AS Terus Bahas Proposal Gencatan Senjata yang Diterima Hamas

Rabu, 20 Agustus 2025 - 06:55 WIB
loading...
AS Terus Bahas Proposal...
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, berbicara di ruang Konferensi Pers Gedung Putih di Washington, DC, Amerika Serikat, pada 19 Juni 2025. Foto/Celal Güne?/Anadolu Agency
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) tetap terlibat dalam diskusi mengenai proposal gencatan senjata di Jalur Gaza yang telah diterima kelompok perlawanan Palestina, Hamas. Gedung Putih menyatakan hal itu pada hari Selasa (19/8/2025), dilansir Anadolu.

"Mengenai proposal yang telah diterima Hamas ini, Amerika Serikat terus membahasnya," ujar juru bicara Karoline Leavitt kepada wartawan ketika ditanya tentang posisi AS dalam proposal yang dimediasi Mesir-Qatar, seraya menambahkan ia akan "membiarkan presiden mempertimbangkannya."

Leavitt menyatakan unggahan media sosial Presiden AS Donald Trump memengaruhi keputusan Hamas, meskipun ia tidak memberikan bukti.

"Saya rasa bukan suatu kebetulan Hamas menerima proposal ini setelah Presiden Amerika Serikat mengunggah pernyataan yang sangat tegas tentang konflik ini di Truth Social kemarin," klaimnya.

Hamas mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka menerima proposal Mesir-Qatar tanpa mengungkapkan detailnya.

Lembaga penyiaran Israel, KAN, melaporkan rencana tersebut mirip dengan kerangka kerja awal utusan AS Steve Witkoff yang menetapkan pembebasan 10 sandera hidup dan 18 jenazah dengan imbalan gencatan senjata selama 60 hari.

Trump, Senin, mengunggah pernyataan bahwa pembebasan sandera hanya akan terjadi "ketika Hamas dikonfrontasi dan dihancurkan," seraya menambahkan "semakin cepat hal ini terjadi, semakin besar peluang keberhasilannya."

Israel belum menanggapi proposal tersebut.

Menurut perkiraan Israel, sekitar 50 tawanan masih berada di Gaza, termasuk 20 orang yang diyakini masih hidup.

Israel menahan lebih dari 10.800 warga Palestina di penjara-penjaranya dalam kondisi yang memprihatinkan, dengan kelompok-kelompok hak asasi manusia melaporkan kematian akibat penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis.

Israel telah membunuh lebih dari 62.000 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023. Kampanye militer telah menghancurkan wilayah kantong tersebut dan membawanya ke ambang kelaparan.

November lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di wilayah kantong tersebut.

Baca juga: Trump: Tak Ada Pengembalian Krimea dan Tak Ada NATO untuk Ukraina
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
Politik AS Didominasi...
Politik AS Didominasi Manula! Ini Deretan Politisi Tua yang Melebihi Usia Pensiun
Iran Dituding Retas...
Iran Dituding Retas Jaringan Seluler Timur Tengah untuk Lacak Personel AS
Iran Ejek AS Ngotot...
Iran Ejek AS Ngotot Terapkan Tarif di Selat Hormuz: Biaya 20% Trump Terlalu Mahal
AS Lancarkan Lebih Banyak...
AS Lancarkan Lebih Banyak Serangan ke Iran, Trump Kembali Blokade Selat Hormuz
Pertama Kali, Pasukan...
Pertama Kali, Pasukan AS Serang Pangkalan Angkatan Laut Iran dengan Drone Laut
Trump Minta Tarif 20%...
Trump Minta Tarif 20% Kargo di Selat Hormuz, Bisa Kantongi Rp541 Miliar per Supertanker
Breaking News!AS Kembali...
Breaking News!AS Kembali Bombardir Iran Besar-besaran, Tentara dan Warga Tewas
Pertama Kali, Militer...
Pertama Kali, Militer AS Gunakan Drone Laut Serang Iran
Rekomendasi
Mengapa Safar Dijuluki...
Mengapa Safar Dijuluki Bulan Perang? Simak 9 Peristiwa Bersejarah Islam Ini
Gunung Dukono Erupsi,...
Gunung Dukono Erupsi, Luncurkan Abu Vulkanik Setinggi 2.300 Meter
Sri Radjasa Duga Ada...
Sri Radjasa Duga Ada Motif Politik di Balik Kasus Febrie Adriansyah
Berita Terkini
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
Jerman akan Beli 50.000...
Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
Politik AS Didominasi...
Politik AS Didominasi Manula! Ini Deretan Politisi Tua yang Melebihi Usia Pensiun
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
10 Danau Terjernih di...
10 Danau Terjernih di Dunia, Nomor 7 dari Indonesia
Iran Dituding Retas...
Iran Dituding Retas Jaringan Seluler Timur Tengah untuk Lacak Personel AS
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved