China Mulai Tingkatkan Senjata Nuklir meski Berjanji Tak Jadi Pengguna Pertama
Kamis, 21 Agustus 2025 - 09:19 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Bulletin of the Atomic Scientists, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Chicago, China telah memperluas dan memodernisasi cadangan persenjataan nuklirnya lebih cepat daripada negara bersenjata nuklir lainnya dan telah mengumpulkan sekitar 600 hulu ledak.
Disebutkan oleh lembaga itu bahwa China sedang membangun sekitar 350 silo rudal baru dan beberapa pangkalan baru untuk peluncur mobile darat.
Diperkirakan bahwa militer China; Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), memiliki sekitar 712 peluncur untuk rudal berbasis darat tetapi tidak semuanya ditugaskan untuk senjata nuklir. "Dari peluncur tersebut, 462 dapat dimuat dengan rudal yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat," katanya.
Banyak peluncur PLA ditujukan untuk rudal jarak pendek yang ditujukan untuk menyerang target regional tetapi sebagian besar tidak ditugaskan untuk serangan nuklir, kata penilaian Buletin tersebut.
Dalam laporannya, Pentagon memperkirakan bahwa PLA akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir operasional pada tahun 2030, karena berupaya membangun kekuatan yang lebih besar mulai dari rudal serang presisi berkekuatan rendah hingga rudal balistik antarbenua dengan dampak ledakan multi-megaton.
Disebutkan oleh lembaga itu bahwa China sedang membangun sekitar 350 silo rudal baru dan beberapa pangkalan baru untuk peluncur mobile darat.
Diperkirakan bahwa militer China; Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), memiliki sekitar 712 peluncur untuk rudal berbasis darat tetapi tidak semuanya ditugaskan untuk senjata nuklir. "Dari peluncur tersebut, 462 dapat dimuat dengan rudal yang dapat mencapai daratan Amerika Serikat," katanya.
Banyak peluncur PLA ditujukan untuk rudal jarak pendek yang ditujukan untuk menyerang target regional tetapi sebagian besar tidak ditugaskan untuk serangan nuklir, kata penilaian Buletin tersebut.
Dalam laporannya, Pentagon memperkirakan bahwa PLA akan memiliki lebih dari 1.000 hulu ledak nuklir operasional pada tahun 2030, karena berupaya membangun kekuatan yang lebih besar mulai dari rudal serang presisi berkekuatan rendah hingga rudal balistik antarbenua dengan dampak ledakan multi-megaton.
(mas)
Lihat Juga :