5 Negara Paling Work–Life Balance di Dunia, Indonesia Bisa Mencontoh
Senin, 29 September 2025 - 14:41 WIB
loading...
Ada lima lima negara dengan work–life balance atau keseimbangan hidup-kerja terbaik di dunia. Salah satunya, Selandia Baru. Foto/Fortune/Oscar Wong
A
A
A
JAKARTA - Ada lima lima negara dengan work–life balance (keseimbangan hidup-kerja) terbaik di dunia, menurut berbagai studi global. Indikatornya diukur dari cuti tahunan, jam kerja, jaminan sosial, kebijakan keluarga, tingkat kebahagiaan publik.
Work–life balance adalah istilah yang menggambarkan keseimbangan antara waktu, energi, dan perhatian yang dicurahkan untuk pekerjaan dengan kehidupan pribadi—termasuk keluarga, kesehatan, relasi sosial, pendidikan, rekreasi, maupun pengembangan diri.
Peringkat work-life balance dengan majunya sebuah negara juga tidak selalu berbanding lurus.
Baca Juga: Jatuh Cinta, Bos Wanita Ini Berikan Rp7 Miliar kepada Karyawannya untuk Ceraikan Istri
Contohnya Jepang dan Korea Selatan yang termasuk negara maju, tapi terkenal dengan budaya kerja panjang dan banyaknya kematian akibat terlalu banyak kerja. Akibatnya skor work–life balance kedua negara tersebut justru rendah menurut OECD dan survei global.
Sebaliknya, negara-negara Nordik seperti Norwegia, Denmark, dan Swedia sama-sama maju, tetapi punya budaya menghargai waktu luang, sehingga skor work–life balance sangat tinggi.
Daftar 5 Negara Paling Work–Life Balance di Dunia
Selandia Baru menempati posisi pertama berulang kali karena kombinasi cuti tahunan yang kuat (statutory annual leave), upah minimum relatif tinggi, serta indikator keselamatan dan kebahagiaan publik yang baik.
Budaya kerja juga menekankan penghargaan terhadap waktu luang—pejabat dan kebijakan publik sering menyatakan “life is for living”, dan pemberi kerja umumnya menghormati batasan jam kerja.
Yang bisa dicontoh dari Selandia Baru adalah komposisi kebijakan yang relatif sederhana (cukup banyak cuti, jaminan sosial dasar, dan upah minimum yang layak) mampu menghasilkan dampak besar pada kesejahteraan pekerja.
Irlandia unggul karena cuti melahirkan yang kompetitif, keamanan publik yang tinggi, dan budaya kerja mendukung komunitas kerja yang kohesif.
Faktor-faktor tersebut membuat pekerja merasakan keseimbangan antara tanggung jawab kerja dan kehidupan keluarga.
Yang bisa dipelajari dari Irlandia adalah dukungan cuti parental menjadi komponen penting untuk menurunkan beban pekerja, terutama pekerja perempuan.
Belgia memiliki salah satu upah minimum tertinggi di Eropa dan jam kerja rata-rata yang relatif pendek, yakni rata-rata 34 jam minggu kerja.
Selain itu, perlindungan seperti statutory sick pay dan skema jaminan sosial yang kuat menaikkan skor work-life balance.
Yang bisa dicontoh dari Belgia adalah regulasi pasar tenaga kerja yang kuat—dengan kombinasi upah minimum, cuti dan perlindungan sosial—membentuk keseimbangan waktu kerja yang lebih sehat.
Jerman naik peringkat berkat fokus pada efisiensi, peningkatan statutory sick pay dan budaya kerja yang mendorong produktivitas dalam jam kerja yang lebih singkat.
Jerman juga menunjukkan bahwa pengaturan jam kerja dan proteksi sosial dapat menciptakan hasil kesejahteraan tinggi sekaligus mempertahankan output ekonomi.
Yang bisa dicontoh dari Jerman adalah investasi pada proteksi sosial dan kebijakan fleksibilitas—misalnya opsi kerja paruh waktu berkualitas—bisa menurunkan jam kerja total tanpa mengorbankan produktivitas.
Norwegia menonjol karena jam kerja singkat, kebijakan parental leave yang kuat, serta tingkat kebahagiaan publik dan keselamatan yang tinggi.
Negara-negara Nordik secara umum menunjukkan korelasi kuat antara kebijakan kesejahteraan universal dan keseimbangan hidup-kerja yang baik.
Yang bisa dicontoh dari Norwegia adalah model kesejahteraan universal (kesehatan, pendidikan, cuti dan layanan anak) memang mahal, tetapi menghasilkan stabilitas sosial yang mendukung work–life balance.
Sumber: Diolah dari data Remote, OECD, dan InterNations.
Work–life balance adalah istilah yang menggambarkan keseimbangan antara waktu, energi, dan perhatian yang dicurahkan untuk pekerjaan dengan kehidupan pribadi—termasuk keluarga, kesehatan, relasi sosial, pendidikan, rekreasi, maupun pengembangan diri.
Peringkat work-life balance dengan majunya sebuah negara juga tidak selalu berbanding lurus.
Baca Juga: Jatuh Cinta, Bos Wanita Ini Berikan Rp7 Miliar kepada Karyawannya untuk Ceraikan Istri
Contohnya Jepang dan Korea Selatan yang termasuk negara maju, tapi terkenal dengan budaya kerja panjang dan banyaknya kematian akibat terlalu banyak kerja. Akibatnya skor work–life balance kedua negara tersebut justru rendah menurut OECD dan survei global.
Sebaliknya, negara-negara Nordik seperti Norwegia, Denmark, dan Swedia sama-sama maju, tetapi punya budaya menghargai waktu luang, sehingga skor work–life balance sangat tinggi.
Daftar 5 Negara Paling Work–Life Balance di Dunia
1. Selandia Baru (New Zealand)
•Skor indeks: 86.59Selandia Baru menempati posisi pertama berulang kali karena kombinasi cuti tahunan yang kuat (statutory annual leave), upah minimum relatif tinggi, serta indikator keselamatan dan kebahagiaan publik yang baik.
Budaya kerja juga menekankan penghargaan terhadap waktu luang—pejabat dan kebijakan publik sering menyatakan “life is for living”, dan pemberi kerja umumnya menghormati batasan jam kerja.
Yang bisa dicontoh dari Selandia Baru adalah komposisi kebijakan yang relatif sederhana (cukup banyak cuti, jaminan sosial dasar, dan upah minimum yang layak) mampu menghasilkan dampak besar pada kesejahteraan pekerja.
2. Irlandia
•Skor indeks: 81.17Irlandia unggul karena cuti melahirkan yang kompetitif, keamanan publik yang tinggi, dan budaya kerja mendukung komunitas kerja yang kohesif.
Faktor-faktor tersebut membuat pekerja merasakan keseimbangan antara tanggung jawab kerja dan kehidupan keluarga.
Yang bisa dipelajari dari Irlandia adalah dukungan cuti parental menjadi komponen penting untuk menurunkan beban pekerja, terutama pekerja perempuan.
3. Belgia
•Skor indeks: 75.91Belgia memiliki salah satu upah minimum tertinggi di Eropa dan jam kerja rata-rata yang relatif pendek, yakni rata-rata 34 jam minggu kerja.
Selain itu, perlindungan seperti statutory sick pay dan skema jaminan sosial yang kuat menaikkan skor work-life balance.
Yang bisa dicontoh dari Belgia adalah regulasi pasar tenaga kerja yang kuat—dengan kombinasi upah minimum, cuti dan perlindungan sosial—membentuk keseimbangan waktu kerja yang lebih sehat.
4. Jerman
•Skor indeks: 74.37Jerman naik peringkat berkat fokus pada efisiensi, peningkatan statutory sick pay dan budaya kerja yang mendorong produktivitas dalam jam kerja yang lebih singkat.
Jerman juga menunjukkan bahwa pengaturan jam kerja dan proteksi sosial dapat menciptakan hasil kesejahteraan tinggi sekaligus mempertahankan output ekonomi.
Yang bisa dicontoh dari Jerman adalah investasi pada proteksi sosial dan kebijakan fleksibilitas—misalnya opsi kerja paruh waktu berkualitas—bisa menurunkan jam kerja total tanpa mengorbankan produktivitas.
5. Norwegia
•Skor indeks: 74.20Norwegia menonjol karena jam kerja singkat, kebijakan parental leave yang kuat, serta tingkat kebahagiaan publik dan keselamatan yang tinggi.
Negara-negara Nordik secara umum menunjukkan korelasi kuat antara kebijakan kesejahteraan universal dan keseimbangan hidup-kerja yang baik.
Yang bisa dicontoh dari Norwegia adalah model kesejahteraan universal (kesehatan, pendidikan, cuti dan layanan anak) memang mahal, tetapi menghasilkan stabilitas sosial yang mendukung work–life balance.
Sumber: Diolah dari data Remote, OECD, dan InterNations.
(mas)
Lihat Juga :