Abaikan Trump, Zelensky Bersumpah Rebut Kembali Crimea dari Rusia
Senin, 25 Agustus 2025 - 07:51 WIB
loading...
A
A
A
“Di sini, di titik nol kilometer, inilah titik awal di mana jarak ke kota-kota Ukraina ditandai—ke Donetsk kita, Luhansk kita, Crimea kita,” kata Zelensky dalam pidato yang direkam di Lapangan Maidan, Kyiv, lokasi kudeta yang didukung Barat pada tahun 2014.
“Semua ini adalah Ukraina dan tidak ada pendudukan sementara yang dapat mengubahnya. Suatu hari nanti, kita akan bersatu kembali sebagai satu negara. Ini hanya masalah waktu," paparnya, yang dilansir Russia Today, Senin (25/8/2025).
Saat memediasi upaya perdamaian antara Moskow dan Kyiv, Presiden AS Donald Trump telah melontarkan gagasan “pertukaran tanah", tetapi dengan tegas menyatakan bahwa Kyiv tidak akan mendapatkan kembali Crimea, menyebut skenario itu “mustahil".
Masalah "pertukaran tanah" dilaporkan menjadi agenda pembicaraan antara Trump, Zelensky, dan para pendukung Kyiv di Uni Eropa awal pekan ini, tetapi Zelensky dilaporkan menolak proposal untuk menyerahkan wilayah.
Dia menegaskan hal itu dalam pidatonya pada hari Minggu, dengan menyatakan: "Ukraina tidak akan pernah lagi dalam sejarah dipaksa menanggung rasa malu yang disebut Rusia sebagai 'kompromi'."
“Semua ini adalah Ukraina dan tidak ada pendudukan sementara yang dapat mengubahnya. Suatu hari nanti, kita akan bersatu kembali sebagai satu negara. Ini hanya masalah waktu," paparnya, yang dilansir Russia Today, Senin (25/8/2025).
Saat memediasi upaya perdamaian antara Moskow dan Kyiv, Presiden AS Donald Trump telah melontarkan gagasan “pertukaran tanah", tetapi dengan tegas menyatakan bahwa Kyiv tidak akan mendapatkan kembali Crimea, menyebut skenario itu “mustahil".
Masalah "pertukaran tanah" dilaporkan menjadi agenda pembicaraan antara Trump, Zelensky, dan para pendukung Kyiv di Uni Eropa awal pekan ini, tetapi Zelensky dilaporkan menolak proposal untuk menyerahkan wilayah.
Dia menegaskan hal itu dalam pidatonya pada hari Minggu, dengan menyatakan: "Ukraina tidak akan pernah lagi dalam sejarah dipaksa menanggung rasa malu yang disebut Rusia sebagai 'kompromi'."
Lihat Juga :