Rusia Diduga Bantu Korut Bangun Kapal Selam Nuklir, Sekutu AS Cemas
Kamis, 18 September 2025 - 18:37 WIB
loading...
A
A
A
Hong mencatat bahwa kapasitas pembangunan kapal Korea Utara yang terbatas telah menghambat kemampuannya untuk membangun kapal selam peluncur rudal secara mandiri. Dia merujuk pada Kapal Pahlawan Kim Kun-ok—yang diresmikan pada tahun 2023 sebagai kapal selam serang nuklir taktis pertama Korea Utara—yang belum ada tanda-tanda pengerahan di laut.
Kapal tersebut dimodifikasi secara kasar dari kapal selam kelas Romeo bertenaga diesel era Soviet dan kemampuan peluncuran rudalnya belum pernah diverifikasi.
Publikasi gambar media pemerintah Korea Utara pada bulan Maret yang menunjukkan Kim Jong-un sedang meninjau lokasi yang digambarkan sebagai lokasi pembangunan kapal selam berpeluru kendali bertenaga nuklir menandai babak baru dalam ambisi Angkatan Laut Korea Utara. Negara ini telah lama menganggap upayanya untuk mendapatkan platform semacam itu penting untuk melengkapi penangkal nuklirnya.
Para pakar memperingatkan bahwa Korea Utara masih kekurangan kapasitas teknis untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir yang berfungsi dalam waktu dekat. Tantangan paling krusial adalah reaktor kompak berdaya rendah untuk penggunaan kapal selam–sebuah teknologi yang belum dikuasai Pyongyang.
Namun, persamaan itu bisa berubah jika Korea Utara telah memperoleh modul Rusia sebagai imbalan atas pengiriman sebanyak 14.000 tentaranya untuk mendukung perang Rusia melawan Ukraina.
“Korea Utara dapat merekayasa ulang reaktor Rusia—membongkarnya untuk menghasilkan cetak biru—dan mengujinya untuk memperoleh pengetahuan yang relevan,” kata Hong.
Lee Il-woo, seorang peneliti di Korea Defence Network, menyatakan bahwa Rusia mungkin telah menyediakan modul reaktor atau bahkan salah satu kapal selam kelas Delta-IV yang sudah tua kepada Korea Utara.
Kapal tersebut dimodifikasi secara kasar dari kapal selam kelas Romeo bertenaga diesel era Soviet dan kemampuan peluncuran rudalnya belum pernah diverifikasi.
Publikasi gambar media pemerintah Korea Utara pada bulan Maret yang menunjukkan Kim Jong-un sedang meninjau lokasi yang digambarkan sebagai lokasi pembangunan kapal selam berpeluru kendali bertenaga nuklir menandai babak baru dalam ambisi Angkatan Laut Korea Utara. Negara ini telah lama menganggap upayanya untuk mendapatkan platform semacam itu penting untuk melengkapi penangkal nuklirnya.
Para pakar memperingatkan bahwa Korea Utara masih kekurangan kapasitas teknis untuk membangun kapal selam bertenaga nuklir yang berfungsi dalam waktu dekat. Tantangan paling krusial adalah reaktor kompak berdaya rendah untuk penggunaan kapal selam–sebuah teknologi yang belum dikuasai Pyongyang.
Namun, persamaan itu bisa berubah jika Korea Utara telah memperoleh modul Rusia sebagai imbalan atas pengiriman sebanyak 14.000 tentaranya untuk mendukung perang Rusia melawan Ukraina.
“Korea Utara dapat merekayasa ulang reaktor Rusia—membongkarnya untuk menghasilkan cetak biru—dan mengujinya untuk memperoleh pengetahuan yang relevan,” kata Hong.
Lee Il-woo, seorang peneliti di Korea Defence Network, menyatakan bahwa Rusia mungkin telah menyediakan modul reaktor atau bahkan salah satu kapal selam kelas Delta-IV yang sudah tua kepada Korea Utara.
Lihat Juga :