Pakar Ungkap Operasi GHF di Gaza Bagian dari Misi Gelap untuk Usir Warga Palestina
Rabu, 02 Juli 2025 - 13:40 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, lebih dari 170 organisasi bantuan pada hari Senin (30/6/2025) mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam sistem distribusi bantuan yang baru diberlakukan Israel dan dikendalikan militer di Gaza, dengan peringatan sistem itu memaksa warga sipil untuk memilih antara “kelaparan atau tembakan”, Anadolu melaporkan.
LSM tersebut meminta masyarakat internasional segera mengambil tindakan guna mengakhiri apa yang mereka gambarkan sebagai "skema distribusi yang mematikan," dan untuk mengembalikan mekanisme koordinasi yang dipimpin PBB sebelumnya yang melibatkan badan-badan seperti UNRWA dan masyarakat sipil Palestina.
Menurut pernyataan tersebut, sistem Israel telah mengganti 400 titik distribusi kemanusiaan dengan hanya empat lokasi yang dikelola militer, sehingga menciptakan zona-zona yang penuh sesak dan berbahaya, tempat orang-orang sering terpapar tembakan.
Dalam waktu kurang dari empat pekan, lebih dari 500 warga Palestina dilaporkan tewas dan hampir 4.000 orang terluka saat berupaya mengakses makanan dan bantuan.
"Daerah-daerah ini telah menjadi lokasi pembantaian berulang-ulang yang terang-terangan mengabaikan hukum humaniter internasional. Anak-anak yatim piatu dan pengasuhnya termasuk di antara yang tewas, dengan anak-anak terluka dalam lebih dari separuh serangan terhadap warga sipil di lokasi-lokasi ini," ungkap LSM tersebut.
Kelompok-kelompok bantuan tersebut menekankan krisis kemanusiaan Gaza semakin dalam dengan cepat di tengah meluasnya kelaparan, kekurangan bahan bakar, dan kurangnya air bersih.
“Sistem kemanusiaan secara sengaja dan sistematis dibongkar oleh blokade dan pembatasan pemerintah Israel, blokade yang sekarang digunakan untuk membenarkan penutupan hampir semua operasi bantuan lainnya demi alternatif mematikan yang dikendalikan militer yang tidak melindungi warga sipil maupun memenuhi kebutuhan dasar,” papar pernyataan itu.
LSM tersebut meminta masyarakat internasional segera mengambil tindakan guna mengakhiri apa yang mereka gambarkan sebagai "skema distribusi yang mematikan," dan untuk mengembalikan mekanisme koordinasi yang dipimpin PBB sebelumnya yang melibatkan badan-badan seperti UNRWA dan masyarakat sipil Palestina.
Menurut pernyataan tersebut, sistem Israel telah mengganti 400 titik distribusi kemanusiaan dengan hanya empat lokasi yang dikelola militer, sehingga menciptakan zona-zona yang penuh sesak dan berbahaya, tempat orang-orang sering terpapar tembakan.
Dalam waktu kurang dari empat pekan, lebih dari 500 warga Palestina dilaporkan tewas dan hampir 4.000 orang terluka saat berupaya mengakses makanan dan bantuan.
"Daerah-daerah ini telah menjadi lokasi pembantaian berulang-ulang yang terang-terangan mengabaikan hukum humaniter internasional. Anak-anak yatim piatu dan pengasuhnya termasuk di antara yang tewas, dengan anak-anak terluka dalam lebih dari separuh serangan terhadap warga sipil di lokasi-lokasi ini," ungkap LSM tersebut.
Kelompok-kelompok bantuan tersebut menekankan krisis kemanusiaan Gaza semakin dalam dengan cepat di tengah meluasnya kelaparan, kekurangan bahan bakar, dan kurangnya air bersih.
“Sistem kemanusiaan secara sengaja dan sistematis dibongkar oleh blokade dan pembatasan pemerintah Israel, blokade yang sekarang digunakan untuk membenarkan penutupan hampir semua operasi bantuan lainnya demi alternatif mematikan yang dikendalikan militer yang tidak melindungi warga sipil maupun memenuhi kebutuhan dasar,” papar pernyataan itu.
Lihat Juga :