600 Mantan Pejabat Israel Minta Trump Bantu Akhiri Perang Gaza, Berikut 5 Alasannya

Selasa, 05 Agustus 2025 - 02:20 WIB
loading...
600 Mantan Pejabat Israel...
Ratusan mantan pejabat Israel minta Trump untuk bantu akhiri perang Gaza. Foto/X
A A A
GAZA - Sekelompok sekitar 600 pensiunan pejabat keamanan Israel , termasuk mantan kepala badan intelijen, telah menulis surat kepada Presiden AS Donald Trump untuk menekan Israel agar segera mengakhiri perang di Gaza. Seruan itu ditengah upaya Netanyahu tak mau menghentikan perang Gaza.

Permohonan mereka muncul di tengah laporan bahwa Netanyahu sedang mendorong perluasan operasi militer di Gaza karena perundingan gencatan senjata tidak langsung dengan Hamas telah terhenti.

Israel melancarkan perang yang menghancurkan di Gaza menyusul serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang.

Lebih dari 60.000 orang telah tewas akibat kampanye militer Israel di Gaza sejak saat itu, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas.

Pada hari Senin, Kementerian melaporkan bahwa setidaknya 94 orang tewas di Gaza dalam sehari terakhir, termasuk puluhan orang yang dikatakan tewas dalam serangan Israel.

Setidaknya 24 orang tewas saat mencari bantuan, tambahnya. Laporan semacam itu hampir terjadi setiap hari dalam beberapa bulan terakhir tetapi sulit diverifikasi karena jurnalis internasional, termasuk BBC, diblokir oleh Israel untuk memasuki Gaza secara independen.

600 Mantan Pejabat Israel Minta Trump Bantu Akhiri Perang Gaza, Berikut 5 Alasannya

1. Hamas Bukan Lagi Ancaman Strategis

"Menurut penilaian profesional kami, Hamas tidak lagi menjadi ancaman strategis bagi Israel," kata para pejabat tersebut.

"Kredibilitas Anda di mata mayoritas rakyat Israel memperkuat kemampuan Anda untuk mengarahkan Perdana Menteri [Benjamin] Netanyahu dan pemerintahannya ke arah yang benar: Akhiri perang, kembalikan para sandera, hentikan penderitaan," tulis mereka.

Baca Juga: Anggota NATO Ini Bangun Pos Keamanan di Sepanjang Perbatasan Rusia

2. Kelaparan Melanda Gaza, termasuk Sandera Israel

Wilayah tersebut juga mengalami kekurangan massal akibat pembatasan ketat yang diberlakukan oleh Israel terhadap apa yang diizinkan masuk ke Gaza. Kementerian mengatakan 180 orang, termasuk 93 anak-anak, telah meninggal karena kekurangan gizi sejak dimulainya perang.

Badan-badan yang didukung PBB mengatakan "skenario terburuk kelaparan sedang terjadi" di Gaza.

Intervensi terbaru oleh para mantan pejabat tinggi Israel tersebut terjadi setelah video dua sandera Israel yang kurus kering dirilis oleh militan Hamas dan Jihad Islam.

Video-video tersebut dikecam secara luas oleh para pemimpin Israel dan Barat.

Setelah video-video tersebut dirilis, Netanyahu berbicara dengan kedua keluarga sandera, memberi tahu mereka bahwa upaya untuk memulangkan semua sandera "akan terus berlanjut secara konstan dan tanpa henti".

Namun seorang pejabat Israel - yang banyak dikutip oleh media lokal - mengatakan Netanyahu sedang berupaya membebaskan para sandera melalui "kekalahan militer Hamas".

Kemungkinan eskalasi baru di Gaza dapat semakin membuat marah sekutu Israel yang telah mendesak gencatan senjata segera karena laporan kematian warga Palestina akibat kelaparan atau malnutrisi mengguncang dunia.

3. Menolak Gagasan Serangan Militer Baru

Kelompok utama yang mendukung keluarga para sandera mengecam gagasan serangan militer baru dengan mengatakan: "Netanyahu sedang membawa Israel dan para sandera menuju kehancuran."

Pandangan tersebut secara gamblang diutarakan dalam surat kepada Trump oleh mantan kepala Mossad Tamir Pardo, Ami Ayalon, mantan kepala Shin Bet - badan intelijen domestik Israel - mantan Perdana Menteri Ehud Barak, dan mantan Menteri Pertahanan Moshe Yaalon, di antara tokoh-tokoh lainnya.

"Awalnya perang ini adalah perang yang adil, perang defensif, tetapi ketika kita mencapai semua tujuan militer, perang ini bukan lagi perang yang adil," kata Ayalon.

4. Memulangkan Para Sandera

Para mantan pemimpin tinggi tersebut memimpin kelompok Komandan untuk Keamanan Israel (CIS), yang sebelumnya telah mendesak pemerintah untuk fokus mengamankan pemulangan para sandera.

"Hentikan Perang Gaza! Atas nama CIS, kelompok terbesar mantan jenderal IDF Israel dan Mossad, Shin Bet, Kepolisian, serta Korps Diplomatik, kami mendesak Anda untuk mengakhiri perang Gaza. Anda telah melakukannya di Lebanon. Saatnya melakukannya di Gaza juga," tulis mereka kepada presiden AS.

5. Derasnya Dorongan Banyak Negara Mengakui Palestina

Israel telah menghadapi isolasi internasional yang semakin meningkat, karena kerusakan yang meluas di Gaza dan penderitaan warga Palestina memicu kemarahan.

Jajak pendapat di seluruh dunia menunjukkan bahwa opini publik semakin negatif terhadap Israel, yang memberikan tekanan kepada para pemimpin Barat untuk bertindak.

Namun, belum jelas tekanan apa, jika ada, yang akan dipilih Trump untuk diberikan kepada perdana menteri Israel.

Presiden AS secara konsisten mendukung sekutunya, meskipun ia secara terbuka mengakui minggu lalu bahwa ada "kelaparan nyata" di Gaza setelah Netanyahu bersikeras tidak ada hal seperti itu.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
AS Janji Ubah Hubungan...
AS Janji Ubah Hubungan dengan Iran secara Drastis, jika...
Rekomendasi
Jaga HET MinyaKita di...
Jaga HET MinyaKita di Angka Rp15.700 per Liter, Istana Buka Suara
Messi Menyala! Argentina...
Messi Menyala! Argentina Tundukkan Austria 2-0
Qodari: Haji 2026 Lancar,...
Qodari: Haji 2026 Lancar, Masa Tunggu Dipangkas dan Layanan Ditingkatkan
Berita Terkini
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Infografis
Respons Rusia soal Trump...
Respons Rusia soal Trump Telepon Putin untuk Akhiri Perang Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved