Suku Arab Badui Suriah Tak Tutup Kemungkinan Kembali Memerangi Suku Druze
Senin, 21 Juli 2025 - 18:25 WIB
loading...
A
A
A
Konvoi kemanusiaan pertama dari Bulan Sabit Merah Suriah dilaporkan telah mencapai kota tersebut. Lembaga penyiaran publik Israel melaporkan bahwa Israel telah mengirimkan bantuan medis kepada kaum Druze.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuntut agar pemerintah "menuntut pertanggungjawaban dan mengadili siapa pun yang bersalah atas kekejaman, termasuk mereka yang berada di dalam kelompok mereka sendiri" untuk menjaga kemungkinan Suriah yang bersatu dan damai.
Di Mia'rbah, barat daya Suweida, para pengungsi Badui berkumpul di bekas sekolah. Desa itu masih menanggung luka-luka akibat perang saudara selama bertahun-tahun, dengan bangunan-bangunan yang hancur dan dipenuhi lubang peluru.
Di pusat-pusat distribusi bantuan, para perempuan Badui lanjut usia mengambil air dari tangki di belakang truk. Sebagian besar penduduk di sana adalah perempuan dan anak-anak.
Ketika ditanya apakah menurutnya orang Badui dan Druze bisa hidup berdampingan, seorang perempuan yang mengungsi dari kota Suweida mengatakan hal itu bergantung pada pemerintah di Damaskus.
"Mereka bisa hidup berdampingan jika pemerintah mau mengambil alih dan memerintah, dan jika pemerintah mau memberikan perdamaian dan keamanan," ujarnya.
Dengan tidak adanya otoritas pemerintah, ia mengatakan ia yakin orang Badui tidak bisa mempercayai Druze.
"Mereka pengkhianat, tanpa perdamaian dan keamanan, kami tidak bisa hidup bersama mereka," katanya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuntut agar pemerintah "menuntut pertanggungjawaban dan mengadili siapa pun yang bersalah atas kekejaman, termasuk mereka yang berada di dalam kelompok mereka sendiri" untuk menjaga kemungkinan Suriah yang bersatu dan damai.
Di Mia'rbah, barat daya Suweida, para pengungsi Badui berkumpul di bekas sekolah. Desa itu masih menanggung luka-luka akibat perang saudara selama bertahun-tahun, dengan bangunan-bangunan yang hancur dan dipenuhi lubang peluru.
Di pusat-pusat distribusi bantuan, para perempuan Badui lanjut usia mengambil air dari tangki di belakang truk. Sebagian besar penduduk di sana adalah perempuan dan anak-anak.
Ketika ditanya apakah menurutnya orang Badui dan Druze bisa hidup berdampingan, seorang perempuan yang mengungsi dari kota Suweida mengatakan hal itu bergantung pada pemerintah di Damaskus.
"Mereka bisa hidup berdampingan jika pemerintah mau mengambil alih dan memerintah, dan jika pemerintah mau memberikan perdamaian dan keamanan," ujarnya.
Dengan tidak adanya otoritas pemerintah, ia mengatakan ia yakin orang Badui tidak bisa mempercayai Druze.
"Mereka pengkhianat, tanpa perdamaian dan keamanan, kami tidak bisa hidup bersama mereka," katanya.
(ahm)
Lihat Juga :