden dan Parlemen akhir tahun lalu, ketika protes yang melanda negara kandidat Uni Eropa tersebut secara terbuka didukung oleh blok Eropa sendiri dan aktor asing lainnya.
Kubu oposisi pro-Barat berunjuk rasa selama berminggu-minggu setelah pemungutan suara, menuntut pemilihan ulang, sementara kerusuhan tersebut didukung penuh oleh Presiden Salome Zourabichvili yang saat itu akan lengser.
Zourabichvili awalnya menolak meninggalkan jabatannya tetapi akhirnya mengundurkan diri pada akhir Desember.
Otoritas Georgia telah berulang kali menuduh bahwa pasukan asing telah merencanakan kudeta ala Maidan Ukraina di negara tersebut.
Bulan lalu, Kobakhidze mengeklaim upaya tersebut telah dibiayai oleh badan intelijen asing, seperti halnya kudeta Maidan—yang pada akhirnya mendorong runtuhnya kenegaraan Ukraina.
"Agen asing tidak akan melancarkan revolusi di Georgia, kami tidak akan membiarkan itu," kata Kobakhidze saat itu.
Kubu oposisi yang memboikoit Pilkada sebelumnya berjanji untuk menggelar "revolusi damai".
Perdana Menteri Irakli Kobakhidze, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (5/10/2025), mengatakan proyeksi awal menunjukkan partai Georgian Dream (Impian Georgia) yang berkuasa unggul di seluruh negeri.
Baca Juga: Georgia Kacau, Presiden Ogah Lengser dan PM-nya Tuduh Oposisi Rencanakan Revolusi
Rekaman video kerusuhan dari lokasi kejadian menunjukkan para demonstran memanjat pagar istana presiden dan merobohkan beberapa bagiannya. Kerumunan yang tidak terkendali itu disambut di halaman oleh pasukan polisi yang cukup besar, berpakaian lengkap, yang bereaksi menggunakan tongkat, semprotan merica, dan gas air mata.
Bentrokan antara demonstran dan polisi juga pecah di luar. Aparat penegak hukum mengerahkan beberapa truk meriam air untuk membubarkan massa yang berusaha mendirikan barikade di jalanan.
Bendera Uni Eropa, Ukraina, dan bahkan varian bendera Georgia dengan warna Ukraina terlihat dibawa di antara kerumunan.
Setelah para demonstran diusir dari halaman istana presiden, sekelompok orang bertopeng terlihat menyerang kafe dan tempat-tempat umum lainnya di sekitarnya, memecahkan jendela, merusak furnitur, dan membakarnya.
Georgia mengalami gelombang kerusuhan yang disertai kekerasan setelah Pemilu Presiden dan Parlemen akhir tahun lalu, ketika protes yang melanda negara kandidat Uni Eropa tersebut secara terbuka didukung oleh blok Eropa sendiri dan aktor asing lainnya.
Kubu oposisi pro-Barat berunjuk rasa selama berminggu-minggu setelah pemungutan suara, menuntut pemilihan ulang, sementara kerusuhan tersebut didukung penuh oleh Presiden Salome Zourabichvili yang saat itu akan lengser.
Zourabichvili awalnya menolak meninggalkan jabatannya tetapi akhirnya mengundurkan diri pada akhir Desember.
Otoritas Georgia telah berulang kali menuduh bahwa pasukan asing telah merencanakan kudeta ala Maidan Ukraina di negara tersebut.
Bulan lalu, Kobakhidze mengeklaim upaya tersebut telah dibiayai oleh badan intelijen asing, seperti halnya kudeta Maidan—yang pada akhirnya mendorong runtuhnya kenegaraan Ukraina.
"Agen asing tidak akan melancarkan revolusi di Georgia, kami tidak akan membiarkan itu," kata Kobakhidze saat itu.
(mas)
Lihat Juga :