Gaya Hidup 'Nepo Kids' Nepal Bikin Marah Demonstran Gen-Z: dari Tas Desainer hingga Mobil Mewah
Jum'at, 12 September 2025 - 08:12 WIB
loading...
Pamer gaya hidup mewah nepo kids Nepal di media sosial memantik kemarahan demonstran Gen-Z. Foto/NDTV
A
A
A
KATHMANDU - Nepal telah dilanda demonstrasi berdarah yang dipimpin kaum Gen-Z selama pekan ini. Mereka marah atas inefisiensi pemerintah, yang dengan cepat meluas menjadi gerakan nasional.
Protes Gen-Z berhasil memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri. Tindakan keras polisi terhadap para demonstran menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai lebih dari 1.000 lainnya.
Kerusuhan tersebut mengakibatkan gedung-gedung pemerintahan, kediaman pribadi politisi senior, dan bahkan hotel-hotel di pusat wisata dibakar.
Baca Juga: Demo Gen-Z Nepal: Elite Politik Diburu dari Parlemen hingga Hotel Mewah
Gedung Parlemen juga dibakar massa. Saat ini, negara tersebut tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi, dengan militer turun tangan untuk memberlakukan jam malam dan bernegosiasi dengan para pengunjuk rasa.
Inti dari pergolakan ini adalah kebencian lintas generasi karena sementara rakyat Nepal berjuang melawan pengangguran, inflasi yang meningkat, dan kemiskinan yang parah, anak-anak elite politik—atau "nepo kids (anak nepo)"—memamerkan mobil mewah, tas desainer, dan liburan internasional di media sosial.
Unggahan dan video yang menyoroti gaya hidup mewah anak-anak elite politik tersebar luas di TikTok, Instagram, Reddit, dan X. Tagar seperti #PoliticiansNepoBabyNepal dan #NepoBabies menarik jutaan penayangan.
Unggahan-unggahan ini menampilkan mobil mewah, pakaian desainer mahal, restoran mewah di luar negeri, dan destinasi liburan eksklusif. Banyak yang disandingkan dengan gambaran rakyat Nepal biasa yang berjuang melawan banjir, pemadaman listrik, dan melonjaknya harga pangan.
Misalnya, Shrinkhala Khatiwada, mantan Miss Nepal berusia 29 tahun yang juga putri mantan menteri kesehatan Birodh Khatiwada, dituding oleh para pengunjuk rasa sebagai simbol privilege kaum elite.
Unggahan-unggahan viral menunjukkan perjalanannya ke luar negeri dan gaya hidup mewahnya. Rumah keluarganya termasuk di antara yang dibakar selama protes, dan dia dilaporkan kehilangan lebih dari 100.000 pengikut di Instagram saat protes berkecamuk.
Shivana Shrestha, penyanyi populer dan menantu mantan Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba, sering mengunggah video yang menampilkan rumah-rumah mewah dan busana mahal. Dia dan suaminya, Jaiveer Singh Deuba, menjadi sasaran daring sebagai contoh keluarga politik yang hidup dalam kekayaan.
Smita Dahal, cucu dari pemimpin Partai Komunis dan mantan Perdana Menteri Pushpa Kamal Dahal "Prachanda", dikritik karena memamerkan tas tangan mahal di media sosial sementara rakyat jelata Nepal berjuang mencari pekerjaan.
Saugat Thapa, putra Menteri Hukum Bindu Kumar Thapa, digambarkan di dunia maya menjalani kehidupan mewah dikelilingi barang-barang mewah. Foto-fotonya beredar luas seiring meningkatnya protes.
Di seluruh Kathmandu dan sekitarnya, para pengunjuk rasa membakar rumah-rumah keluarga ini, menyatakan bahwa sementara "masyarakat umum sekarat dalam kemiskinan, anak-anak nepo ini mengenakan pakaian senilai ratusan ribu."
Menurut Transparency International, Nepal secara konsisten menempati peringkat di antara negara-negara terkorup di Asia.
Sebuah laporan oleh New York Times menyatakan bahwa penyelidikan Parlemen menghasilkan temuan bahwa setidaknya USD71 juta telah digelapkan selama pembangunan Bandara Internasional Pokhara.
Dalam kasus lain, para politisi terlibat dalam penjualan kuota pengungsi yang diperuntukkan bagi warga etnis Nepal yang terusir dari Bhutan.
Meskipun sering terekspos, penuntutan jarang terjadi, yang memicu keyakinan bahwa kelas politik terlindungi dari akuntabilitas.
Seiring meluasnya kekerasan, PM Oli mengundurkan diri setelah empat periode jabatan terpisah. Para menteri senior lainnya juga mengundurkan diri, membuat Nepal praktis tanpa pemimpin.
Presiden Ramchandra Paudel (80) telah mengimbau agar tercipta ketenangan dan ketertiban konstitusional.
"Saya sedang berkonsultasi dan melakukan segala upaya untuk menemukan jalan keluar dari situasi sulit saat ini," ujarnya, yang dilansir NDTV, Jumat (12/9/2025).
Dia mendesak warga untuk menahan diri dan bekerja sama untuk menjaga perdamaian.
Tanpa Parlemen dan kabinet yang terbentuk, militer telah memberlakukan jam malam di Kathmandu dan kota-kota lain. Tentara berpatroli di jalan-jalan, sementara perintah larangan tetap berlaku di sebagian besar wilayah.
Protes Gen-Z berhasil memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri. Tindakan keras polisi terhadap para demonstran menewaskan sedikitnya 31 orang dan melukai lebih dari 1.000 lainnya.
Kerusuhan tersebut mengakibatkan gedung-gedung pemerintahan, kediaman pribadi politisi senior, dan bahkan hotel-hotel di pusat wisata dibakar.
Baca Juga: Demo Gen-Z Nepal: Elite Politik Diburu dari Parlemen hingga Hotel Mewah
Gedung Parlemen juga dibakar massa. Saat ini, negara tersebut tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi, dengan militer turun tangan untuk memberlakukan jam malam dan bernegosiasi dengan para pengunjuk rasa.
Inti dari pergolakan ini adalah kebencian lintas generasi karena sementara rakyat Nepal berjuang melawan pengangguran, inflasi yang meningkat, dan kemiskinan yang parah, anak-anak elite politik—atau "nepo kids (anak nepo)"—memamerkan mobil mewah, tas desainer, dan liburan internasional di media sosial.
Unggahan dan video yang menyoroti gaya hidup mewah anak-anak elite politik tersebar luas di TikTok, Instagram, Reddit, dan X. Tagar seperti #PoliticiansNepoBabyNepal dan #NepoBabies menarik jutaan penayangan.
Unggahan-unggahan ini menampilkan mobil mewah, pakaian desainer mahal, restoran mewah di luar negeri, dan destinasi liburan eksklusif. Banyak yang disandingkan dengan gambaran rakyat Nepal biasa yang berjuang melawan banjir, pemadaman listrik, dan melonjaknya harga pangan.
Misalnya, Shrinkhala Khatiwada, mantan Miss Nepal berusia 29 tahun yang juga putri mantan menteri kesehatan Birodh Khatiwada, dituding oleh para pengunjuk rasa sebagai simbol privilege kaum elite.
Unggahan-unggahan viral menunjukkan perjalanannya ke luar negeri dan gaya hidup mewahnya. Rumah keluarganya termasuk di antara yang dibakar selama protes, dan dia dilaporkan kehilangan lebih dari 100.000 pengikut di Instagram saat protes berkecamuk.
Shivana Shrestha, penyanyi populer dan menantu mantan Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba, sering mengunggah video yang menampilkan rumah-rumah mewah dan busana mahal. Dia dan suaminya, Jaiveer Singh Deuba, menjadi sasaran daring sebagai contoh keluarga politik yang hidup dalam kekayaan.
Smita Dahal, cucu dari pemimpin Partai Komunis dan mantan Perdana Menteri Pushpa Kamal Dahal "Prachanda", dikritik karena memamerkan tas tangan mahal di media sosial sementara rakyat jelata Nepal berjuang mencari pekerjaan.
Saugat Thapa, putra Menteri Hukum Bindu Kumar Thapa, digambarkan di dunia maya menjalani kehidupan mewah dikelilingi barang-barang mewah. Foto-fotonya beredar luas seiring meningkatnya protes.
Di seluruh Kathmandu dan sekitarnya, para pengunjuk rasa membakar rumah-rumah keluarga ini, menyatakan bahwa sementara "masyarakat umum sekarat dalam kemiskinan, anak-anak nepo ini mengenakan pakaian senilai ratusan ribu."
Korupsi, Ketimpangan, dan Titik Puncak
Menurut Transparency International, Nepal secara konsisten menempati peringkat di antara negara-negara terkorup di Asia.
Sebuah laporan oleh New York Times menyatakan bahwa penyelidikan Parlemen menghasilkan temuan bahwa setidaknya USD71 juta telah digelapkan selama pembangunan Bandara Internasional Pokhara.
Dalam kasus lain, para politisi terlibat dalam penjualan kuota pengungsi yang diperuntukkan bagi warga etnis Nepal yang terusir dari Bhutan.
Meskipun sering terekspos, penuntutan jarang terjadi, yang memicu keyakinan bahwa kelas politik terlindungi dari akuntabilitas.
Seiring meluasnya kekerasan, PM Oli mengundurkan diri setelah empat periode jabatan terpisah. Para menteri senior lainnya juga mengundurkan diri, membuat Nepal praktis tanpa pemimpin.
Presiden Ramchandra Paudel (80) telah mengimbau agar tercipta ketenangan dan ketertiban konstitusional.
"Saya sedang berkonsultasi dan melakukan segala upaya untuk menemukan jalan keluar dari situasi sulit saat ini," ujarnya, yang dilansir NDTV, Jumat (12/9/2025).
Dia mendesak warga untuk menahan diri dan bekerja sama untuk menjaga perdamaian.
Tanpa Parlemen dan kabinet yang terbentuk, militer telah memberlakukan jam malam di Kathmandu dan kota-kota lain. Tentara berpatroli di jalan-jalan, sementara perintah larangan tetap berlaku di sebagian besar wilayah.
(mas)
Lihat Juga :