Tak Akui Negara Palestina, Apakah Jepang Takut pada Israel?
Senin, 29 September 2025 - 15:14 WIB
loading...
Demonstran Jepang kibarkan bendera Palestina. Jepang hingga sekarang masih enggan akui Negara Palestina. Foto/ANJ
A
A
A
JAKARTA - Negara-negara G7 dan Eropa telah ramai-ramai mengakui Negara Palestina menjelang Sidang Umum PBB pekan lalu. Namun Jepang, yang merupakan anggota G7, masih belum bersedia membuat deklarasi serupa. Ini memicu pertanyaan apakah ini karena Jepang takut pada Israel?
Israel dan Amerika Serikat memang gencar menekan banyak negara untuk tidak mengakui Negara Palestina. Keduanya pun kesal ketika sejumlah negara Barat mengumumkan pengakuan mereka untuk Negara Palestina.
Baca Juga: Apakah Jepang Takut pada AS sehingga Tak Akui Negara Palestina?
Jepang, menurut laporan Kyodo News, sebenarnya menghadapi dua tekanan. Yakni, dari AS yang menekan Tokyo agar tidak mengakui Negara Palestina, serta dari Prancis yang menekan Tokyo untuk melakukan sebaliknya.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshimasa Hayashi mengatakan Tokyo memiliki rasa krisis yang mendalam atas perang brutal Israel di Gaza yang berpotensi meruntuhkan pondasi solusi dua negara.
Selain itu, Hayashi mendesak Israel untuk mengambil langkah nyata dalam menghentikan krisis kemanusiaan, termasuk kelaparan yang kian memburuk seiring berjalannya waktu. Dalam pertemuan PBB, Jepang bahkan ikut mendukung resolusi yang menekankan pentingnya langkah konkret dan berjangka waktu menuju solusi dua negara.
Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyatakan bahwa pengakuan Palestina sebagai negara bukanlah masalah “jika”, melainkan “kapan”.
Anggapan takut pada Israel terkesan terlalu menyederhanakan situasi. Berikut analisis pertimbangan Jepang dalam masalah Israel-Palestina.
Masuknya tekanan diplomatik dari AS agar Jepang menahan diri dalam pengakuan Negara Palestina makin diperkuat oleh laporan-laporan media Jepang.
Ada kekhawatiran bahwa pengakuan sebelum persiapan matang bisa mengganggu harapan dialog dan solusi dua negara yang berkelanjutan.
Gerakan yang dianggap memihak satu pihak secara terang-terangan bisa memicu pembalasan atau ketidakpercayaan dari mitra di kawasan tersebut.
Meskipun tidak selalu diumumkan eksplisit sebagai “takut”, kepentingan ekonomi ini menjadi bagian dari kalkulasi.
Jadi narasi “takut pada Israel” mungkin sebagian benar dalam arti diplomatik, di mana Jepang mengkalkulasi bahwa langkah pengakuan bisa memicu gesekan keras dengan Israel dan sekutu lainnya, terutama AS.
Tapi itu bukan satu-satunya faktor; banyak pertimbangan legal, diplomatik, keamanan, ekonomi juga ikut bermain.
Bila pertanyaannya “apakah Jepang takut pada Israel sehingga tidak mengakui Negara Palestina?”, maka jawaban yang paling mendekati kebenaran adalah: Iya, tapi bukan ketakutan dalam pengertian emosional atau psikologis semata—melainkan ketakutan diplomatik dan strategis, yakni kekhawatiran akan reaksi diplomatik, keamanan, ekonomi dari Israel dan sekutu kuatnya; Amerika Serikat.
Israel dan Amerika Serikat memang gencar menekan banyak negara untuk tidak mengakui Negara Palestina. Keduanya pun kesal ketika sejumlah negara Barat mengumumkan pengakuan mereka untuk Negara Palestina.
Baca Juga: Apakah Jepang Takut pada AS sehingga Tak Akui Negara Palestina?
Jepang, menurut laporan Kyodo News, sebenarnya menghadapi dua tekanan. Yakni, dari AS yang menekan Tokyo agar tidak mengakui Negara Palestina, serta dari Prancis yang menekan Tokyo untuk melakukan sebaliknya.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshimasa Hayashi mengatakan Tokyo memiliki rasa krisis yang mendalam atas perang brutal Israel di Gaza yang berpotensi meruntuhkan pondasi solusi dua negara.
Selain itu, Hayashi mendesak Israel untuk mengambil langkah nyata dalam menghentikan krisis kemanusiaan, termasuk kelaparan yang kian memburuk seiring berjalannya waktu. Dalam pertemuan PBB, Jepang bahkan ikut mendukung resolusi yang menekankan pentingnya langkah konkret dan berjangka waktu menuju solusi dua negara.
Perdana Menteri Shigeru Ishiba menyatakan bahwa pengakuan Palestina sebagai negara bukanlah masalah “jika”, melainkan “kapan”.
Apakah Takut pada Israel Jadi Alasan Jepang?
Anggapan takut pada Israel terkesan terlalu menyederhanakan situasi. Berikut analisis pertimbangan Jepang dalam masalah Israel-Palestina.
1. Keamanan dan Aliansi dengan AS
Jepang adalah sekutu dekat AS, dengan komitmen keamanan dan kerjasama strategis. Keputusan politik luar negeri Jepang sering memperhitungkan posisi AS, terutama dalam isu-isu Timur Tengah.Masuknya tekanan diplomatik dari AS agar Jepang menahan diri dalam pengakuan Negara Palestina makin diperkuat oleh laporan-laporan media Jepang.
2. Risiko Diplomatik dan Reaksi Israel
Jepang khawatir bahwa pengakuan sepihak untuk Negara Palestina bisa menyebabkan reaksi diplomatik dari Israel, yang mungkin memperburuk hubungan bilateral di bidang ekonomi, teknis, keamanan.Ada kekhawatiran bahwa pengakuan sebelum persiapan matang bisa mengganggu harapan dialog dan solusi dua negara yang berkelanjutan.
3. Kepentingan Ekonomi dan Pasokan Energi
Jepang sangat bergantung pada impor energi dari Timur Tengah. Hubungan dengan negara-negara Arab dan komunitas Muslim juga penting bagi stabilitas pasokan minyak dan gas, kerjasama perdagangan, dan citra diplomatik internasional.Gerakan yang dianggap memihak satu pihak secara terang-terangan bisa memicu pembalasan atau ketidakpercayaan dari mitra di kawasan tersebut.
Meskipun tidak selalu diumumkan eksplisit sebagai “takut”, kepentingan ekonomi ini menjadi bagian dari kalkulasi.
4. Legalitas Internasional dan Standar Diplomatik
Jepang sering menekankan resolusi PBB, hukum internasional, negoisasi sebagai dasar perubahan status seperti pengakuan sebuah negara. Jepang juga menyebut bahwa pengakuan sebelum “asal-usul pemerintahan yang stabil” atau “kejelasan batas negara” dapat menimbulkan masalah, sebagaimana dipaparkan Kementerian Luar Negeri-nya.5. Opini Publik dan Tekanan Domestik
Di Jepang juga ada suara Parlemen dan publik yang mendorong pengakuan Negara Palestina, khususnya terkait krisis kemanusiaan di Gaza. Namun pemerintah mempertimbangkan opini internasional, kemampuan diplomatik, dan potensi dampak terhadap kepentingan nasionalnya.Jadi narasi “takut pada Israel” mungkin sebagian benar dalam arti diplomatik, di mana Jepang mengkalkulasi bahwa langkah pengakuan bisa memicu gesekan keras dengan Israel dan sekutu lainnya, terutama AS.
Tapi itu bukan satu-satunya faktor; banyak pertimbangan legal, diplomatik, keamanan, ekonomi juga ikut bermain.
Bila pertanyaannya “apakah Jepang takut pada Israel sehingga tidak mengakui Negara Palestina?”, maka jawaban yang paling mendekati kebenaran adalah: Iya, tapi bukan ketakutan dalam pengertian emosional atau psikologis semata—melainkan ketakutan diplomatik dan strategis, yakni kekhawatiran akan reaksi diplomatik, keamanan, ekonomi dari Israel dan sekutu kuatnya; Amerika Serikat.
(mas)
Lihat Juga :