Ketegangan Memuncak, Jepang–China Saling Tantang di Laut China Timur
Senin, 22 September 2025 - 09:15 WIB
loading...
Ketegangan militer memuncak, Jepang dan China saling tantang di wilayah sengketa di Laut China Timur. Foto/Defense Mirror
A
A
A
JAKARTA - Ketegangan militer kembali meningkat di Laut China Timur setelah China membangun struktur untuk ekstraksi gas alam di dekat Kepulauan Senkaku, wilayah yang diklaim Jepang sebagai bagian dari kedaulatannya. Tokyo menilai langkah ini sebagai pelanggaran serius dan telah mengajukan protes diplomatik, sembari mempersiapkan langkah pertahanan militer bila situasi memburuk.
China, yang menyebut Kepulauan Senkaku sebagai Diaoyu, bersikeras bahwa kepulauan tersebut telah menjadi bagian dari wilayahnya sejak Dinasti Ming. Pandangan ini memicu kekhawatiran di Tokyo.
Pemerintah Jepang menuduh Beijing melakukan “pengembangan sepihak” ladang gas di wilayah sengketa dan melayangkan “protes keras” kepada Kedutaan Besar China di Tokyo.
Baca Juga: China Kerahkan Kapal Induk dan 4 Kapal Perang ke Laut China Timur, Jepang Lesatkan Jet Tempur
“Sangat disesalkan bahwa China terus melakukan pengembangan sepihak di Laut China Timur, sementara Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan landas kontinen di kawasan itu belum ditetapkan batasnya,” ujar Kementerian Luar Negeri Jepang, dikutip dari Mizzima, Senin, 22 September 2025.
Tokyo juga mendesak Beijing untuk melanjutkan pembicaraan sesuai Perjanjian Pengembangan Sumber Daya Laut China Timur 2008. Namun, China menolak.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan, “Kegiatan eksplorasi minyak dan gas China di Laut China Timur dilakukan di perairan yang tidak disengketakan dan berada di bawah yurisdiksi China.”
Di saat bersamaan, China semakin berani menunjukkan kekuatan militernya di sekitar Kepulauan Senkaku. Baru-baru ini, tiga kapal perang China, termasuk Fujian—kapal induk terbesar dan tercanggih China—terdeteksi hanya 200 km dari kepulauan tersebut.
Sebelumnya, Jepang mencatat kapal China telah berlayar di zona “kontigu” dekat Senkaku sebanyak 355 kali, termasuk selama 215 hari berturut-turut.
Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jepang, Kiyofumi Iwata, memperingatkan adanya potensi operasi pendaratan China. “Langkah logis berikutnya adalah pendaratan dan penguasaan,” ujarnya, seraya menilai bahwa China terus meningkatkan kemampuan militer, termasuk pengiriman kapal, operasi helikopter, dan pelatihan personel khusus untuk misi pendaratan.
Dalam laporan tahunan ancaman keamanan, Jepang menyebut aktivitas militer China sebagai “ancaman serius” bagi keamanannya. Menteri Pertahanan Jepang Gen Nakatani menyoroti peningkatan kapasitas militer China yang “cepat secara kualitas dan kuantitas” dan menyebut lingkungan keamanan Jepang saat ini sebagai “yang paling parah dan kompleks sejak era pasca-perang.”
Menanggapi tekanan, Jepang memperkuat kemampuan militernya, khususnya di sekitar Senkaku. Negeri Sakura tersebut telah mengerahkan drone besar Sea Guardian untuk memantau pelanggaran udara China selama 24 jam penuh, serta menyiapkan kapal Penjaga Pantai yang mengeluarkan peringatan dalam bahasa Mandarin: “Segera tinggalkan perairan teritorial Jepang", diikuti ancaman penggunaan meriam air.
Jepang juga meningkatkan pengeluaran pertahanannya dengan membangun garnisun, menempatkan radar, dan memasang peluncur rudal, selain menggelar latihan Angkatan Laut bersama sekutu.
Ketegangan bilateral ini dikhawatirkan menjadi pemicu konflik yang lebih besar. “Agresivitas China telah membuat hampir semua negara di sekitarnya, dari Jepang hingga Taiwan, merasa terancam,” kata Phillips O’Brien, peneliti senior di Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
China, yang menyebut Kepulauan Senkaku sebagai Diaoyu, bersikeras bahwa kepulauan tersebut telah menjadi bagian dari wilayahnya sejak Dinasti Ming. Pandangan ini memicu kekhawatiran di Tokyo.
Pemerintah Jepang menuduh Beijing melakukan “pengembangan sepihak” ladang gas di wilayah sengketa dan melayangkan “protes keras” kepada Kedutaan Besar China di Tokyo.
Baca Juga: China Kerahkan Kapal Induk dan 4 Kapal Perang ke Laut China Timur, Jepang Lesatkan Jet Tempur
“Sangat disesalkan bahwa China terus melakukan pengembangan sepihak di Laut China Timur, sementara Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan landas kontinen di kawasan itu belum ditetapkan batasnya,” ujar Kementerian Luar Negeri Jepang, dikutip dari Mizzima, Senin, 22 September 2025.
Klaim Pelanggaran Wilayah
Tokyo juga mendesak Beijing untuk melanjutkan pembicaraan sesuai Perjanjian Pengembangan Sumber Daya Laut China Timur 2008. Namun, China menolak.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan, “Kegiatan eksplorasi minyak dan gas China di Laut China Timur dilakukan di perairan yang tidak disengketakan dan berada di bawah yurisdiksi China.”
Di saat bersamaan, China semakin berani menunjukkan kekuatan militernya di sekitar Kepulauan Senkaku. Baru-baru ini, tiga kapal perang China, termasuk Fujian—kapal induk terbesar dan tercanggih China—terdeteksi hanya 200 km dari kepulauan tersebut.
Sebelumnya, Jepang mencatat kapal China telah berlayar di zona “kontigu” dekat Senkaku sebanyak 355 kali, termasuk selama 215 hari berturut-turut.
Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Jepang, Kiyofumi Iwata, memperingatkan adanya potensi operasi pendaratan China. “Langkah logis berikutnya adalah pendaratan dan penguasaan,” ujarnya, seraya menilai bahwa China terus meningkatkan kemampuan militer, termasuk pengiriman kapal, operasi helikopter, dan pelatihan personel khusus untuk misi pendaratan.
Agresivitas China
Dalam laporan tahunan ancaman keamanan, Jepang menyebut aktivitas militer China sebagai “ancaman serius” bagi keamanannya. Menteri Pertahanan Jepang Gen Nakatani menyoroti peningkatan kapasitas militer China yang “cepat secara kualitas dan kuantitas” dan menyebut lingkungan keamanan Jepang saat ini sebagai “yang paling parah dan kompleks sejak era pasca-perang.”
Menanggapi tekanan, Jepang memperkuat kemampuan militernya, khususnya di sekitar Senkaku. Negeri Sakura tersebut telah mengerahkan drone besar Sea Guardian untuk memantau pelanggaran udara China selama 24 jam penuh, serta menyiapkan kapal Penjaga Pantai yang mengeluarkan peringatan dalam bahasa Mandarin: “Segera tinggalkan perairan teritorial Jepang", diikuti ancaman penggunaan meriam air.
Jepang juga meningkatkan pengeluaran pertahanannya dengan membangun garnisun, menempatkan radar, dan memasang peluncur rudal, selain menggelar latihan Angkatan Laut bersama sekutu.
Ketegangan bilateral ini dikhawatirkan menjadi pemicu konflik yang lebih besar. “Agresivitas China telah membuat hampir semua negara di sekitarnya, dari Jepang hingga Taiwan, merasa terancam,” kata Phillips O’Brien, peneliti senior di Centre for Strategic and International Studies (CSIS).
(mas)
Lihat Juga :