Jacinda Ardern: Genosida Terjadi Setiap Hari di Hadapan Kita di Gaza
Minggu, 21 September 2025 - 12:39 WIB
loading...
Mantan perdana menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, ikut menyimpulkan perang brutal Israel di Jalur Gaza sebagai genosida terhadap rakyat Palestina. Foto/Facebook Jacinda Ardern
A
A
A
WELLINGTON - Mantan perdana menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, ikut menyimpulkan perang brutal Israel di Jalur Gaza sebagai genosida terhadap rakyat Palestina. Dia sependapat dengan kesimpulan Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB dan organisasi-organisasi HAM internasional.
"Ada jalan untuk menghentikan genosida yang masih terjadi setiap hari di hadapan kita di Jalur Gaza," tulis Ardern dalam artikel opini di The Guardian.
Dia menyatakan jalan tersebut mencakup lebih banyak negara yang mengakui Negara Palestina.
Baca Juga: Hamas Rilis Foto Perpisahan 47 Sandera Israel saat Kota Gaza Diserang Secara Membabi Buta
“Kerja sama apa pun yang memfasilitasi aksi militer harus diakhiri; bantuan kemanusiaan perlu segera menjangkau mereka yang terjebak dan kelaparan; dan perawatan medis harus tersedia bagi mereka yang terluka, yang kekurangan gizi, serta bagi ibu hamil dan yang baru melahirkan,” lanjut dia.
Dia menekankan bahwa ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk Sidang Umum ke-80 PBB besok, “Kita harus terus menyerukan kepada mereka yang berkuasa untuk menanggapi krisis kemanusiaan ini, mulai dari konflik di Ukraina hingga bencana alam yang disebabkan oleh krisis iklim.”
“Kita harus mulai dengan Gaza,” tulis Ardern, yang dikutip Anadolu, Minggu (21/9/2025).
"Kita mungkin hidup di dunia yang dilanda krisis kemanusiaan, tetapi kita harus melawan angka dehumanisasi."
Rezim Zionis Israel menolak narasi genosida atas perang brutalnya di Gaza. Sikapnya tersebut didukung sekutu utamanya, Amerika Serikat, yang sudah keenam kalinya memveto resolusi gencatan senjata Gaza dalam forum Dewan Keamanan PBB.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melakukan genosida di Gaza, menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Serangan tersebut telah menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi dan menyebabkan kelaparan yang telah merenggut nyawa sedikitnya 435 orang, termasuk 147 anak-anak.
Selama lebih dari empat tahun menjabat sebagai perdana menteri Selandia Baru, Ardern menuai pujian atas penanganannya terhadap epidemi Covid, sebelum meninggalkan jabatannya pada tahun 2023. Kini, dia bersuara menentang perang di Gaza dan Ukraina.
"Ada jalan untuk menghentikan genosida yang masih terjadi setiap hari di hadapan kita di Jalur Gaza," tulis Ardern dalam artikel opini di The Guardian.
Dia menyatakan jalan tersebut mencakup lebih banyak negara yang mengakui Negara Palestina.
Baca Juga: Hamas Rilis Foto Perpisahan 47 Sandera Israel saat Kota Gaza Diserang Secara Membabi Buta
“Kerja sama apa pun yang memfasilitasi aksi militer harus diakhiri; bantuan kemanusiaan perlu segera menjangkau mereka yang terjebak dan kelaparan; dan perawatan medis harus tersedia bagi mereka yang terluka, yang kekurangan gizi, serta bagi ibu hamil dan yang baru melahirkan,” lanjut dia.
Dia menekankan bahwa ketika para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk Sidang Umum ke-80 PBB besok, “Kita harus terus menyerukan kepada mereka yang berkuasa untuk menanggapi krisis kemanusiaan ini, mulai dari konflik di Ukraina hingga bencana alam yang disebabkan oleh krisis iklim.”
“Kita harus mulai dengan Gaza,” tulis Ardern, yang dikutip Anadolu, Minggu (21/9/2025).
"Kita mungkin hidup di dunia yang dilanda krisis kemanusiaan, tetapi kita harus melawan angka dehumanisasi."
Rezim Zionis Israel menolak narasi genosida atas perang brutalnya di Gaza. Sikapnya tersebut didukung sekutu utamanya, Amerika Serikat, yang sudah keenam kalinya memveto resolusi gencatan senjata Gaza dalam forum Dewan Keamanan PBB.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melakukan genosida di Gaza, menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Serangan tersebut telah menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi dan menyebabkan kelaparan yang telah merenggut nyawa sedikitnya 435 orang, termasuk 147 anak-anak.
Selama lebih dari empat tahun menjabat sebagai perdana menteri Selandia Baru, Ardern menuai pujian atas penanganannya terhadap epidemi Covid, sebelum meninggalkan jabatannya pada tahun 2023. Kini, dia bersuara menentang perang di Gaza dan Ukraina.
(mas)
Lihat Juga :