Iran Bangun Pabrik Senjata di Beberapa Negara usai Perang Melawan Israel
Minggu, 24 Agustus 2025 - 07:36 WIB
loading...
Iran telah membangun pabrik senjata di beberapa negara yang dirahasiakan setelah perang melawan Israel pada Juni lalu. Foto/Tehran Times
A
A
A
TEHERAN - Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh mengatakan bahwa Teheran telah membangun fasilitas produksi senjata di beberapa negara yang dirahasiakan. Ekspansi pabrik senjata Iran ini terjadi sekitar dua bulan setelah ia terlibat dalam perang udara yang mematikan dengan Israel.
Komentar Nasirzadeh disampaikan dalam sebuah wawancara televisi dengan kantor berita Iran, Young Journalists Club.
Nasirzadeh mengatakan bahwa pengembangan rudal tetap menjadi fokus utama militer Iran. "Setelah perang dengan Israel, prioritas mungkin berubah," ujarnya.
Menteri tersebut juga menyatakan bahwa pabrik-pabrik senjata tersebut kemungkinan akan dibuka dan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat.
Baca Juga: Anak Buah Ayatollah Khamenei: Israel Tak Berdaya Dihujani Rudal Iran
Berbicara tentang kemajuan militer terbaru Iran, Nasirzadeh mengatakan bahwa hulu ledak mereka—dalam setahun terakhir—yang canggih dan dapat bermanuver telah diuji.
Dia menambahkan bahwa jika perang udara 12 hari pada bulan Juni berlangsung lebih lama, pasukan Israel tidak akan mampu mencegat rudal Iran, menurut laporan Iran International, Minggu (24/8/2025).
"Jika perang berlangsung 15 hari, dalam tiga hari terakhir Israel tidak akan mampu mengatasi rudal kami," ujarnya, seraya menambahkan bahwa hal ini mendorong Israel untuk menerima gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.
Menteri tersebut mengatakan bahwa Teheran menahan diri untuk tidak menggunakan salah satu senjata terbarunya selama konflik, rudal Qassem Basir, dan menyebutnya sebagai "senjata paling presisi".
Qassem Basir, rudal balistik jarak menengah Iran, dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 1.200 kilometer.
Pernyataan Nasirzadeh muncul setelah latihan Angkatan Laut Iran pada 21 Agustus, ketika pasukan negara itu menguji coba rudal jelajah ke target permukaan di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara. Ini adalah latihan militer pertama Iran sejak berakhirnya perang 12 hari dengan Israel.
Sanksi AS selama puluhan tahun yang diberlakukan sejak Revolusi Islam 1979 telah membatasi kemampuan Teheran untuk mengimpor persenjataan modern, memaksa negara itu untuk bergantung pada pengembangan dalam negeri dan peningkatan sistem yang sudah tua.
Pada 13 Juni, Israel menyerang situs nuklir dan militer Iran, beserta area permukiman, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian, termasuk para komandan senior dan ilmuwan nuklir. Iran merespons dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak yang merenggut puluhan nyawa di Israel.
Amerika Serikat melakukan intervensi pada 22 Juni, menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran. Permusuhan tersebut berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Washington pada 24 Juni.
Komentar Nasirzadeh disampaikan dalam sebuah wawancara televisi dengan kantor berita Iran, Young Journalists Club.
Nasirzadeh mengatakan bahwa pengembangan rudal tetap menjadi fokus utama militer Iran. "Setelah perang dengan Israel, prioritas mungkin berubah," ujarnya.
Menteri tersebut juga menyatakan bahwa pabrik-pabrik senjata tersebut kemungkinan akan dibuka dan diumumkan secara resmi dalam waktu dekat.
Baca Juga: Anak Buah Ayatollah Khamenei: Israel Tak Berdaya Dihujani Rudal Iran
Berbicara tentang kemajuan militer terbaru Iran, Nasirzadeh mengatakan bahwa hulu ledak mereka—dalam setahun terakhir—yang canggih dan dapat bermanuver telah diuji.
Dia menambahkan bahwa jika perang udara 12 hari pada bulan Juni berlangsung lebih lama, pasukan Israel tidak akan mampu mencegat rudal Iran, menurut laporan Iran International, Minggu (24/8/2025).
"Jika perang berlangsung 15 hari, dalam tiga hari terakhir Israel tidak akan mampu mengatasi rudal kami," ujarnya, seraya menambahkan bahwa hal ini mendorong Israel untuk menerima gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat.
Menteri tersebut mengatakan bahwa Teheran menahan diri untuk tidak menggunakan salah satu senjata terbarunya selama konflik, rudal Qassem Basir, dan menyebutnya sebagai "senjata paling presisi".
Qassem Basir, rudal balistik jarak menengah Iran, dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 1.200 kilometer.
Pernyataan Nasirzadeh muncul setelah latihan Angkatan Laut Iran pada 21 Agustus, ketika pasukan negara itu menguji coba rudal jelajah ke target permukaan di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara. Ini adalah latihan militer pertama Iran sejak berakhirnya perang 12 hari dengan Israel.
Sanksi AS selama puluhan tahun yang diberlakukan sejak Revolusi Islam 1979 telah membatasi kemampuan Teheran untuk mengimpor persenjataan modern, memaksa negara itu untuk bergantung pada pengembangan dalam negeri dan peningkatan sistem yang sudah tua.
Pada 13 Juni, Israel menyerang situs nuklir dan militer Iran, beserta area permukiman, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 kematian, termasuk para komandan senior dan ilmuwan nuklir. Iran merespons dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak yang merenggut puluhan nyawa di Israel.
Amerika Serikat melakukan intervensi pada 22 Juni, menargetkan tiga fasilitas nuklir Iran. Permusuhan tersebut berakhir dengan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Washington pada 24 Juni.
(mas)
Lihat Juga :