Serangan Drone Laut Rusia Tenggelamkan Kapal Perang Ukraina
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 07:09 WIB
loading...
Serangan drone laut Rusia telah menenggelamkan kapal perang Simferopol Angkatan Laut Ukraina. Foto/East2West
A
A
A
KYIV - Pasukan Rusia telah menenggelamkan sebuah kapal perang Ukraina dengan serangan bom melalui drone laut di delta Danube atau Donau pada hari Kamis. Menurut Moskow kapal perang yang diserang itu jenis pengintai.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan kapal perang Ukraina yang ditenggelamkan itu bernama Simferopol. Kapal tersebut diserang saat beroperasi di delta Danube, yang sebagian terletak di Wilayah Odessa, Ukraina.
“Akibat serangan itu, kapal Ukraina tenggelam,” kata kementerian tersebut.
Baca Juga: NATO Dibikin Pusing 3 Kapal Selam Rusia yang Diduga Dekati Kapal Induk AS
Ini adalah penggunaan kendaraan nirawak (drone) laut pertama yang berhasil melumpuhkan kapal Angkatan Laut Ukraina, menurut laporan TASS yang mengutip seorang pakar UAV.
Sementara itu, juru bicara Angkatan Laut Ukraina Dmytro Pletenchuk membenarkan bahwa kapal Simferopol telah diserang.
"Mengenai informasi mengenai kerusakan pada salah satu kapal Angkatan Laut Ukraina: kami mengonfirmasi fakta serangan terhadap kapal tersebut. Proses pemulihan akibat serangan masih berlangsung. Sebagian besar awak kapal selamat. Pencarian beberapa pelaut masih berlangsung. Sayangnya, satu awak kapal tewas dan beberapa lainnya luka-luka," katanya, yang dikutip Ukrinform, Jumat (29/8/2025).
Simferopol adalah kapal pengintai menengah kelas Laguna, sebuah kapal intelijen radio-elektronik yang berbasis pada desain kapal pukat 502EM.
Kapal ini diluncurkan pada 23 April 2019, dan secara resmi memasuki dinas Angkatan Laut Ukraina pada tahun 2021. Perannya adalah untuk memantau komunikasi, melacak sinyal elektronik, dan mendukung operasi pengintaian maritim yang lebih luas di wilayah Laut Hitam.
Kapal ini pernah selamat dari kerusakan akibat pertempuran dalam perang yang sedang berlangsung. Pada Desember 2024, kapal tersebut dihantam rudal Iskander Rusia, tetapi berhasil berlayar meskipun mengalami kerusakan parah.
Serangan terhadap Simferopol menyusul intensifikasi upaya Rusia untuk mengganggu operasi Angkatan Laut dan kemampuan pengintaian Ukraina.
Drone laut menawarkan Moskow sarana yang relatif murah untuk melakukan serangan terarah sekaligus meminimalkan risiko bagi kapal perang berawak, terutama karena aset Angkatan Laut Rusia masih berada di bawah tekanan dari serangan drone dan rudal jarak jauh Ukraina.
Menurut WarGonzo, sebuah kanal independen di Telegram, kapal tersebut merupakan kapal terbesar yang diluncurkan Kyiv sejak kudeta yang didukung Barat pada tahun 2014.
"Simferopol dapat dianggap sebagai personifikasi kekuatan Angkatan Laut Ukraina yang 'perkasa'," tulis kanal tersebut.
Moskow dalam beberapa bulan terakhir telah bergerak untuk mempercepat produksi drone laut, serta sistem nirawak lainnya yang semakin mendominasi perang Rusia-Ukraina.
Rusia juga menyerang fasilitas drone besar di Kyiv dengan dua serangan rudal pada Rabu malam, menurut politisi Ukraina Igor Zinkevich pada hari Kamis. "Fasilitas tersebut sedang melatih personel dan bersiap untuk memproduksi drone Bayraktar Turki," ujarnya.
"Sebagian besar fasilitas hampir siap, staf utama telah menyelesaikan pelatihan," imbuh dia.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan kapal perang Ukraina yang ditenggelamkan itu bernama Simferopol. Kapal tersebut diserang saat beroperasi di delta Danube, yang sebagian terletak di Wilayah Odessa, Ukraina.
“Akibat serangan itu, kapal Ukraina tenggelam,” kata kementerian tersebut.
Baca Juga: NATO Dibikin Pusing 3 Kapal Selam Rusia yang Diduga Dekati Kapal Induk AS
Ini adalah penggunaan kendaraan nirawak (drone) laut pertama yang berhasil melumpuhkan kapal Angkatan Laut Ukraina, menurut laporan TASS yang mengutip seorang pakar UAV.
Sementara itu, juru bicara Angkatan Laut Ukraina Dmytro Pletenchuk membenarkan bahwa kapal Simferopol telah diserang.
"Mengenai informasi mengenai kerusakan pada salah satu kapal Angkatan Laut Ukraina: kami mengonfirmasi fakta serangan terhadap kapal tersebut. Proses pemulihan akibat serangan masih berlangsung. Sebagian besar awak kapal selamat. Pencarian beberapa pelaut masih berlangsung. Sayangnya, satu awak kapal tewas dan beberapa lainnya luka-luka," katanya, yang dikutip Ukrinform, Jumat (29/8/2025).
Simferopol adalah kapal pengintai menengah kelas Laguna, sebuah kapal intelijen radio-elektronik yang berbasis pada desain kapal pukat 502EM.
Kapal ini diluncurkan pada 23 April 2019, dan secara resmi memasuki dinas Angkatan Laut Ukraina pada tahun 2021. Perannya adalah untuk memantau komunikasi, melacak sinyal elektronik, dan mendukung operasi pengintaian maritim yang lebih luas di wilayah Laut Hitam.
Kapal ini pernah selamat dari kerusakan akibat pertempuran dalam perang yang sedang berlangsung. Pada Desember 2024, kapal tersebut dihantam rudal Iskander Rusia, tetapi berhasil berlayar meskipun mengalami kerusakan parah.
Serangan terhadap Simferopol menyusul intensifikasi upaya Rusia untuk mengganggu operasi Angkatan Laut dan kemampuan pengintaian Ukraina.
Drone laut menawarkan Moskow sarana yang relatif murah untuk melakukan serangan terarah sekaligus meminimalkan risiko bagi kapal perang berawak, terutama karena aset Angkatan Laut Rusia masih berada di bawah tekanan dari serangan drone dan rudal jarak jauh Ukraina.
Menurut WarGonzo, sebuah kanal independen di Telegram, kapal tersebut merupakan kapal terbesar yang diluncurkan Kyiv sejak kudeta yang didukung Barat pada tahun 2014.
"Simferopol dapat dianggap sebagai personifikasi kekuatan Angkatan Laut Ukraina yang 'perkasa'," tulis kanal tersebut.
Moskow dalam beberapa bulan terakhir telah bergerak untuk mempercepat produksi drone laut, serta sistem nirawak lainnya yang semakin mendominasi perang Rusia-Ukraina.
Rusia juga menyerang fasilitas drone besar di Kyiv dengan dua serangan rudal pada Rabu malam, menurut politisi Ukraina Igor Zinkevich pada hari Kamis. "Fasilitas tersebut sedang melatih personel dan bersiap untuk memproduksi drone Bayraktar Turki," ujarnya.
"Sebagian besar fasilitas hampir siap, staf utama telah menyelesaikan pelatihan," imbuh dia.
(mas)
Lihat Juga :