PKC Diduga Gunakan AI untuk Kendalikan Persepsi Kestabilan Pasar China
Minggu, 28 September 2025 - 10:37 WIB
loading...
Partai Komunis China diduga memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk kendalikan persepsi kestabilan pasar China. Foto/China Daily
A
A
A
JAKARTA - Dalam beberapa bulan terakhir, pasar saham China menunjukkan paradoks yang mencolok. Di satu sisi, bursa Shanghai sempat menyentuh level tertinggi dalam satu dekade dan bahkan melampaui kinerja indeks global seperti S&P 500.
Indeks CSI 300, misalnya, telah naik lebih dari 9% sejak April 2025 dengan volatilitas yang terkendali di kisaran 1,2%, jauh lebih rendah dibanding lonjakan 4,5% yang terlihat saat gelembung saham 2015.
Namun di sisi lain, perekonomian China terus tertatih di bawah tekanan struktural: deflasi akibat krisis properti, lemahnya konsumsi rumah tangga, dan penuaan populasi yang cepat.
Kontras ini mencerminkan strategi Partai Komunis China (PKC) yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan optimisme spekulatif untuk menutupi persoalan ekonomi mendasar.
Baca Juga: Jet Tempur J-20 China Terkendala Masalah Mesin dan Kemampuan Siluman
Menurut laporan dari Mekong News, Minggu (28/9/2025),di balik reli saham ini, Beijing diyakini sengaja merekayasa kepercayaan pasar. PKC, yang memahami kekuatan psikologis indeks saham yang naik, memanfaatkan AI baik sebagai frontier teknologi maupun sebagai alat narasi.
Dengan menyoroti perusahaan-perusahaan berbasis AI dan mendorong investasi institusional di sektor teknologi, pemerintah berupaya memproyeksikan citra kemakmuran yang dipimpin inovasi. Namun di balik kilauan tersebut, fundamental ekonomi menunjukkan cerita yang berbeda.
Perlambatan ekonomi China kini bersifat struktural, bukan lagi siklus. Krisis properti, yang dipicu kejatuhan raksasa seperti Evergrande dan Country Garden, telah memicu spiral deflasi.
Persediaan rumah tak terjual kini melebihi dua tahun kebutuhan, dan harga properti diperkirakan masih bisa turun 20–25% tanpa intervensi berkelanjutan. Langkah stimulus, mulai dari injeksi likuiditas Bank Sentral China hingga belanja fiskal terarah, gagal memulihkan kepercayaan konsumen atau memicu pertumbuhan berarti.
Pengangguran pemuda tetap di atas 20 persen dan sentimen konsumen berada di titik terendah sejak 2020. Dalam konteks ini, reli saham yang dipicu AI lebih menyerupai ilusi yang disponsori negara ketimbang bukti vitalitas ekonomi.
Strategi PKC bertumpu pada pengelolaan persepsi. Dengan membesar-besarkan keuntungan saham AI dan menonjolkan terobosan teknologi, PKC berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalan kebijakan dan stagnasi ekonomi. Ini bukan pertama kalinya China menggunakan pasar saham sebagai alat politik.
Mengutip laporan dari Carnegie Endowment, Beijing baru-baru ini meluncurkan strategi terbarunya untuk memenangkan persaingan AI. Dewan Negara China yang berpengaruh menetapkan visi ambisius untuk segera menyebarkan AI ke dalam enam bidang utama, mulai dari percepatan penelitian dan pengembangan ilmiah hingga peningkatan kapasitas tata kelola.
Rencana tersebut menetapkan target konkret yang mencolok, termasuk penerapan berbagai aplikasi di 90 persen sektor ekonominya hanya dalam lima tahun.
Reli tahun 2015 yang dipicu spekulasi ritel berakhir dengan kejatuhan spektakuler yang menghapus triliunan dolar nilai pasar. Reli 2025, meski lebih dikelola institusi, menyimpan risiko serupa. Bedanya, kali ini penggeraknya adalah modal institusi dan investor kaya, bukan euforia ritel, namun kerentanannya tetap nyata.
Hal yang membedakan reli saat ini adalah ketergantungannya pada AI sebagai jangkar narasi. Perusahaan yang bergerak di bidang AI generatif, desain chip, dan perdagangan algoritmik menjadi favorit pasar. Pemerintah menggelontorkan miliaran dolar ke riset AI dan menempatkannya sebagai pilar daya saing masa depan.
Namun, banyak perusahaan tersebut masih merugi, dinilai terlalu mahal, dan rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Pertumbuhan sektor AI pun lebih banyak digerakkan negara ketimbang permintaan konsumen atau inovasi swasta, dengan transparansi dan akuntabilitas yang terbatas.
Kalangan profesional perkotaan dan pengusaha swasta mulai skeptis terhadap ‘ilusi’ ini. Banyak yang menyadari bahwa sorotan pada AI dan kinerja bursa hanyalah pengalihan dari persoalan yang lebih mendesak: upah riil yang menurun, pasar ekspor yang menyusut, dan profil demografis yang memburuk.
Upaya PKC menekan kritik dan mengendalikan informasi justru memperdalam ketidakpercayaan publik. Media sosial dipenuhi sindiran terselubung, sementara forum ekonomi bawah tanah ramai membahas jurang antara data resmi dan realitas sehari-hari.
Kesenjangan ini bukan semata ekonomi, melainkan juga politik. Legitimasi PKC selama ini bertumpu pada kemampuannya menghadirkan pertumbuhan dan stabilitas. Saat mesin pertumbuhan tradisional melemah, PKC beralih ke kemenangan simbolis: terobosan AI, misi luar angkasa, dan rekor indeks saham.
Semua ini dimaksudkan untuk meyakinkan publik sekaligus menunjukkan relevansi global, namun pada saat yang sama menyingkap ketergantungan rezim pada tontonan ketimbang substansi.
Sejumlah pengamat internasional mulai mempertanyakan keberlanjutan reli yang digerakkan AI ini. Mereka memperingatkan bahwa kenaikan pasar terkonsentrasi di segelintir saham teknologi, sementara indeks yang lebih luas justru stagnan.
Investasi asing tetap berhati-hati karena ketidakpastian regulasi dan ketegangan geopolitik. Nilai yuan terus melemah, bertahan di sekitar 7,37 per dolar AS, dengan proyeksi dapat menembus 7,50. Arus modal keluar meningkat, dan langkah Beijing memperketat transparansi data hanya menambah kecemasan investor.
Reli AI juga tidak mampu menutupi erosi ekonomi riil China. Produksi manufaktur stagnan, pengangguran pemuda meningkat, dan kelas menengah makin terbebani utang serta ketidakpastian perumahan.
Penolakan PKC untuk melakukan reformasi struktural, mulai dari liberalisasi sektor swasta, penguatan jaring pengaman sosial, hingga solusi atas penurunan demografi, membuat ekonomi terjebak dalam perkembangan yang tersendat. AI mungkin menawarkan potensi jangka panjang, tetapi untuk saat ini lebih berfungsi sebagai distraksi yang nyaman.
Singkatnya, reli saham China yang digerakkan AI bukanlah tanda kebangkitan ekonomi, melainkan latihan canggih dalam pengendalian narasi. Menghadapi kegagalan kebijakan dan kekecewaan publik yang kian besar, PKC menggunakan AI sebagai fatamorgana strategis untuk mengalihkan perhatian dari kelemahan sistemik.
Pasar saham mungkin berkilau, namun ekonomi di baliknya terus bergelut dengan krisis yang tak terselesaikan. Dan ketika jarak antara persepsi dan realitas makin melebar, kepemimpinan China mungkin akan mendapati bahwa bahkan algoritma tercanggih pun tak mampu merekayasa kepercayaan.
Indeks CSI 300, misalnya, telah naik lebih dari 9% sejak April 2025 dengan volatilitas yang terkendali di kisaran 1,2%, jauh lebih rendah dibanding lonjakan 4,5% yang terlihat saat gelembung saham 2015.
Namun di sisi lain, perekonomian China terus tertatih di bawah tekanan struktural: deflasi akibat krisis properti, lemahnya konsumsi rumah tangga, dan penuaan populasi yang cepat.
Kontras ini mencerminkan strategi Partai Komunis China (PKC) yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dan optimisme spekulatif untuk menutupi persoalan ekonomi mendasar.
Baca Juga: Jet Tempur J-20 China Terkendala Masalah Mesin dan Kemampuan Siluman
Menurut laporan dari Mekong News, Minggu (28/9/2025),di balik reli saham ini, Beijing diyakini sengaja merekayasa kepercayaan pasar. PKC, yang memahami kekuatan psikologis indeks saham yang naik, memanfaatkan AI baik sebagai frontier teknologi maupun sebagai alat narasi.
Dengan menyoroti perusahaan-perusahaan berbasis AI dan mendorong investasi institusional di sektor teknologi, pemerintah berupaya memproyeksikan citra kemakmuran yang dipimpin inovasi. Namun di balik kilauan tersebut, fundamental ekonomi menunjukkan cerita yang berbeda.
Perlambatan ekonomi China kini bersifat struktural, bukan lagi siklus. Krisis properti, yang dipicu kejatuhan raksasa seperti Evergrande dan Country Garden, telah memicu spiral deflasi.
Persediaan rumah tak terjual kini melebihi dua tahun kebutuhan, dan harga properti diperkirakan masih bisa turun 20–25% tanpa intervensi berkelanjutan. Langkah stimulus, mulai dari injeksi likuiditas Bank Sentral China hingga belanja fiskal terarah, gagal memulihkan kepercayaan konsumen atau memicu pertumbuhan berarti.
Pengangguran pemuda tetap di atas 20 persen dan sentimen konsumen berada di titik terendah sejak 2020. Dalam konteks ini, reli saham yang dipicu AI lebih menyerupai ilusi yang disponsori negara ketimbang bukti vitalitas ekonomi.
Strategi PKC bertumpu pada pengelolaan persepsi. Dengan membesar-besarkan keuntungan saham AI dan menonjolkan terobosan teknologi, PKC berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalan kebijakan dan stagnasi ekonomi. Ini bukan pertama kalinya China menggunakan pasar saham sebagai alat politik.
Mengutip laporan dari Carnegie Endowment, Beijing baru-baru ini meluncurkan strategi terbarunya untuk memenangkan persaingan AI. Dewan Negara China yang berpengaruh menetapkan visi ambisius untuk segera menyebarkan AI ke dalam enam bidang utama, mulai dari percepatan penelitian dan pengembangan ilmiah hingga peningkatan kapasitas tata kelola.
Rencana tersebut menetapkan target konkret yang mencolok, termasuk penerapan berbagai aplikasi di 90 persen sektor ekonominya hanya dalam lima tahun.
Ketidakpercayaan Publik
Reli tahun 2015 yang dipicu spekulasi ritel berakhir dengan kejatuhan spektakuler yang menghapus triliunan dolar nilai pasar. Reli 2025, meski lebih dikelola institusi, menyimpan risiko serupa. Bedanya, kali ini penggeraknya adalah modal institusi dan investor kaya, bukan euforia ritel, namun kerentanannya tetap nyata.
Hal yang membedakan reli saat ini adalah ketergantungannya pada AI sebagai jangkar narasi. Perusahaan yang bergerak di bidang AI generatif, desain chip, dan perdagangan algoritmik menjadi favorit pasar. Pemerintah menggelontorkan miliaran dolar ke riset AI dan menempatkannya sebagai pilar daya saing masa depan.
Namun, banyak perusahaan tersebut masih merugi, dinilai terlalu mahal, dan rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Pertumbuhan sektor AI pun lebih banyak digerakkan negara ketimbang permintaan konsumen atau inovasi swasta, dengan transparansi dan akuntabilitas yang terbatas.
Kalangan profesional perkotaan dan pengusaha swasta mulai skeptis terhadap ‘ilusi’ ini. Banyak yang menyadari bahwa sorotan pada AI dan kinerja bursa hanyalah pengalihan dari persoalan yang lebih mendesak: upah riil yang menurun, pasar ekspor yang menyusut, dan profil demografis yang memburuk.
Upaya PKC menekan kritik dan mengendalikan informasi justru memperdalam ketidakpercayaan publik. Media sosial dipenuhi sindiran terselubung, sementara forum ekonomi bawah tanah ramai membahas jurang antara data resmi dan realitas sehari-hari.
Kesenjangan ini bukan semata ekonomi, melainkan juga politik. Legitimasi PKC selama ini bertumpu pada kemampuannya menghadirkan pertumbuhan dan stabilitas. Saat mesin pertumbuhan tradisional melemah, PKC beralih ke kemenangan simbolis: terobosan AI, misi luar angkasa, dan rekor indeks saham.
Semua ini dimaksudkan untuk meyakinkan publik sekaligus menunjukkan relevansi global, namun pada saat yang sama menyingkap ketergantungan rezim pada tontonan ketimbang substansi.
Fatamorgana Strategis
Sejumlah pengamat internasional mulai mempertanyakan keberlanjutan reli yang digerakkan AI ini. Mereka memperingatkan bahwa kenaikan pasar terkonsentrasi di segelintir saham teknologi, sementara indeks yang lebih luas justru stagnan.
Investasi asing tetap berhati-hati karena ketidakpastian regulasi dan ketegangan geopolitik. Nilai yuan terus melemah, bertahan di sekitar 7,37 per dolar AS, dengan proyeksi dapat menembus 7,50. Arus modal keluar meningkat, dan langkah Beijing memperketat transparansi data hanya menambah kecemasan investor.
Reli AI juga tidak mampu menutupi erosi ekonomi riil China. Produksi manufaktur stagnan, pengangguran pemuda meningkat, dan kelas menengah makin terbebani utang serta ketidakpastian perumahan.
Penolakan PKC untuk melakukan reformasi struktural, mulai dari liberalisasi sektor swasta, penguatan jaring pengaman sosial, hingga solusi atas penurunan demografi, membuat ekonomi terjebak dalam perkembangan yang tersendat. AI mungkin menawarkan potensi jangka panjang, tetapi untuk saat ini lebih berfungsi sebagai distraksi yang nyaman.
Singkatnya, reli saham China yang digerakkan AI bukanlah tanda kebangkitan ekonomi, melainkan latihan canggih dalam pengendalian narasi. Menghadapi kegagalan kebijakan dan kekecewaan publik yang kian besar, PKC menggunakan AI sebagai fatamorgana strategis untuk mengalihkan perhatian dari kelemahan sistemik.
Pasar saham mungkin berkilau, namun ekonomi di baliknya terus bergelut dengan krisis yang tak terselesaikan. Dan ketika jarak antara persepsi dan realitas makin melebar, kepemimpinan China mungkin akan mendapati bahwa bahkan algoritma tercanggih pun tak mampu merekayasa kepercayaan.
(mas)
Lihat Juga :