PKC Diduga Gunakan AI untuk Kendalikan Persepsi Kestabilan Pasar China
Minggu, 28 September 2025 - 10:37 WIB
loading...
A
A
A
Pengangguran pemuda tetap di atas 20 persen dan sentimen konsumen berada di titik terendah sejak 2020. Dalam konteks ini, reli saham yang dipicu AI lebih menyerupai ilusi yang disponsori negara ketimbang bukti vitalitas ekonomi.
Strategi PKC bertumpu pada pengelolaan persepsi. Dengan membesar-besarkan keuntungan saham AI dan menonjolkan terobosan teknologi, PKC berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalan kebijakan dan stagnasi ekonomi. Ini bukan pertama kalinya China menggunakan pasar saham sebagai alat politik.
Mengutip laporan dari Carnegie Endowment, Beijing baru-baru ini meluncurkan strategi terbarunya untuk memenangkan persaingan AI. Dewan Negara China yang berpengaruh menetapkan visi ambisius untuk segera menyebarkan AI ke dalam enam bidang utama, mulai dari percepatan penelitian dan pengembangan ilmiah hingga peningkatan kapasitas tata kelola.
Rencana tersebut menetapkan target konkret yang mencolok, termasuk penerapan berbagai aplikasi di 90 persen sektor ekonominya hanya dalam lima tahun.
Reli tahun 2015 yang dipicu spekulasi ritel berakhir dengan kejatuhan spektakuler yang menghapus triliunan dolar nilai pasar. Reli 2025, meski lebih dikelola institusi, menyimpan risiko serupa. Bedanya, kali ini penggeraknya adalah modal institusi dan investor kaya, bukan euforia ritel, namun kerentanannya tetap nyata.
Hal yang membedakan reli saat ini adalah ketergantungannya pada AI sebagai jangkar narasi. Perusahaan yang bergerak di bidang AI generatif, desain chip, dan perdagangan algoritmik menjadi favorit pasar. Pemerintah menggelontorkan miliaran dolar ke riset AI dan menempatkannya sebagai pilar daya saing masa depan.
Namun, banyak perusahaan tersebut masih merugi, dinilai terlalu mahal, dan rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Pertumbuhan sektor AI pun lebih banyak digerakkan negara ketimbang permintaan konsumen atau inovasi swasta, dengan transparansi dan akuntabilitas yang terbatas.
Kalangan profesional perkotaan dan pengusaha swasta mulai skeptis terhadap ‘ilusi’ ini. Banyak yang menyadari bahwa sorotan pada AI dan kinerja bursa hanyalah pengalihan dari persoalan yang lebih mendesak: upah riil yang menurun, pasar ekspor yang menyusut, dan profil demografis yang memburuk.
Upaya PKC menekan kritik dan mengendalikan informasi justru memperdalam ketidakpercayaan publik. Media sosial dipenuhi sindiran terselubung, sementara forum ekonomi bawah tanah ramai membahas jurang antara data resmi dan realitas sehari-hari.
Strategi PKC bertumpu pada pengelolaan persepsi. Dengan membesar-besarkan keuntungan saham AI dan menonjolkan terobosan teknologi, PKC berusaha mengalihkan perhatian dari kegagalan kebijakan dan stagnasi ekonomi. Ini bukan pertama kalinya China menggunakan pasar saham sebagai alat politik.
Mengutip laporan dari Carnegie Endowment, Beijing baru-baru ini meluncurkan strategi terbarunya untuk memenangkan persaingan AI. Dewan Negara China yang berpengaruh menetapkan visi ambisius untuk segera menyebarkan AI ke dalam enam bidang utama, mulai dari percepatan penelitian dan pengembangan ilmiah hingga peningkatan kapasitas tata kelola.
Rencana tersebut menetapkan target konkret yang mencolok, termasuk penerapan berbagai aplikasi di 90 persen sektor ekonominya hanya dalam lima tahun.
Ketidakpercayaan Publik
Reli tahun 2015 yang dipicu spekulasi ritel berakhir dengan kejatuhan spektakuler yang menghapus triliunan dolar nilai pasar. Reli 2025, meski lebih dikelola institusi, menyimpan risiko serupa. Bedanya, kali ini penggeraknya adalah modal institusi dan investor kaya, bukan euforia ritel, namun kerentanannya tetap nyata.
Hal yang membedakan reli saat ini adalah ketergantungannya pada AI sebagai jangkar narasi. Perusahaan yang bergerak di bidang AI generatif, desain chip, dan perdagangan algoritmik menjadi favorit pasar. Pemerintah menggelontorkan miliaran dolar ke riset AI dan menempatkannya sebagai pilar daya saing masa depan.
Namun, banyak perusahaan tersebut masih merugi, dinilai terlalu mahal, dan rentan terhadap gangguan rantai pasok global. Pertumbuhan sektor AI pun lebih banyak digerakkan negara ketimbang permintaan konsumen atau inovasi swasta, dengan transparansi dan akuntabilitas yang terbatas.
Kalangan profesional perkotaan dan pengusaha swasta mulai skeptis terhadap ‘ilusi’ ini. Banyak yang menyadari bahwa sorotan pada AI dan kinerja bursa hanyalah pengalihan dari persoalan yang lebih mendesak: upah riil yang menurun, pasar ekspor yang menyusut, dan profil demografis yang memburuk.
Upaya PKC menekan kritik dan mengendalikan informasi justru memperdalam ketidakpercayaan publik. Media sosial dipenuhi sindiran terselubung, sementara forum ekonomi bawah tanah ramai membahas jurang antara data resmi dan realitas sehari-hari.
Lihat Juga :