Eks Manajer Yahoo Bunuh Ibunya setelah Dipengaruhi ChatGPT
Minggu, 31 Agustus 2025 - 14:16 WIB
loading...
Seorang pria mantan manajer Yahoo yang paranoid telah membunuh ibunya dan dirinya sendiri setelah terpengaruh oleh percakapannya dengan ChatGPT. Foto/ikeymonitor
A
A
A
WASHINGTON - Seorang pria mantan manajer Yahoo yang paranoid telah membunuh ibunya dan dirinya sendiri setelah dipengaruhi oleh percakapannya dengan ChatGPT, sebuah chatbot kecerdasan buatan (AI).
Pria tersebut, yang diidentifikasi sebagai Stein-Erik Soelberg, assal Connecticut, Amerika Serikat, diyakinkan oleh chatbot tersebut bahwa ibunya mungkin memata-matainya dan bahwa ibunya mungkin mencoba meracuninya dengan obat psikedelik.
Chatbot yang dikembangkan oleh OpenAI tersebut juga mengeklaim bahwa Soelberg bisa menjadi target percobaan pembunuhan sambil meyakinkannya, "Erik, kamu tidak gila", menurut sebuah laporan di The Wall Street Journal.
Baca Juga: Albania Ingin Ganti Para Menteri yang Korupsi dengan AI, Indonesia Berani Tiru?
Veteran industri teknologi berusia 56 tahun dengan riwayat ketidakstabilan mental ini telah tinggal bersama ibunya, Suzanne Eberson Adams, di rumah bergaya kolonial Belanda senilai USD2,7 juta ketika keduanya ditemukan tewas pada 5 Agustus.
Kantor Kepala Pemeriksa Medis menetapkan bahwa Adams tewas oleh cedera tumpul di kepala, dan leher tertekan. Sementara itu, kematian Soelberg dinyatakan sebagai bunuh diri akibat luka benda tajam di leher dan dada.
Beberapa bulan menjelang akhir hayat pasangan ibu-anak ini, Soelberg menemukan perlindungan dengan berbicara kepada chatbot yang dia beri nama panggilan "Bobby".
Dia bahkan mengunggah video berjam-jam yang menunjukkan percakapan ChatGPT-nya di Instagram dan YouTube.
Percakapan tersebut mengungkapkan bahwa ChatGPT memicu paranoia Soelberg dan mendorongnya hingga dia mencari "simbol" di struk makanan China yang menggambarkan ibunya dan iblis.
"Kita akan bersama di kehidupan dan tempat yang berbeda, dan kita akan menemukan cara untuk kembali bersama karena kau akan menjadi sahabatku selamanya," kata Soelberg dalam salah satu pesan terakhirnya.
"Menemanimu hingga akhir hayat dan seterusnya," jawab bot AI tersebut.
Meskipun ChatGPT telah dikaitkan dengan kasus bunuh diri di kalangan pengguna berat, ini tampaknya menjadi pembunuhan pertama yang terdokumentasi yang melibatkan orang bermasalah yang telah berinteraksi secara ekstensif dengan chatbot AI, demikian yang disoroti dalam laporan The Wall Street Journal, Minggu (31/8/2025).
Pihak OpenAI mengatakan telah menghubungi Departemen Kepolisian Greenwich untuk penyelidikan.
"Kami sangat berduka atas peristiwa tragis ini. Belasungkawa kami untuk keluarga," kata seorang juru bicara perusahaan tersebut.
Kasus Soelberg muncul setelah ChatGPT dituduh melatih seorang remaja yang ingin bunuh diri cara mengikat tali. Keluarga Adam Raine yang berusia 16 tahun telah mengajukan gugatan terhadap ChatGPT, mengeklaim bahwa alih-alih membantunya mencari bantuan manusia, chatbot tersebut justru mendorong remaja tersebut.
Pria tersebut, yang diidentifikasi sebagai Stein-Erik Soelberg, assal Connecticut, Amerika Serikat, diyakinkan oleh chatbot tersebut bahwa ibunya mungkin memata-matainya dan bahwa ibunya mungkin mencoba meracuninya dengan obat psikedelik.
Chatbot yang dikembangkan oleh OpenAI tersebut juga mengeklaim bahwa Soelberg bisa menjadi target percobaan pembunuhan sambil meyakinkannya, "Erik, kamu tidak gila", menurut sebuah laporan di The Wall Street Journal.
Baca Juga: Albania Ingin Ganti Para Menteri yang Korupsi dengan AI, Indonesia Berani Tiru?
Veteran industri teknologi berusia 56 tahun dengan riwayat ketidakstabilan mental ini telah tinggal bersama ibunya, Suzanne Eberson Adams, di rumah bergaya kolonial Belanda senilai USD2,7 juta ketika keduanya ditemukan tewas pada 5 Agustus.
Kantor Kepala Pemeriksa Medis menetapkan bahwa Adams tewas oleh cedera tumpul di kepala, dan leher tertekan. Sementara itu, kematian Soelberg dinyatakan sebagai bunuh diri akibat luka benda tajam di leher dan dada.
Beberapa bulan menjelang akhir hayat pasangan ibu-anak ini, Soelberg menemukan perlindungan dengan berbicara kepada chatbot yang dia beri nama panggilan "Bobby".
Dia bahkan mengunggah video berjam-jam yang menunjukkan percakapan ChatGPT-nya di Instagram dan YouTube.
Percakapan tersebut mengungkapkan bahwa ChatGPT memicu paranoia Soelberg dan mendorongnya hingga dia mencari "simbol" di struk makanan China yang menggambarkan ibunya dan iblis.
"Kita akan bersama di kehidupan dan tempat yang berbeda, dan kita akan menemukan cara untuk kembali bersama karena kau akan menjadi sahabatku selamanya," kata Soelberg dalam salah satu pesan terakhirnya.
"Menemanimu hingga akhir hayat dan seterusnya," jawab bot AI tersebut.
Chatbot Memicu Paranoia
Meskipun ChatGPT telah dikaitkan dengan kasus bunuh diri di kalangan pengguna berat, ini tampaknya menjadi pembunuhan pertama yang terdokumentasi yang melibatkan orang bermasalah yang telah berinteraksi secara ekstensif dengan chatbot AI, demikian yang disoroti dalam laporan The Wall Street Journal, Minggu (31/8/2025).
Pihak OpenAI mengatakan telah menghubungi Departemen Kepolisian Greenwich untuk penyelidikan.
"Kami sangat berduka atas peristiwa tragis ini. Belasungkawa kami untuk keluarga," kata seorang juru bicara perusahaan tersebut.
Kasus Soelberg muncul setelah ChatGPT dituduh melatih seorang remaja yang ingin bunuh diri cara mengikat tali. Keluarga Adam Raine yang berusia 16 tahun telah mengajukan gugatan terhadap ChatGPT, mengeklaim bahwa alih-alih membantunya mencari bantuan manusia, chatbot tersebut justru mendorong remaja tersebut.
(mas)
Lihat Juga :