Trump Perintahkan AS Tinjau Ulang Penetapan Teroris Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa

Selasa, 01 Juli 2025 - 14:18 WIB
loading...
Trump Perintahkan AS...
Presiden AS Donald Trump perintahkan Amerika meninjau ulang penetapan teroris presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa. Foto/Kepresidenan Republik Arab Suriah
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mencabut sebagian besar sanksi yang telah berlangsung puluhan tahun terhadap Suriah. Trump juga memerintahkan peninjauan ulang penetapan teroris Ahmed al-Sharaa, presiden sementara Suriah.

Al-Sharaa sebelumnya adalah pemimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang menggulingkan rezim pemerintah Presiden Bashar al-Assad.

Trump menandatangani perintah eksekutif tersebut pada hari Senin, melonggarkan pembatasan keuangan yang luas sambil mempertahankan sanksi yang ditargetkan terhadap Assad dan mantan pemerintahannya.

Baca Juga: Gulingkan Assad, Ahmed al-Sharaa Ingin Suriah Normalisasi Hubungan dengan Israel

Sanksi AS terhadap kelompok teroris yang ditetapkan juga akan tetap berlaku. Namun, perintah Trump mengarahkan Menteri Luar Negeri Marco Rubio untuk meninjau penunjukan HTS sebagai "Organisasi Teroris Asing", serta label al-Sharaa sebagai "Teroris Global yang Ditunjuk Khusus".

Washington juga akan meninjau kembali status Suriah sebagai "Negara Sponsor Terorisme", penunjukan yang pertama kali diberlakukan pada tahun 1979.

Keputusan tersebut menyusul pertemuan Trump pada bulan Mei dengan al-Sharaa di Riyadh, di mana diskusi difokuskan pada rekonstruksi Suriah dan potensi normalisasi hubungan dengan Israel.

Saat itu, Trump berjanji untuk memberikan kepemimpinan baru di Damaskus "kesempatan untuk menjadi hebat."

Untuk mengawasi hubungan Washington yang semakin erat dengan Damaskus, Trump menunjuk Thomas Barrack, duta besarnya untuk Turki dan orang kepercayaannya sejak lama, sebagai Utusan Khusus AS untuk Suriah.

Berbicara kepada wartawan pada hari Senin, Barrack mengakui adanya kontroversi. "Tentang seseorang yang pernah menjadi [Jabhat] al-Nusra dan dianggap sebagai orang jahat yang tiba-tiba menjadi pemimpin," ujarnya, menggambarkan paralel historis antara pergeseran politik Suriah dan tahun-tahun awal kemerdekaan Amerika.

"Jika Anda ingat, kami mengalami perang revolusioner yang berlangsung selama 14 bulan. Dan kami mengalami kebrutalan...Dan sejak 1776, ketika kami mendeklarasikan kemerdekaan, butuh waktu 12 tahun hingga kami mendapatkan seorang presiden. Dan siapa presidennya? Presidennya adalah seorang jenderal... George Washington," papar Barrack mengatakan kepada wartawan selama panggilan briefing Departemen Luar Negeri AS.

"Jadi jika Anda mengambil contoh Suriah...Anda memiliki seorang jenderal yang beralih dari masa perang ke posisi sebagai pemimpin negara baru yang dibingkai ulang yang membutuhkan segalanya–dan pada dasarnya itulah yang sedang terjadi," paparnya.

Rubio sebelumnya memperingatkan bahwa Suriah telah menjadi "taman bermain bagi kelompok-kelompok jihadis, termasuk ISIS dan lainnya", dan mengakui bahwa pemimpin baru Suriah tidak lulus pemeriksaan latar belakang mereka dengan FBI, tetapi bersikeras bahwa AS harus mendukung mereka untuk mencegah ketidakstabilan regional yang lebih luas.

"AS mengambil tindakan lebih lanjut untuk mendukung Suriah yang stabil, bersatu, dan damai dengan dirinya sendiri dan negara-negara tetangganya," tulis Rubio dalam sebuah posting di X pada hari Senin (30/6/2025).
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Penembakan di Fasilitas...
Penembakan di Fasilitas Remaja, 6 Orang Tewas
Rekomendasi
Rapat Paripurna DPR...
Rapat Paripurna DPR Setujui 7 Anggota Komisi Informasi Pusat 2026-2030, Ini Daftarnya
Latihan Menembak Dihapus...
Latihan Menembak Dihapus dari Pembekalan Calon Manajer Kopdes, Puan: Sebaiknya Fokus Manajerial Saja
Beasiswa LPDP Tahap...
Beasiswa LPDP Tahap 2 2026 Dibuka Hari Ini, Intip Perubahan Kebijakannya
Berita Terkini
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Infografis
Trump Perintahkan Pembukaan...
Trump Perintahkan Pembukaan Kembali Penjara Alcatraz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved