Terungkap, AS Minta Tolong Putin saat Memburu Osama bin Laden

Senin, 25 Agustus 2025 - 13:22 WIB
loading...
Terungkap, AS Minta...
Dokumen yang baru dideklasifikasi mengungkap Amerika Serikat pernah meminta bantuan Presiden Rusia Vladimir Putin saat memburu pendiri al-Qaeda Osama bin Laden. Foto/kremlin.ru
A A A
MOSKOW - Pemerintah Amerika Serikat (AS) ternyata pernah meminta tolong Presiden Rusia Vladimir Putin ketika memburu pendiri al-Qaeda, Osama bin Laden. Permintaan bantuan itu terjadi ketika Amerika dipimpin Presiden Bill Clinton.

Menurut catatan pertemuan puncak pertama Clinton dan Putin, yang baru-baru ini dideklasifikasi, Clinton saat berkuasa mengusulkan kepada Putin upaya bersama AS-Rusia melawan terorisme internasional.

Catatan kontak kedua pemimpin tersebut, yang berlangsung di Kremlin pada 4 Juni 2000, dirilis pada Kamis lalu menyusul gugatan "Kebebasan Informasi" yang diajukan oleh Arsip Keamanan Nasional, sebuah lembaga penelitian independen di Universitas George Washington.

Baca Juga: Khianati Putin, Politisi Rusia Jual Informasi Rahasia ke AS Seharga Rp732,6 Miliar

Menurut notulen rapat, Clinton bertanya kepada Putin, "Bagaimana dengan kerja sama antiterorisme antara negara kita, khususnya melawan Osama bin Laden?"

Clinton kemudian mengusulkan "strategi terkoordinasi" antara Washington dan Moskow.

“Kita harus menyatukan rakyat kita untuk mengembangkan pendekatan komprehensif dalam menghadapi [pemimpin Al-Qaeda saat itu] bin Laden,” lanjut Clinton, menurut catatan tersebut yang dikutip Russia Today, Senin (25/8/2025).

Saat itu, Presiden Putin yang baru terpilih sedang menghadapi pemberontakan kelompok militan Islamis di Kaukasus Utara. Dia, menurut catatan tersebut, mengatakan bahwa “front bersama diperlukan” untuk melawan apa yang disebutnya “Teroris Internasional".

Belum jelas apakah Putin menyanggupi permintaan bantuan oleh Clinton. Juga belum diketahui kelanjutan prospek kerja sama AS-Rusia dalam memburu Osama bin Laden. Faktanya, pasukan khusus AS yang membunuh Osama bin Laden di Pakistan pada 2011 meski jasadnya tak pernah ditunjukkan.

Para pemimpin saat itu juga membahas prospek Rusia bergabung dengan NATO, di mana Clinton mengakui bahwa ekspansi blok militer Barat ke arah timur dianggap sebagai “masalah” oleh banyak orang di Moskow.

“Harus ada hubungan skala penuh antara Rusia dan NATO,” kata Putin, menurut catatan tersebut.

Setelah serangan 11 September 2001 atau serangan 9/11 di AS, Washington dan Moskow memulai kerja sama yang erat melawan kelompok Islam radikal, dengan membentuk beberapa satuan tugas gabungan.

Namun, seiring AS beralih ke intervensi militer unilateral, Rusia semakin waspada. Moskow mengutuk invasi Irak yang dipimpin AS pada tahun 2003, menganggapnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan preseden yang meresahkan dengan dalih yang dibuat-buat untuk penggunaan kekuatan.

Awal tahun ini, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan kembali kesediaan Moskow untuk bekerja sama "dengan semua negara yang tidak menerapkan standar ganda" dalam memerangi terorisme.

Dalam beberapa tahun terakhir, AS mengurangi kerja sama dengan Rusia hingga seminimal mungkin karena hubungan yang memburuk, terutama setelah eskalasi konflik Ukraina pada tahun 2022.

Namun, sejak Presiden Donald Trump menjabat pada bulan Januari, Washington dan Moskow telah memulai diskusi tentang cara-cara untuk menghidupkan kembali hubungan bilateral. Dalam beberapa panggilan telepon dan pada pertemuan puncak di Alaska awal bulan ini, Trump dan Putin membahas bidang-bidang potensial untuk kerja sama ekonomi dan energi.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Piala Dunia 2026 Berpotensi...
Piala Dunia 2026 Berpotensi Jadi Panggung Terakhir Luka Modric
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Johannesburg Tewaskan 12 Orang, Polisi Buru 10 Tersangka
Iran Bantah Mohon ke...
Iran Bantah Mohon ke Trump Hentikan Serangan: Tak Ada Komunikasi Apa pun!
Rekomendasi
Krisis Hormuz Kuras...
Krisis Hormuz Kuras Cadangan Minyak Singapura ke Titik Terendah sejak 13 Tahun
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
4.480 Calon Mahasiswa...
4.480 Calon Mahasiswa Diterima di UM UGM CBT 2026, Kedokteran Paling Ketat
Berita Terkini
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
Trump Puji Unggahan...
Trump Puji Unggahan Menlu Iran tentang Kemungkinan Kesepakatan AS-Iran Sangat Positif
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved