Picu Kontroversi, Dua Pria Bersaudara yang Berbagi Istri Angkat Bicara
Minggu, 10 Agustus 2025 - 11:57 WIB
loading...
Perempuan di India menikahi dua pria bersaudara. Mereka tak peduli dengan kritik atas pernikahan poliandri tersebut. Foto/X @BalbilKumar23
A
A
A
NEW DELHI - Dua pria bersaudara asal Himachal Pradesh, India, yang menikahi perempuan yang sama telah membela keputusan mereka. Mereka mengatakan tidak peduli terhadap kritik atas praktik poliandri atau berbagi istri tersebut.
Mereka justru bangga menjalani tradisi poliandri kuno klan Hatti yang telah berusia berabad-abad.
Kapil Negi dan Pradeep Negi dari keluarga Thindo di Shillai menikahi Sunita Chauhan dari desa Kunhat dengan adat poliandri tradisional yang dikenal sebagai "Jodidar Pratha".
Keputusan tersebut, jelas mereka, menggarisbawahi pentingnya "Jodidara"—istilah daerah mereka untuk poliandri persaudaraan—dan melampaui keyakinan pribadi.
Baca Juga: Perempuan Ini Nikahi 2 Pria Sekaligus, Pesta Pernikahan Poliandri Meriah 3 Hari Berturut-turut
Dalam sebuah video yang diunggah di Facebook, Pradeep Negi mengatakan tradisi tersebut telah diikuti selama beberapa generasi dan akan terus berlanjut.
"Saya tidak peduli jika ada orang yang mencaci maki kami di media sosial," kata Pradeep, seperti dikutip dari NDTV, Minggu (10/8/2025).
Dia menambahkan bahwa "Jodidar Pratha" tidak hanya berlaku di wilayah mereka; tradisi ini juga ada di Jaunsar-Bawar, Uttarakhand, di mana kedua mempelai bertukar karangan bunga dengan perempuan yang sama dalam pernikahan semacam itu.
Kapil Negi, saudaranya, menjelaskan bahwa pernikahan mereka bersifat sukarela, berbeda dengan pernikahan paksa di beberapa tempat. Pengaturan ini dapat diterima oleh kedua saudara laki-laki dan istri mereka, dan keluarga mereka sepenuhnya menyetujui pernikahan tersebut.
"Saya akan terus memperjuangkan tradisi dan budaya kami. Orang-orang yang tidak terbiasa dengan adat istiadat kami juga berusaha untuk menyampaikan pendapat mereka. Kami semua menyetujui pernikahan ini, dan keluarga serta masyarakat kami merasa senang," lanjut Pradeep.
Pradeep mengatakan bahwa mereka berasal dari keluarga berpenghasilan rendah dengan sedikit harta dan tanpa ambisi untuk menjadi bintang. "Kami tidak menikah untuk menjadi berita utama," kata saudaranya, Kapil.
"Satu-satunya tujuan pernikahan ini adalah untuk tetap bersama dan terus saling mencintai. Kami meminta orang-orang untuk tidak mengkritik kami karena kami memiliki kehidupan kami sendiri dan kami merasa cukup dengan itu," pungkas Pradeep.
Pernikahan poliandri tersebut berlangsung di Shillai, wilayah Trans-Giri, distrik Sirmaur. Dimulai pada 12 Juli, upacara pernikahan berlangsung selama tiga hari yang meriah, ditandai dengan tarian, lagu daerah setempat, dan nuansa khas perayaan bersama.
Adat istiadat kuno ini telah lama dilestarikan karena kemampuannya mencegah pembagian tanah leluhur, sebuah isu penting bagi masyarakat petani dataran tinggi. Kakak laki-laki tertua sering diakui sebagai ayah sah dari anak-anak yang lahir dalam pernikahan semacam itu.
Mereka justru bangga menjalani tradisi poliandri kuno klan Hatti yang telah berusia berabad-abad.
Kapil Negi dan Pradeep Negi dari keluarga Thindo di Shillai menikahi Sunita Chauhan dari desa Kunhat dengan adat poliandri tradisional yang dikenal sebagai "Jodidar Pratha".
Keputusan tersebut, jelas mereka, menggarisbawahi pentingnya "Jodidara"—istilah daerah mereka untuk poliandri persaudaraan—dan melampaui keyakinan pribadi.
Baca Juga: Perempuan Ini Nikahi 2 Pria Sekaligus, Pesta Pernikahan Poliandri Meriah 3 Hari Berturut-turut
Dalam sebuah video yang diunggah di Facebook, Pradeep Negi mengatakan tradisi tersebut telah diikuti selama beberapa generasi dan akan terus berlanjut.
"Saya tidak peduli jika ada orang yang mencaci maki kami di media sosial," kata Pradeep, seperti dikutip dari NDTV, Minggu (10/8/2025).
Dia menambahkan bahwa "Jodidar Pratha" tidak hanya berlaku di wilayah mereka; tradisi ini juga ada di Jaunsar-Bawar, Uttarakhand, di mana kedua mempelai bertukar karangan bunga dengan perempuan yang sama dalam pernikahan semacam itu.
Kapil Negi, saudaranya, menjelaskan bahwa pernikahan mereka bersifat sukarela, berbeda dengan pernikahan paksa di beberapa tempat. Pengaturan ini dapat diterima oleh kedua saudara laki-laki dan istri mereka, dan keluarga mereka sepenuhnya menyetujui pernikahan tersebut.
"Saya akan terus memperjuangkan tradisi dan budaya kami. Orang-orang yang tidak terbiasa dengan adat istiadat kami juga berusaha untuk menyampaikan pendapat mereka. Kami semua menyetujui pernikahan ini, dan keluarga serta masyarakat kami merasa senang," lanjut Pradeep.
Pradeep mengatakan bahwa mereka berasal dari keluarga berpenghasilan rendah dengan sedikit harta dan tanpa ambisi untuk menjadi bintang. "Kami tidak menikah untuk menjadi berita utama," kata saudaranya, Kapil.
"Satu-satunya tujuan pernikahan ini adalah untuk tetap bersama dan terus saling mencintai. Kami meminta orang-orang untuk tidak mengkritik kami karena kami memiliki kehidupan kami sendiri dan kami merasa cukup dengan itu," pungkas Pradeep.
Pernikahan poliandri tersebut berlangsung di Shillai, wilayah Trans-Giri, distrik Sirmaur. Dimulai pada 12 Juli, upacara pernikahan berlangsung selama tiga hari yang meriah, ditandai dengan tarian, lagu daerah setempat, dan nuansa khas perayaan bersama.
Adat istiadat kuno ini telah lama dilestarikan karena kemampuannya mencegah pembagian tanah leluhur, sebuah isu penting bagi masyarakat petani dataran tinggi. Kakak laki-laki tertua sering diakui sebagai ayah sah dari anak-anak yang lahir dalam pernikahan semacam itu.
(mas)
Lihat Juga :