Houthi Merudal Kapal Tanker Israel usai PM dan Para Menterinya Dibunuh Zionis
Selasa, 02 September 2025 - 09:52 WIB
loading...
A
A
A
Serangan ini merupakan yang terbaru dari serangkaian operasi Houthi di Laut Merah. Kelompok tersebut telah menenggelamkan dua kapal tanker pada bulan Juli dan telah berjanji untuk terus menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Israel sebagai bagian dari dukungan yang dinyatakan untuk Palestina dan penentangan terhadap genosida Israel di Gaza.
Pada hari Sabtu, Houthi mengumumkan bahwa PM Ahmed Ghaleb al-Rahawi dan pejabat tinggi lainnya telah meninggal dalam serangan Israel pada hari Kamis. Pemakaman mereka dijadwalkan berlangsung pada hari Senin waktu setempat.
Pemimpin Houthi Abdel-Malik al-Houthi memuji mereka sebagai "martir seluruh Yaman" dan menuduh Israel melakukan kebiadaban terhadap warga sipil. "Kejahatan menargetkan menteri dan pejabat sipil menambah catatan kriminal musuh Israel di wilayah ini," katanya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/9/2025).
Ketegangan semakin meningkat pada hari Minggu ketika pasukan Houthi menyerbu kantor-kantor PBB dan menahan setidaknya 11 staf, menuduh mereka melakukan spionase.
PBB telah menolak tuduhan tersebut dan menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat staf mereka. Kelompok tersebut telah menahan 23 staf PBB lainnya, beberapa di antaranya sejak tahun 2021.
Pada hari Sabtu, Houthi mengumumkan bahwa PM Ahmed Ghaleb al-Rahawi dan pejabat tinggi lainnya telah meninggal dalam serangan Israel pada hari Kamis. Pemakaman mereka dijadwalkan berlangsung pada hari Senin waktu setempat.
Pemimpin Houthi Abdel-Malik al-Houthi memuji mereka sebagai "martir seluruh Yaman" dan menuduh Israel melakukan kebiadaban terhadap warga sipil. "Kejahatan menargetkan menteri dan pejabat sipil menambah catatan kriminal musuh Israel di wilayah ini," katanya, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (2/9/2025).
Ketegangan semakin meningkat pada hari Minggu ketika pasukan Houthi menyerbu kantor-kantor PBB dan menahan setidaknya 11 staf, menuduh mereka melakukan spionase.
PBB telah menolak tuduhan tersebut dan menyerukan pembebasan segera dan tanpa syarat staf mereka. Kelompok tersebut telah menahan 23 staf PBB lainnya, beberapa di antaranya sejak tahun 2021.
Lihat Juga :