Lebih Berbahaya Dibanding S-300, Pertahanan Udara Israel di Siprus Bisa Capai Turki
Selasa, 16 September 2025 - 20:20 WIB
loading...
Sistem pertahanan udara Barak MX buatan Israel. Foto/iai
A
A
A
NIKOSIA - Israel mengirimkan sistem pertahanan udara canggih ke Siprus pekan lalu, menandai pengiriman ketiga sejak Desember di tengah meningkatnya ketegangan dengan Turki. Kabar itu diungkap sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Middle East Eye (MEE).
Video yang dipublikasikan pada hari Kamis (11/9/2025) menunjukkan satu truk melewati pelabuhan Limassol mengangkut komponen sistem Barak MX, pencegat udara yang mampu menyerang ancaman hingga jarak 150 km.
Situs berita Siprus, Reporter, mengonfirmasi sistem Barak MX kini telah sepenuhnya terkirim dan diperkirakan akan beroperasi tahun ini.
Pengiriman ini dilakukan setelah Shay Gal, wakil presiden hubungan eksternal di Israel Aerospace Industries (IAI), yang memproduksi Barak MX, berpendapat dalam artikel di bulan Juli bahwa Israel harus mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap Siprus dan menyusun rencana militer untuk "membebaskan" wilayah utara pulau itu dari pasukan Turki.
"Israel, berkoordinasi dengan Yunani dan Siprus, harus mempersiapkan operasi darurat untuk membebaskan wilayah utara pulau itu," tulis Gal.
"Operasi semacam itu akan menetralkan kemampuan bala bantuan Turki dari daratan, melenyapkan sistem pertahanan udara di Siprus utara, menghancurkan pusat intelijen dan komando, dan pada akhirnya menyingkirkan pasukan Turki, memulihkan kedaulatan Siprus yang diakui secara internasional," ujar dia.
Turki menginvasi Siprus pada tahun 1974 setelah kudeta yang gagal yang bertujuan menyatukan pulau itu dengan Yunani.
Sejak saat itu, Siprus tetap terbagi antara Republik Siprus yang diakui secara internasional di selatan dan Republik Turki Siprus Utara, yang hanya diakui Ankara.
Sejauh ini, Ankara masih bungkam mengenai sistem yang baru dikerahkan, yang menjalankan fungsi pengawasan canggih dan pengumpulan intelijen melalui radar 3D mereka.
Dengan jangkauan hingga 460 km, sistem ini menyediakan "payung digital" yang mencakup sebagian besar wilayah udara Turki selatan.
Turki dan Siprus selatan hampir berperang pada tahun 1997 setelah Siprus selatan berupaya memperoleh dua sistem rudal pertahanan udara S-300 buatan Rusia, yang memicu ancaman respons militer habis-habisan dari Ankara.
Krisis berakhir ketika Yunani menerima S-300 di wilayahnya, sementara Siprus mencari sistem alternatif.
“Sistem ini jauh lebih berbahaya daripada S-300, yang (Siprus selatan) pesan dari Rusia pada tahun 1997 tetapi tidak pernah dikerahkan,” ungkap Arda Mevlutoglu, analis pertahanan terkemuka Turki.
Dia menjelaskan, “Mengingat kondisi hubungan militer antara Israel dan pemerintahan Siprus Yunani saat ini, sistem pertahanan udara dan radar yang kuat ini niscaya akan menjadi elemen sentral jaringan intelijen Israel di Mediterania timur.”
Menurut Mevlutoglu, Barak MX menimbulkan ancaman signifikan bagi pasukan udara dan darat Turki, baik di Siprus maupun di Mediterania timur yang lebih luas, karena radarnya juga mampu mendeteksi tembakan artileri, mortir, dan baterai roket dalam jarak 100 km.
Namun, Reporter mengutip sumber yang menyatakan Barak MX versi Siprus mungkin tidak mencakup semua fitur yang diiklankan, karena sistem tersebut dirancang khusus untuk setiap negara klien.
Yanki Bagcioglu, pensiunan laksamana muda dan wakil ketua partai oposisi Turki CHP, menyebut pengerahan sistem tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
"Langkah ini akan mengganggu keseimbangan yang rapuh di Mediterania timur dan Siprus, sekaligus secara langsung mengancam keamanan nasional Turki," ujarnya.
Menteri Pertahanan Siprus Vasilis Palmas membela akuisisi tersebut pada hari Selasa, dengan alasan pemerintahnya memiliki kewajiban mengembangkan kemampuan pencegahan yang kredibel karena "Turki terus menduduki" pulau tersebut.
Ketika ditanya apakah pembelian Barak MX merupakan bagian dari kerangka kerja pertahanan dengan Israel, Palmas menekankan keputusan Siprus terkait persenjataan merupakan masalah kedaulatan.
"Konfrontasi apa pun antara Israel dan Turki tidak menjadi perhatian kami, kecuali dalam artian kami mengikuti perkembangan geopolitik di kawasan kami. Tugas utama kami adalah melindungi diri kami sendiri," ujarnya.
Sumber keamanan Turki mengatakan kepada media Turki bahwa sistem tersebut saat ini sedang menjalani uji coba di pangkalan udara Paphos dan belum dioperasikan secara aktif.
Mereka menambahkan pengiriman selanjutnya dari Israel sedang dipantau secara ketat.
Baca juga: Menlu Turki: Israel Berusaha Ekspansi Menjadi Israel Raya
Video yang dipublikasikan pada hari Kamis (11/9/2025) menunjukkan satu truk melewati pelabuhan Limassol mengangkut komponen sistem Barak MX, pencegat udara yang mampu menyerang ancaman hingga jarak 150 km.
Situs berita Siprus, Reporter, mengonfirmasi sistem Barak MX kini telah sepenuhnya terkirim dan diperkirakan akan beroperasi tahun ini.
Pengiriman ini dilakukan setelah Shay Gal, wakil presiden hubungan eksternal di Israel Aerospace Industries (IAI), yang memproduksi Barak MX, berpendapat dalam artikel di bulan Juli bahwa Israel harus mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap Siprus dan menyusun rencana militer untuk "membebaskan" wilayah utara pulau itu dari pasukan Turki.
"Israel, berkoordinasi dengan Yunani dan Siprus, harus mempersiapkan operasi darurat untuk membebaskan wilayah utara pulau itu," tulis Gal.
"Operasi semacam itu akan menetralkan kemampuan bala bantuan Turki dari daratan, melenyapkan sistem pertahanan udara di Siprus utara, menghancurkan pusat intelijen dan komando, dan pada akhirnya menyingkirkan pasukan Turki, memulihkan kedaulatan Siprus yang diakui secara internasional," ujar dia.
Turki menginvasi Siprus pada tahun 1974 setelah kudeta yang gagal yang bertujuan menyatukan pulau itu dengan Yunani.
Sejak saat itu, Siprus tetap terbagi antara Republik Siprus yang diakui secara internasional di selatan dan Republik Turki Siprus Utara, yang hanya diakui Ankara.
Sejauh ini, Ankara masih bungkam mengenai sistem yang baru dikerahkan, yang menjalankan fungsi pengawasan canggih dan pengumpulan intelijen melalui radar 3D mereka.
Dengan jangkauan hingga 460 km, sistem ini menyediakan "payung digital" yang mencakup sebagian besar wilayah udara Turki selatan.
Turki dan Siprus selatan hampir berperang pada tahun 1997 setelah Siprus selatan berupaya memperoleh dua sistem rudal pertahanan udara S-300 buatan Rusia, yang memicu ancaman respons militer habis-habisan dari Ankara.
Krisis berakhir ketika Yunani menerima S-300 di wilayahnya, sementara Siprus mencari sistem alternatif.
“Sistem ini jauh lebih berbahaya daripada S-300, yang (Siprus selatan) pesan dari Rusia pada tahun 1997 tetapi tidak pernah dikerahkan,” ungkap Arda Mevlutoglu, analis pertahanan terkemuka Turki.
Dia menjelaskan, “Mengingat kondisi hubungan militer antara Israel dan pemerintahan Siprus Yunani saat ini, sistem pertahanan udara dan radar yang kuat ini niscaya akan menjadi elemen sentral jaringan intelijen Israel di Mediterania timur.”
Menurut Mevlutoglu, Barak MX menimbulkan ancaman signifikan bagi pasukan udara dan darat Turki, baik di Siprus maupun di Mediterania timur yang lebih luas, karena radarnya juga mampu mendeteksi tembakan artileri, mortir, dan baterai roket dalam jarak 100 km.
Namun, Reporter mengutip sumber yang menyatakan Barak MX versi Siprus mungkin tidak mencakup semua fitur yang diiklankan, karena sistem tersebut dirancang khusus untuk setiap negara klien.
Yanki Bagcioglu, pensiunan laksamana muda dan wakil ketua partai oposisi Turki CHP, menyebut pengerahan sistem tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
"Langkah ini akan mengganggu keseimbangan yang rapuh di Mediterania timur dan Siprus, sekaligus secara langsung mengancam keamanan nasional Turki," ujarnya.
Menteri Pertahanan Siprus Vasilis Palmas membela akuisisi tersebut pada hari Selasa, dengan alasan pemerintahnya memiliki kewajiban mengembangkan kemampuan pencegahan yang kredibel karena "Turki terus menduduki" pulau tersebut.
Ketika ditanya apakah pembelian Barak MX merupakan bagian dari kerangka kerja pertahanan dengan Israel, Palmas menekankan keputusan Siprus terkait persenjataan merupakan masalah kedaulatan.
"Konfrontasi apa pun antara Israel dan Turki tidak menjadi perhatian kami, kecuali dalam artian kami mengikuti perkembangan geopolitik di kawasan kami. Tugas utama kami adalah melindungi diri kami sendiri," ujarnya.
Sumber keamanan Turki mengatakan kepada media Turki bahwa sistem tersebut saat ini sedang menjalani uji coba di pangkalan udara Paphos dan belum dioperasikan secara aktif.
Mereka menambahkan pengiriman selanjutnya dari Israel sedang dipantau secara ketat.
Baca juga: Menlu Turki: Israel Berusaha Ekspansi Menjadi Israel Raya
(sya)
Lihat Juga :