Boston Consulting Group Susun Rencana Pindah Warga Gaza ke Somalia
Kamis, 07 Agustus 2025 - 17:45 WIB
loading...
Warga Palestina yang kelaparan menunggu menerima makanan di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza, pada 31 Juli 2025. Foto/Abdalhkem Abu Riash/Anadolu
A
A
A
JALUR GAZA - Boston Consulting Group (BCG) memodelkan rencana untuk merelokasi warga Palestina dari Gaza ke Somalia dan Somaliland. Rencana itu disusun atas nama para pengusaha Israel yang ingin membangun kembali wilayah kantong tersebut.
Orang-orang yang mengetahui pekerjaan tersebut mengatakan kepada Financial Times bahwa kedua negara Afrika tersebut termasuk di antara sejumlah negara tujuan deportasi warga Palestina.
Daftar tersebut juga mencakup Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yordania.
Pemodelan ini berawal dari upaya BCG dalam membantu mendirikan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Amerika Serikat (AS). GHF telah banyak dikritik karena banyaknya korban jiwa di lokasi pengiriman bantuannya.
Pemodelan pascaperang ini, ketika dilaporkan, memicu protes keras dan perusahaan konsultan tersebut secara terbuka menyangkal pekerjaan tersebut, dengan menyatakan mitra yang bertanggung jawab telah diperingatkan untuk tidak melakukannya.
Rencana relokasi didasarkan pada laporan media yang menunjukkan pejabat Israel dan AS telah berdiskusi dengan para pemimpin Afrika Timur tentang penerimaan warga Palestina yang dideportasi, dengan imbalan keuntungan seperti pengakuan mereka atas Somaliland yang memisahkan diri sebagai negara merdeka.
Ancaman relokasi, yang menurut Presiden AS Donald Trump akan memungkinkan pembangunan kembali Jalur Gaza, telah dicap sebagai pembersihan etnis oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia, badan-badan internasional, dan pejabat asing.
“Dengan menerima warga Gaza yang pindah sementara dan sukarela, suatu negara akan mendapatkan suntikan populasi yang akan memberikan manfaat ekonomi yang jelas signifikan,” ujar seseorang yang mengetahui pekerjaan tersebut kepada FT.
“Namun, negara-negara dalam model tersebut tidak dipilih berdasarkan pengetahuan tentang diskusi-diskusi spesifik.
Tujuannya adalah untuk memahami isu-isu ekonomi terkait opsi-opsi yang diajukan Presiden Trump,” papar sumber itu.
Satu slide yang terkait dengan rencana tersebut dilaporkan memperkirakan 25% warga Palestina di Gaza akan memutuskan pindah ke luar wilayah kantong tersebut, dengan mayoritas tidak akan kembali.
BCG memproyeksikan manfaat ekonomi sebesar USD4,7 miliar bagi negara-negara yang menerima warga Palestina selama empat tahun pertama.
Dilaporkan bahwa BCG—yang juga memiliki Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai salah satu alumninya—terlibat dengan GHF ketika kontraktor keamanan AS, Orbis, menunjuk perusahaan tersebut untuk membantu studi kelayakan operasi bantuan baru.
BCG dilaporkan dipilih karena hubungannya dengan Phil Reilly, mantan perwira CIA yang bekerja di Orbis.
Seperti yang pertama kali dilaporkan Middle East Eye, Reilly adalah penasihat senior BCG selama delapan tahun, hingga enam bulan yang lalu, ketika ia mendirikan Safe Reach Solutions, perusahaan keamanan dan logistik nirlaba yang menjaga pusat-pusat bantuan GHF di Gaza.
FT juga melaporkan staf dari Tony Blair Institute berpartisipasi dalam proyek pascaperang di Gaza yang mencakup rencana "Trump Riviera" dan menggunakan model keuangan yang dikembangkan BCG.
Baca juga: Kesepakatan Dicapai untuk Gelar Pertemuan Putin dan Trump dalam Beberapa Hari Lagi
Orang-orang yang mengetahui pekerjaan tersebut mengatakan kepada Financial Times bahwa kedua negara Afrika tersebut termasuk di antara sejumlah negara tujuan deportasi warga Palestina.
Daftar tersebut juga mencakup Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Yordania.
Pemodelan ini berawal dari upaya BCG dalam membantu mendirikan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang didukung Amerika Serikat (AS). GHF telah banyak dikritik karena banyaknya korban jiwa di lokasi pengiriman bantuannya.
Pemodelan pascaperang ini, ketika dilaporkan, memicu protes keras dan perusahaan konsultan tersebut secara terbuka menyangkal pekerjaan tersebut, dengan menyatakan mitra yang bertanggung jawab telah diperingatkan untuk tidak melakukannya.
Rencana relokasi didasarkan pada laporan media yang menunjukkan pejabat Israel dan AS telah berdiskusi dengan para pemimpin Afrika Timur tentang penerimaan warga Palestina yang dideportasi, dengan imbalan keuntungan seperti pengakuan mereka atas Somaliland yang memisahkan diri sebagai negara merdeka.
Ancaman relokasi, yang menurut Presiden AS Donald Trump akan memungkinkan pembangunan kembali Jalur Gaza, telah dicap sebagai pembersihan etnis oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia, badan-badan internasional, dan pejabat asing.
“Dengan menerima warga Gaza yang pindah sementara dan sukarela, suatu negara akan mendapatkan suntikan populasi yang akan memberikan manfaat ekonomi yang jelas signifikan,” ujar seseorang yang mengetahui pekerjaan tersebut kepada FT.
“Namun, negara-negara dalam model tersebut tidak dipilih berdasarkan pengetahuan tentang diskusi-diskusi spesifik.
Tujuannya adalah untuk memahami isu-isu ekonomi terkait opsi-opsi yang diajukan Presiden Trump,” papar sumber itu.
Satu slide yang terkait dengan rencana tersebut dilaporkan memperkirakan 25% warga Palestina di Gaza akan memutuskan pindah ke luar wilayah kantong tersebut, dengan mayoritas tidak akan kembali.
BCG memproyeksikan manfaat ekonomi sebesar USD4,7 miliar bagi negara-negara yang menerima warga Palestina selama empat tahun pertama.
Dilaporkan bahwa BCG—yang juga memiliki Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai salah satu alumninya—terlibat dengan GHF ketika kontraktor keamanan AS, Orbis, menunjuk perusahaan tersebut untuk membantu studi kelayakan operasi bantuan baru.
BCG dilaporkan dipilih karena hubungannya dengan Phil Reilly, mantan perwira CIA yang bekerja di Orbis.
Seperti yang pertama kali dilaporkan Middle East Eye, Reilly adalah penasihat senior BCG selama delapan tahun, hingga enam bulan yang lalu, ketika ia mendirikan Safe Reach Solutions, perusahaan keamanan dan logistik nirlaba yang menjaga pusat-pusat bantuan GHF di Gaza.
FT juga melaporkan staf dari Tony Blair Institute berpartisipasi dalam proyek pascaperang di Gaza yang mencakup rencana "Trump Riviera" dan menggunakan model keuangan yang dikembangkan BCG.
Baca juga: Kesepakatan Dicapai untuk Gelar Pertemuan Putin dan Trump dalam Beberapa Hari Lagi
(sya)
Lihat Juga :