Trump Bisa Izinkan Serangan Jarak Jauh Ukraina ke Rusia
Rabu, 16 Juli 2025 - 07:36 WIB
loading...
Rudal MGM-140 ATACMS. Foto/wikipedia
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mempertimbangkan mengizinkan Ukraina melancarkan serangan jarak jauh ke Rusia menggunakan rudal ATACMS buatan AS. Kabar itu diungkap Washington Post pada hari Selasa (15/7/2025), mengutip sejumlah sumber.
Menurut media tersebut, Trump dapat mengizinkan Ukraina menggunakan 18 peluncur ATACMS yang telah dikirim untuk menembak pada jarak tembak penuhnya yang mencapai 300 km.
Satu sumber yang terlibat dalam diskusi tersebut mengatakan kepada Post bahwa keputusan tersebut kemungkinan juga akan mencakup pemberian amunisi ATACMS tambahan kepada Kiev.
“Meskipun ATACMS tidak akan mencapai Moskow atau St. Petersburg, ATACMS akan memungkinkan Ukraina menyerang pangkalan militer, lapangan terbang, dan depot pasokan jauh di dalam Rusia yang saat ini berada di luar jangkauan,” ungkap Post.
Laporan itu juga mencatat para pejabat Pentagon telah selama berbulan-bulan mendorong serangan yang lebih dalam ke Rusia untuk melemahkan militernya.
Laporan ini menyusul ultimatum 50 hari Trump kepada Moskow, yang mengancam akan mengenakan tarif sekunder "berat" hingga 100% kepada mitra dagang Rusia jika tidak ada kemajuan menuju perdamaian.
Ukraina pertama kali diizinkan menggunakan rudal jarak jauh yang dipasok AS terhadap target-target jauh di dalam Rusia oleh pemerintahan Biden pada musim gugur 2024, meskipun dilaporkan dengan batasan geografis.
Namun, pada bulan Januari, pasukan Ukraina telah menghabiskan sebagian besar persediaan ATACMS yang disediakan Washington selama pertempuran sengit dengan pasukan Rusia, menurut laporan AP pada saat itu.
Dalam beberapa kasus, Ukraina telah menggunakan ATACMS untuk menyerang target sipil di dalam wilayah Rusia.
Dalam insiden yang paling banyak diliput Juni lalu, pecahan rudal jatuh di pantai di Krimea, menewaskan empat warga sipil dan melukai lebih dari 150 orang.
The Post juga melaporkan Trump telah melakukan panggilan telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pekan lalu, di mana presiden AS mempertanyakan mengapa Ukraina tidak menargetkan Moskow.
Namun, Gedung Putih menegaskan dalam pernyataan kepada media tersebut bahwa komentar tersebut tidak boleh disalahartikan.
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, "Biasanya, semua ini ternyata palsu. Terkadang memang ada kebocoran serius, bahkan dalam publikasi yang dulunya kami anggap cukup terhormat."
Baca juga: Rusia Respons Ultimatum 50 Hari Trump untuk Sanksi Berat Mitra Dagang Moskow
Menurut media tersebut, Trump dapat mengizinkan Ukraina menggunakan 18 peluncur ATACMS yang telah dikirim untuk menembak pada jarak tembak penuhnya yang mencapai 300 km.
Satu sumber yang terlibat dalam diskusi tersebut mengatakan kepada Post bahwa keputusan tersebut kemungkinan juga akan mencakup pemberian amunisi ATACMS tambahan kepada Kiev.
“Meskipun ATACMS tidak akan mencapai Moskow atau St. Petersburg, ATACMS akan memungkinkan Ukraina menyerang pangkalan militer, lapangan terbang, dan depot pasokan jauh di dalam Rusia yang saat ini berada di luar jangkauan,” ungkap Post.
Laporan itu juga mencatat para pejabat Pentagon telah selama berbulan-bulan mendorong serangan yang lebih dalam ke Rusia untuk melemahkan militernya.
Laporan ini menyusul ultimatum 50 hari Trump kepada Moskow, yang mengancam akan mengenakan tarif sekunder "berat" hingga 100% kepada mitra dagang Rusia jika tidak ada kemajuan menuju perdamaian.
Ukraina pertama kali diizinkan menggunakan rudal jarak jauh yang dipasok AS terhadap target-target jauh di dalam Rusia oleh pemerintahan Biden pada musim gugur 2024, meskipun dilaporkan dengan batasan geografis.
Namun, pada bulan Januari, pasukan Ukraina telah menghabiskan sebagian besar persediaan ATACMS yang disediakan Washington selama pertempuran sengit dengan pasukan Rusia, menurut laporan AP pada saat itu.
Dalam beberapa kasus, Ukraina telah menggunakan ATACMS untuk menyerang target sipil di dalam wilayah Rusia.
Dalam insiden yang paling banyak diliput Juni lalu, pecahan rudal jatuh di pantai di Krimea, menewaskan empat warga sipil dan melukai lebih dari 150 orang.
The Post juga melaporkan Trump telah melakukan panggilan telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pekan lalu, di mana presiden AS mempertanyakan mengapa Ukraina tidak menargetkan Moskow.
Namun, Gedung Putih menegaskan dalam pernyataan kepada media tersebut bahwa komentar tersebut tidak boleh disalahartikan.
Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, "Biasanya, semua ini ternyata palsu. Terkadang memang ada kebocoran serius, bahkan dalam publikasi yang dulunya kami anggap cukup terhormat."
Baca juga: Rusia Respons Ultimatum 50 Hari Trump untuk Sanksi Berat Mitra Dagang Moskow
(sya)
Lihat Juga :