Jenderal IRGC Ungkap Alasan Rusia dan China Tak Bantu Iran Melawan Israel
Senin, 04 Agustus 2025 - 09:31 WIB
loading...
A
A
A
“Jawabannya adalah bahwa sifat perjanjian-perjanjian ini tidak mencakup pertahanan bersama atau kewajiban bagi salah satu negara untuk memasuki perang atas nama negara lain," paparnya, seperti dikutip dari Iran International, Senin (4/8/2025).
Javani menekankan bahwa Iran tidak mencari dukungan militer dari luar selama konflik. “Republik Islam tidak meminta bantuan dari negara mana pun—bahkan dari anggota Poros Perlawanan,” ujarnya, merujuk pada pasukan milisi yang didukung Teheran di seluruh kawasan Timur Tengah.
Menanggapi anggapan bahwa perjanjian jangka panjang dengan Beijing dan Moskow menyiratkan dukungan militer bersama, Javani mengatakan: “Ini adalah perjanjian kerja sama yang melibatkan kolaborasi militer, penjualan senjata, dan bidang-bidang lainnya. Namun, tidak seperti pakta keamanan formal, perjanjian ini tidak mewajibkan para pihak untuk saling membela di masa perang.”
Dia lantas memberikan analogi: "Misalnya, kita memiliki perjanjian kerja sama militer dengan Moskow, tetapi ketika Rusia memasuki perang dengan Ukraina, kita tidak berkewajiban untuk mendukung mereka, dan demikian pula, mereka tidak berkewajiban untuk bergabung dengan kita dalam konflik apa pun."
Komentar tersebut muncul di tengah perdebatan di media dan kalangan politik Iran mengenai apa yang dianggap sebagian orang sebagai tanggapan suam-suam kuku dari mitra strategis Iran.
Selama konflik, Rusia mengecam serangan udara AS terhadap target-target Iran sebagai "tidak dapat dibenarkan" dan "agresif", sementara China menyerukan pengendalian diri dan dialog. Keduanya tidak memberikan bantuan material maupun militer apa pun.
Javani menekankan bahwa Iran tidak mencari dukungan militer dari luar selama konflik. “Republik Islam tidak meminta bantuan dari negara mana pun—bahkan dari anggota Poros Perlawanan,” ujarnya, merujuk pada pasukan milisi yang didukung Teheran di seluruh kawasan Timur Tengah.
Menanggapi anggapan bahwa perjanjian jangka panjang dengan Beijing dan Moskow menyiratkan dukungan militer bersama, Javani mengatakan: “Ini adalah perjanjian kerja sama yang melibatkan kolaborasi militer, penjualan senjata, dan bidang-bidang lainnya. Namun, tidak seperti pakta keamanan formal, perjanjian ini tidak mewajibkan para pihak untuk saling membela di masa perang.”
Dia lantas memberikan analogi: "Misalnya, kita memiliki perjanjian kerja sama militer dengan Moskow, tetapi ketika Rusia memasuki perang dengan Ukraina, kita tidak berkewajiban untuk mendukung mereka, dan demikian pula, mereka tidak berkewajiban untuk bergabung dengan kita dalam konflik apa pun."
Komentar tersebut muncul di tengah perdebatan di media dan kalangan politik Iran mengenai apa yang dianggap sebagian orang sebagai tanggapan suam-suam kuku dari mitra strategis Iran.
Selama konflik, Rusia mengecam serangan udara AS terhadap target-target Iran sebagai "tidak dapat dibenarkan" dan "agresif", sementara China menyerukan pengendalian diri dan dialog. Keduanya tidak memberikan bantuan material maupun militer apa pun.
Lihat Juga :