Apa Alasan Sebenarnya Donald Trump Benci Calon Wali Kota Muslim Zohran Mamdani?
Jum'at, 04 Juli 2025 - 15:15 WIB
loading...
Zohran Mamdani, politisi Muslim calon wali kota New York City. Presiden AS Donald Trump mengancam akan menangkapnya. Foto/Dave Sanders via The New York Times
A
A
A
JAKARTA - Zohran Mamdani, politisi Muslim, resmi menjadi calon wali kota New York City setelah memenangkan pemilihan pendahuluan (primary election) Partai Demokrat untuk calon wali kota tersebut. Majunya Mamdani dibenci Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang terang-terangan menyebutnya sebagai "komunis gila 100%".
Jika terpilih dalam pemilihan wali kota New York City November mendatang, politisi 33 tahun itu akan menjadi wali kota Muslim pertama dalam sejarah kota tersebut.
Mamdani, politisi yang menyatakan dirinya sebagai seorang sosialis, berhasil membuat kejutan politik—mengalahkan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo dalam sebuah kontes yang dianggap sebagai pertarungan untuk masa depan Partai Demokrat.
Baca Juga: Diancam Ditangkap Donald Trump, Ini Respons Calon Wali Kota Muslim Zohran Mamdani
Dia merupakan politisi Muslim kelahiran Uganda, namun sudah lama menjadi warga negara AS.
Kemenangan Mamdani dalam perebutan tiket Partai Demokrat untuk calon wali kota New York City telah dirayakan secara luas oleh partai tersebut dan warga New York—tetapi tidak oleh Presiden Trump, yang mempertimbangkan kekacauan politik di bekas kampung halamannya.
"Akhirnya terjadi, Demokrat telah melewati batas," tulis Trump dalam serangkaian postingan di Truth Social.
“Zohran Mamdani, seorang komunis gila 100%, baru saja memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, dan sedang dalam perjalanan untuk menjadi wali kota. Kita pernah memiliki kaum kiri radikal sebelumnya, tetapi ini menjadi sedikit konyol," paparnya.
1. Ideologi Komunis
Trump berulang kali melabeli Mamdani sebagai “100 persen komunis gila” alias "communist lunatic", menyebutnya sebagai ancaman bagi New York dan Amerika Serikat karena agenda progresifnya—mulai dari pembekuan sewa, transportasi publik gratis, hingga pajak tinggi demi mendanai layanan sosial.
2. Penolakan Terhadap Kebijakan Imigrasi
Mamdani asertif menolak izin operasi deportasi imigran oleh Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) di New York City—menggemakan kota tersebut sebagai “kota suaka". Trump merespons dengan ancaman akan menangkap dan bahkan mendeportasi Mamdani jika terpilih sebagai wali kota New York City.
3. Sikap Pro-Palestina
Dukungan vokal Mamdani terhadap Palestina—termasuk pembelaan terhadap slogan “Globalize the Intifada” dan janji menangkap Perdana Menteri (PM) Benjamin Israel Netanyahu telah memancing kemarahan Trump, seorang sekutu kuat Israel.
4. Unsur Asal-usul Alias Imigran
Beberapa serangan Trump, serta pendukungnya, menunjukkan nada xenofobia: mempertanyakan status kewarganegaraan Mamdani, menyindir penampilan, suaranya, dan mengejek akar imigrannya. Bahkan ada narasi implisit bahwa dia tidak pintar.
Trump mengejek kolaborasi Mamdani dengan tokoh progresif Partai Demokrat seperti Alexandria Ocasio-Cortez, Bernie Sanders, hingga Senator Chuck Schumer, menggambarkan mereka sebagai “dungu ekstremis".
Zohran Mamdani, yang menyebut dirinya sebagai penganut paham sosialis, mengatakan Trump menargetkannya karena dia ingin sekali mengalihkan perhatian rakyat Amerika dari pengkhianatan pemerintahannya terhadap kaum pekerja.
Dalam klip video yang menjadi viral di media sosial, Mamdani terdengar mengatakan dia tidak akan menghentikan pekerjaannya dan "akan melawan" kaum Republik.
"Kemarin, Donald Trump mengatakan bahwa saya harus ditangkap. Dia mengatakan bahwa saya harus dideportasi. Dia mengatakan bahwa saya harus di-denaturalisasi. Dan dia mengatakan hal-hal itu tentang saya, seseorang yang akan menjadi wali kota imigran pertama di kota ini dalam beberapa generasi, seseorang yang juga akan menjadi wali kota Muslim pertama dan Asia Selatan pertama dalam sejarah kota ini," kata politisi Partai Demokrat itu saat berpidato dalam sebuah pertemuan massa di kantor pusat Hotel and Gaming Trades Council di New York.
"Hal itu bukan karena siapa saya, dari mana saya berasal, karena penampilan atau cara saya berbicara, tetapi lebih karena dia ingin mengalihkan perhatian dari apa yang saya perjuangkan. Saya berjuang untuk kaum pekerja," paparnya.
Jika terpilih dalam pemilihan wali kota New York City November mendatang, politisi 33 tahun itu akan menjadi wali kota Muslim pertama dalam sejarah kota tersebut.
Mamdani, politisi yang menyatakan dirinya sebagai seorang sosialis, berhasil membuat kejutan politik—mengalahkan mantan Gubernur New York Andrew Cuomo dalam sebuah kontes yang dianggap sebagai pertarungan untuk masa depan Partai Demokrat.
Baca Juga: Diancam Ditangkap Donald Trump, Ini Respons Calon Wali Kota Muslim Zohran Mamdani
Dia merupakan politisi Muslim kelahiran Uganda, namun sudah lama menjadi warga negara AS.
Kemenangan Mamdani dalam perebutan tiket Partai Demokrat untuk calon wali kota New York City telah dirayakan secara luas oleh partai tersebut dan warga New York—tetapi tidak oleh Presiden Trump, yang mempertimbangkan kekacauan politik di bekas kampung halamannya.
"Akhirnya terjadi, Demokrat telah melewati batas," tulis Trump dalam serangkaian postingan di Truth Social.
“Zohran Mamdani, seorang komunis gila 100%, baru saja memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, dan sedang dalam perjalanan untuk menjadi wali kota. Kita pernah memiliki kaum kiri radikal sebelumnya, tetapi ini menjadi sedikit konyol," paparnya.
Alasan Donald Trump Benci Calon Wali Kota Muslim Zohran Mamdani
Alasan Versi Donald Trump
1. Ideologi Komunis
Trump berulang kali melabeli Mamdani sebagai “100 persen komunis gila” alias "communist lunatic", menyebutnya sebagai ancaman bagi New York dan Amerika Serikat karena agenda progresifnya—mulai dari pembekuan sewa, transportasi publik gratis, hingga pajak tinggi demi mendanai layanan sosial.
2. Penolakan Terhadap Kebijakan Imigrasi
Mamdani asertif menolak izin operasi deportasi imigran oleh Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) di New York City—menggemakan kota tersebut sebagai “kota suaka". Trump merespons dengan ancaman akan menangkap dan bahkan mendeportasi Mamdani jika terpilih sebagai wali kota New York City.
3. Sikap Pro-Palestina
Dukungan vokal Mamdani terhadap Palestina—termasuk pembelaan terhadap slogan “Globalize the Intifada” dan janji menangkap Perdana Menteri (PM) Benjamin Israel Netanyahu telah memancing kemarahan Trump, seorang sekutu kuat Israel.
4. Unsur Asal-usul Alias Imigran
Beberapa serangan Trump, serta pendukungnya, menunjukkan nada xenofobia: mempertanyakan status kewarganegaraan Mamdani, menyindir penampilan, suaranya, dan mengejek akar imigrannya. Bahkan ada narasi implisit bahwa dia tidak pintar.
Trump mengejek kolaborasi Mamdani dengan tokoh progresif Partai Demokrat seperti Alexandria Ocasio-Cortez, Bernie Sanders, hingga Senator Chuck Schumer, menggambarkan mereka sebagai “dungu ekstremis".
Alasan Versi Zohran Mamdani
Zohran Mamdani, yang menyebut dirinya sebagai penganut paham sosialis, mengatakan Trump menargetkannya karena dia ingin sekali mengalihkan perhatian rakyat Amerika dari pengkhianatan pemerintahannya terhadap kaum pekerja.
Dalam klip video yang menjadi viral di media sosial, Mamdani terdengar mengatakan dia tidak akan menghentikan pekerjaannya dan "akan melawan" kaum Republik.
"Kemarin, Donald Trump mengatakan bahwa saya harus ditangkap. Dia mengatakan bahwa saya harus dideportasi. Dia mengatakan bahwa saya harus di-denaturalisasi. Dan dia mengatakan hal-hal itu tentang saya, seseorang yang akan menjadi wali kota imigran pertama di kota ini dalam beberapa generasi, seseorang yang juga akan menjadi wali kota Muslim pertama dan Asia Selatan pertama dalam sejarah kota ini," kata politisi Partai Demokrat itu saat berpidato dalam sebuah pertemuan massa di kantor pusat Hotel and Gaming Trades Council di New York.
"Hal itu bukan karena siapa saya, dari mana saya berasal, karena penampilan atau cara saya berbicara, tetapi lebih karena dia ingin mengalihkan perhatian dari apa yang saya perjuangkan. Saya berjuang untuk kaum pekerja," paparnya.
(mas)
Lihat Juga :