Viral, 1 Napi Nepal Ketuk Pintu dan Masuk Penjara Lagi setelah Ikut Kabur Massal

Jum'at, 12 September 2025 - 08:46 WIB
loading...
Viral, 1 Napi Nepal...
Sekitar 15.000 napi kabur massal dari berbagai penjara Nepal selama demo rusuh. Satu di antaranya memilih kembali keesokan harinya. Foto/The Himalayan Times/Skanda Gautam
A A A
KATHMANDU - Setidaknya 15.000 narapidana (napi) melarikan diri dari lebih dari dua lusin penjara di seluruh Nepal setelah pembobolan penjara massal ketika para demonstran Gen-Z turun ke jalan untuk memprotes korupsi dan larangan media sosial. Demo ini berhasil memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri.

Dalam sebuah kejadian aneh di Dhangadhi, ibu kota Kailali, Provinsi Nepal paling barat, salah satu dari 692 narapidana yang melarikan diri dari penjara kota selama protes tersebut memilih kembali ke penjara. Alasannya, dia takut dihukum dua kali karena melarikan diri setelah pemerintahan berikutnya terbentuk.

Di Penjara Dhangadhi, 697 narapidana dijebloskan ke penjara sebelum bentrokan pecah, sementara hanya lima yang tersisa setelah pembobolan penjara.

Baca Juga: Gaya Hidup 'Nepo Kids' Nepal Bikin Marah Demonstran Gen-Z: dari Tas Desainer hingga Mobil Mewah

Setelah memutuskan untuk menyerah, napi yang identitasnya belum diungkapkan itu kembali dengan mengetuk pintu fasilitas penjara keesokan paginya ketika dia menyadari kesalahannya. Dia ditemani oleh dua anggota keluarganya.

Dia menyadari bahwa meskipun dia kini bebas, jika polisi menangkapnya lagi, hal itu dapat menyebabkan tuduhan baru atas pembobolan penjara, dan hukumannya dapat diperpanjang. Aksinya kembali ke penjara telah viral di berbagai media sosial.

Setibanya di penjara, beberapa petugas keamanan berada di dalam, tetapi gerbang luar terkunci. Dia berteriak beberapa kali untuk menyerah, tetapi mereka mengabaikannya. Akhirnya, seorang penjaga mendekat, menanyakan mengapa dia ingin kembali. Penjaga itu kemudian menyampaikan situasi tersebut kepada petugasnya untuk menempatkan napi tersebut kembali ke penjara.

Keluarganya mengatakan kepada NDTV, Jumat (12/9/2025), bahwa keputusan napi tersebut berawal dari kekhawatiran bahwa hukumannya akan bertambah jika dia tertangkap ketika pemerintahan berikutnya berkuasa.

"Pemerintah berikutnya mungkin akan menganggapnya sebagai warga negara yang telah direformasi dan memberikan pengampunan," jelas salah satu anggota keluarga.

Setidaknya delapan narapidana tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan sejak kekerasan pecah pada hari Selasa.

Lebih dari dua lusin penjara di seluruh negeri telah menyaksikan bentrokan dan pelarian massal, dengan ribuan napi melarikan diri di tengah serangan pembakaran dan kerusuhan, menurut laporan kantor berita PTI.

"Pelarian penjara dimulai ketika para demonstran muda menyerbu beberapa fasilitas penjara, membakar gedung-gedung administrasi, dan mendobrak gerbang penjara. Hingga Rabu malam, laporan awal mengonfirmasi bahwa lebih dari 15.000 narapidana telah melarikan diri dari lebih dari 25 penjara, dengan hanya sebagian kecil yang kembali secara sukarela atau ditangkap kembali," tulis harian Nepal, The Kathmandu Post.

Di antara napi yang melarikan diri utama yang terdaftar oleh surat kabar tersebut adalah Pusat Reformasi Remaja Banke (122), Penjara Distrik Banke (436), dan Penjara Pusat Lembah Kathmandu di Sundhara (3.300), Penjara Nakkhu di Lalitpur (1.400), dan Penjara Dillibazar (1.100).

Militer Nepal pada Kamis mengatakan telah menangkap kembali hampir 200 tahanan setelah pembobolan penjara massal selama protes mematikan, hanya sebagian kecil dari ribuan tahanan yang melarikan diri.

Hal ini menambah tantangan yang dihadapi militer dan polisi dalam upaya mereka memulihkan ketertiban pasca-protes paling keras dalam beberapa dekade.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Presiden Ini Rela Potong...
Presiden Ini Rela Potong Gaji 50% usai Dituntut Lengser oleh Rakyat
RSP Menang Pemilu, Pengaruh...
RSP Menang Pemilu, Pengaruh China di Nepal Berpotensi Menurun
10 Negara yang Memiliki...
10 Negara yang Memiliki Bendera Paling Unik, Nomor 4 Bergambar Naga
Tren Wewangian Gen Z:...
Tren Wewangian Gen Z: Ekspresi Diri Melalui Pilihan Aroma Harian
AS Rilis 14 Poin Perjanjian...
AS Rilis 14 Poin Perjanjian yang Disepakati dengan Iran untuk Akhiri Perang
Wapres AS Blak-blakan:...
Wapres AS Blak-blakan: Trump Tak Akur dengan Netanyahu soal Perang Iran
Rekomendasi
Widyawati Pantau Tio...
Widyawati Pantau Tio Pakusadewo dari Grup WA, Bersyukur Kondisinya Kini Membaik
Prabowo Gandeng Imperial...
Prabowo Gandeng Imperial College London Bangun 10 Universitas Kedokteran di Indonesia
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
Berita Terkini
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Keir Starmer, PM yang...
Keir Starmer, PM yang Baik, tapi Kenapa Dibenci?
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Infografis
Rusia Tembak Jatuh 1...
Rusia Tembak Jatuh 1 Jet Tempur dan 100 Drone Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved