Balas Dendam, Ukraina Siapkan Serangan Baru Jauh ke Dalam Wilayah Rusia
Senin, 01 September 2025 - 06:59 WIB
loading...
Presiden Volodymyr Zelensky umumkan Ukraina akan luncurkan serangan baru jauh ke dalam wilayah Rusia sebagai pembalasan. Foto/X @ZelenskyyUa
A
A
A
KYIV - Ukraina telah menyiapkan serangan baru jauh ke dalam wilayah Rusia. Ini sebagai balas dendam setelah serangan drone besar-besaran Moskow menyebabkan 60.000 warga Ukraina kehilangan listrik.
Persiapan serangan balasan itu diumumkan Presiden Volodymyr Zelensky pada hari Minggu setelah pertemuan dengan jenderal tertingginya, Oleksandr Syrskyi.
“Kami akan melanjutkan tindakan aktif kami sesuai kebutuhan untuk melindungi Ukraina. Pasukan dan sarana telah disiapkan. Serangan mendalam baru juga telah direncanakan,” ujar Zelensky di Telegram pada hari Minggu, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Baca Juga: Jenderal Tertinggi Rusia: Serang Ukraina Nonstop Selagi Melemah!
Kedua negara yang bermuusuhan ini telah mengintensifkan serangan udara mereka dalam beberapa pekan terakhir, dengan Moskow menyerang sistem energi dan transportasi Ukraina serta melancarkan serangan mematikan dalam beberapa hari terakhir di wilayah sipil di Kyiv dan Zaporizhzhia. Sedangkan Ukraina menargetkan kilang minyak dan jaringan pipa Rusia.
Pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari, drone-drone Rusia menghantam empat fasilitas energi di wilayah Odessa, Ukraina, menurut perusahaan energi swasta DTEK. Serangan tersebut menyebabkan 29.000 orang kehilangan listrik.
Kota pelabuhan Chornomorsk di dekat Odessa, tempat satu orang terluka, adalah tempat yang paling parah terkena dampak, menurut gubernur wilayah tersebut, Oleh Kiper, di Telegram. "Infrastruktur penting beroperasi dengan generator," ujarnya.
DTEK mengatakan pekerjaan perbaikan darurat akan dimulai setelah militer Ukraina mendapat izin, yang melaporkan bahwa secara total, Rusia telah menyerang Ukraina dengan 142 drone, semuanya kecuali 10 yang diklaim telah ditembak jatuh.
Militer Rusia pada hari Minggu menyatakan bahwa mereka telah menembak jatuh 112 drone Ukraina dalam 24 jam terakhir.
Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyalahkan Eropa atas berlanjutnya perang dan menghambat upaya perdamaian yang dirancang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Pihak Eropa yang bertikai mempertahankan arah fundamentalnya; mereka tidak akan menyerah," ujarnya di sela-sela pertemuan puncak di China, merujuk pada pengiriman senjata Uni Eropa ke Ukraina, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Senin (1/9/2025).
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah serangan udara Rusia menewaskan sedikitnya 23 orang dan merusak kantor-kantor diplomatik Uni Eropa di pusat kota Kyiv.
Berbicara beberapa jam sebelum tenggat waktu Trump bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyetujui pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan dia yakin perang, yang dimulai lebih dari tiga setengah tahun yang lalu, tidak akan segera berakhir.
“Saya sedang mempersiapkan diri secara internal agar perang ini berlangsung lama,” ujarnya kepada lembaga penyiaran publik ZDF pada hari Minggu, seraya mencatat bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik tidak dapat dilakukan “dengan mengorbankan kapitulasi Ukraina”.
Di tempat lain, Ursula von der Leyen, presiden Komisi Eropa, melakukan perjalanan ke Polandia pada hari Minggu sebagai bagian dari kunjungannya ke negara-negara Uni Eropa yang berbatasan dengan Rusia dan sekutunya, Belarusia.
Berbicara bersama Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, von der Leyen menyebut Putin sebagai “predator” yang hanya dapat dikendalikan melalui “pencegahan yang kuat”.
Presiden Komisi Uni Eropa juga mengatakan bahwa negara-negara anggota yang berbatasan dengan Rusia dan Belarusia akan menerima dana tambahan dari blok tersebut, dan menyebut pertahanan perbatasannya sebagai “tanggung jawab bersama”.
Sementara Uni Eropa terus menyoroti risiko keamanan Rusia bagi benua yang lebih luas, Kremlin justru berusaha membesar-besarkan pencapaian militernya agar kemenangannya di Ukraina tampak tak terelakkan, menurut Institute for the Study of War (ISW), sebuah lembaga kajian AS.
Dalam penilaian terbarunya terhadap konflik tersebut, ISW menyatakan bahwa klaim Panglima Militer Rusia Jenderal Valery Gerasimov pada hari Sabtu tentang keuntungan Rusia dibesar-besarkan.
Jenderal Rusia tersebut sebelumnya menyatakan bahwa pasukan Kremlin telah merebut wilayah seluas 3.500 km persegi [1.351 mil persegi] dan 149 permukiman sejak awal Maret.
“Klaim Gerasimov secara signifikan membesar-besarkan keuntungan Rusia sekitar 1.200 kilometer persegi [463 mil persegi] dan 19 permukiman,” kata ISW.
Persiapan serangan balasan itu diumumkan Presiden Volodymyr Zelensky pada hari Minggu setelah pertemuan dengan jenderal tertingginya, Oleksandr Syrskyi.
“Kami akan melanjutkan tindakan aktif kami sesuai kebutuhan untuk melindungi Ukraina. Pasukan dan sarana telah disiapkan. Serangan mendalam baru juga telah direncanakan,” ujar Zelensky di Telegram pada hari Minggu, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.
Baca Juga: Jenderal Tertinggi Rusia: Serang Ukraina Nonstop Selagi Melemah!
Kedua negara yang bermuusuhan ini telah mengintensifkan serangan udara mereka dalam beberapa pekan terakhir, dengan Moskow menyerang sistem energi dan transportasi Ukraina serta melancarkan serangan mematikan dalam beberapa hari terakhir di wilayah sipil di Kyiv dan Zaporizhzhia. Sedangkan Ukraina menargetkan kilang minyak dan jaringan pipa Rusia.
Pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari, drone-drone Rusia menghantam empat fasilitas energi di wilayah Odessa, Ukraina, menurut perusahaan energi swasta DTEK. Serangan tersebut menyebabkan 29.000 orang kehilangan listrik.
Kota pelabuhan Chornomorsk di dekat Odessa, tempat satu orang terluka, adalah tempat yang paling parah terkena dampak, menurut gubernur wilayah tersebut, Oleh Kiper, di Telegram. "Infrastruktur penting beroperasi dengan generator," ujarnya.
DTEK mengatakan pekerjaan perbaikan darurat akan dimulai setelah militer Ukraina mendapat izin, yang melaporkan bahwa secara total, Rusia telah menyerang Ukraina dengan 142 drone, semuanya kecuali 10 yang diklaim telah ditembak jatuh.
Militer Rusia pada hari Minggu menyatakan bahwa mereka telah menembak jatuh 112 drone Ukraina dalam 24 jam terakhir.
Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyalahkan Eropa atas berlanjutnya perang dan menghambat upaya perdamaian yang dirancang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Pihak Eropa yang bertikai mempertahankan arah fundamentalnya; mereka tidak akan menyerah," ujarnya di sela-sela pertemuan puncak di China, merujuk pada pengiriman senjata Uni Eropa ke Ukraina, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera, Senin (1/9/2025).
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari setelah serangan udara Rusia menewaskan sedikitnya 23 orang dan merusak kantor-kantor diplomatik Uni Eropa di pusat kota Kyiv.
Berbicara beberapa jam sebelum tenggat waktu Trump bagi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menyetujui pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan dia yakin perang, yang dimulai lebih dari tiga setengah tahun yang lalu, tidak akan segera berakhir.
“Saya sedang mempersiapkan diri secara internal agar perang ini berlangsung lama,” ujarnya kepada lembaga penyiaran publik ZDF pada hari Minggu, seraya mencatat bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik tidak dapat dilakukan “dengan mengorbankan kapitulasi Ukraina”.
Di tempat lain, Ursula von der Leyen, presiden Komisi Eropa, melakukan perjalanan ke Polandia pada hari Minggu sebagai bagian dari kunjungannya ke negara-negara Uni Eropa yang berbatasan dengan Rusia dan sekutunya, Belarusia.
Berbicara bersama Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, von der Leyen menyebut Putin sebagai “predator” yang hanya dapat dikendalikan melalui “pencegahan yang kuat”.
Presiden Komisi Uni Eropa juga mengatakan bahwa negara-negara anggota yang berbatasan dengan Rusia dan Belarusia akan menerima dana tambahan dari blok tersebut, dan menyebut pertahanan perbatasannya sebagai “tanggung jawab bersama”.
Sementara Uni Eropa terus menyoroti risiko keamanan Rusia bagi benua yang lebih luas, Kremlin justru berusaha membesar-besarkan pencapaian militernya agar kemenangannya di Ukraina tampak tak terelakkan, menurut Institute for the Study of War (ISW), sebuah lembaga kajian AS.
Dalam penilaian terbarunya terhadap konflik tersebut, ISW menyatakan bahwa klaim Panglima Militer Rusia Jenderal Valery Gerasimov pada hari Sabtu tentang keuntungan Rusia dibesar-besarkan.
Jenderal Rusia tersebut sebelumnya menyatakan bahwa pasukan Kremlin telah merebut wilayah seluas 3.500 km persegi [1.351 mil persegi] dan 149 permukiman sejak awal Maret.
“Klaim Gerasimov secara signifikan membesar-besarkan keuntungan Rusia sekitar 1.200 kilometer persegi [463 mil persegi] dan 19 permukiman,” kata ISW.
(mas)
Lihat Juga :