Siapa Mojtaba Khamenei? Anak Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Penguasa Bayangan Iran
Rabu, 25 Juni 2025 - 13:45 WIB
loading...
Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Foto/ncr iran
A
A
A
TEHERAN - Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua dari Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, merupakan salah satu figur paling berpengaruh namun misterius dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran.
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, namanya kerap dikaitkan dengan berbagai kebijakan strategis negara, mulai dari urusan militer hingga represi terhadap gerakan rakyat.
Mojtaba memainkan peran penting di balik layar, membangun kekuasaan melalui jaringan keluarga, militer, dan institusi keagamaan, serta disebut-sebut sebagai calon kuat penerus ayahnya dalam posisi tertinggi negara.
Profilnya yang tertutup namun penuh kekuasaan menimbulkan kontroversi, terutama di tengah perdebatan publik mengenai legitimasi, pewarisan dinasti, dan masa depan sistem teokrasi Iran.
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, Iran. Ia merupakan anak kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989.
Kelahirannya terjadi pada masa gejolak politik menjelang Revolusi Islam 1979, sehingga kehidupan Mojtaba sejak kecil berada dalam atmosfer revolusioner dan ideologis yang sangat kuat.
Ayahnya saat itu sudah menjadi tokoh penting dalam oposisi anti-Shah dan kemudian menjadi presiden Iran (1981–1989) sebelum naik ke jabatan tertinggi negara.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, Mojtaba melanjutkan studi ke hawzah (pondok pesantren) di Qom—pusat pendidikan ulama Syiah.
Di sana, ia belajar fikih dan filsafat Islam di bawah bimbingan para ulama terkemuka seperti Ayatollah Mesbah Yazdi dan Lotfollah Safi Golpaygani.
Ia tidak dikenal sebagai ulama terkemuka, namun beberapa kalangan menyebutnya telah mencapai tingkat "Hojjatoleslam", satu tingkat di bawah "Ayatollah".
Hingga kini, ia belum diakui sebagai seorang marja‘ atau rujukan agama oleh kalangan ulama.
Pendidikan Mojtaba juga sangat berorientasi politik dan ideologis. Ia tidak sekadar belajar agama, tetapi juga menanamkan garis keras revolusioner Syiah.
Karakter pendidikannya menggambarkan pola pewarisan kekuasaan di Iran, di mana garis keturunan pemimpin besar turut dibekali pemahaman religius sebagai bekal pengaruh politik.
Namun, minimnya publikasi akademik atau pengajaran formalnya di Qom menunjukkan ia tidak mengambil jalur ulama publik secara tradisional.
Mojtaba bergabung dengan Basij—milisi sukarelawan ideologis—pada masa remajanya, dan dilaporkan ikut serta dalam Perang Iran–Irak (1980–1988), khususnya dalam divisi Sayyid al‑Shuhada.
Meski perannya tidak banyak terdokumentasi, keterlibatannya memperkuat hubungan emosional dan strategisnya dengan militer ideologis Iran.
Basij dan IRGC (Pasukan Garda Revolusi) menjadi tulang punggung kekuasaan politik konservatif di Iran.
Setelah perang berakhir, Mojtaba tidak kembali ke kehidupan sipil biasa. Ia justru membangun koneksi militer dan keamanan dalam struktur IRGC.
Ia dikenal sebagai pengatur strategi di balik layar, termasuk dalam pelatihan pasukan elite Basij dan penyusunan doktrin ideologis.
Dalam dekade 2000-an, ia disebut-sebut memegang kendali langsung terhadap unit-unit tertentu dari Basij dan menjadi penghubung antara milisi ini dengan Pemimpin Tertinggi.
Keberadaan Mojtaba dalam Basij dan IRGC tidak bersifat simbolik saja. Ia aktif memberikan pengarahan kepada komandan lapangan dalam menghadapi demonstrasi dan gerakan mahasiswa.
Beberapa mantan pejabat intelijen Iran mengonfirmasi nama Mojtaba sering muncul dalam rapat rahasia pengambilan keputusan militer di level strategis.
Ini menunjukkan perannya bukan hanya sebagai "anak pemimpin", tapi sebagai operator politik dan militer sejati.
Meskipun tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan Iran, Mojtaba Khamenei dikenal luas sebagai “figur bayangan” paling berpengaruh dalam lingkar kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei.
Ia dikatakan bertindak sebagai penghubung utama antara ayahnya dengan militer, intelijen, dan faksi politik konservatif garis keras.
Tidak ada keputusan penting yang diambil tanpa keterlibatan langsung atau pengaruh dari Mojtaba.
Dalam Pemilu Presiden 2005 dan 2009, Mojtaba memainkan peran kunci dalam kemenangan Mahmoud Ahmadinejad.
Ia mengarahkan jaringan Basij untuk mendukung Ahmadinejad sebagai representasi kaum miskin dan konservatif, serta mengamankan dukungan dalam proses pemilu.
Setelah Ahmadinejad menjabat, banyak kebijakan kerasnya terhadap Barat dan oposisi domestik sejalan dengan visi Mojtaba dan IRGC.
Lebih dari itu, ia juga mengontrol beberapa media pemerintah dan outlet propaganda, seperti IRIB dan jaringan surat kabar konservatif.
Mojtaba bahkan dijuluki “Bayangan Pemimpin Tertinggi” oleh beberapa analis politik Iran karena kemampuannya mengatur banyak hal tanpa terlihat di permukaan.
Peran informal ini membuatnya hampir kebal dari pertanggungjawaban hukum atau kritik politik.
Keterlibatan Mojtaba dalam represi terhadap gerakan rakyat sangat menonjol, terutama pada dua momen penting: Gerakan Hijau 2009 dan Protes Mahsa Amini 2022.
Dalam kedua kasus, Basij dan pasukan keamanan bereaksi keras terhadap demonstrasi yang menuntut reformasi, demokratisasi, dan kebebasan sosial. Mojtaba diyakini sebagai arsitek utama taktik kekerasan dan pengendalian informasi.
Dalam protes 2009, setelah kemenangan kontroversial Ahmadinejad, jutaan orang turun ke jalan. Mojtaba dituduh langsung memerintahkan penangkapan tokoh reformis dan mengatur penyiksaan terhadap aktivis.
Meskipun tidak pernah ada bukti dokumenter yang dipublikasikan secara resmi, banyak pengamat dalam dan luar negeri sepakat perintah represi datang dari lingkar dalam Khamenei, termasuk Mojtaba.
Demikian pula dalam kasus Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang tewas dalam tahanan polisi moralitas, publik menyalahkan struktur represif negara yang dikendalikan dari balik layar.
Nama Mojtaba kembali disebut rakyat dalam protes di jalan, bahkan dalam slogan: “Mojtaba, semoga kamu tidak jadi pemimpin!”
Hal ini menunjukkan ia bukan tokoh yang dicintai rakyat, tapi lebih dipandang sebagai simbol represi elit penguasa.
Mojtaba memiliki hubungan strategis dan historis dengan komando tinggi IRGC, terutama dengan unit elit seperti Quds Force, yang bertanggung jawab atas operasi militer luar negeri.
Selama masa hidup Jenderal Qassem Soleimani, Mojtaba sering hadir dalam pertemuan-pertemuan strategis yang membahas kebijakan Iran terhadap Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina.
Hubungan ini memperkuat posisinya sebagai tokoh kebijakan luar negeri bayangan.
Beberapa diplomat asing menyatakan bahwa Mojtaba adalah figur yang sangat sulit dijangkau, tapi pengaruhnya terlihat jelas dalam keputusan-keputusan militer di Timur Tengah.
Misalnya, dukungan Iran terhadap milisi Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, dan kelompok Hashd al-Shaabi di Irak diyakini melalui jaringan yang Mojtaba bantu kelola.
Ia dianggap sebagai penghubung antara ideologi Khomeinis dan praktik geopolitik Iran.
Selain itu, posisinya dalam hubungan dengan komandan militer muda IRGC memungkinkannya mempersiapkan generasi baru loyalis yang siap mendukungnya jika ia naik ke tampuk kepemimpinan formal.
Hal ini penting karena IRGC adalah kekuatan militer dan ekonomi dominan di Iran, yang tidak hanya memegang senjata, tetapi juga perusahaan besar, pelabuhan, dan proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar.
Sejak Ayatollah Ali Khamenei memasuki usia lanjut, pertanyaan besar yang muncul adalah: siapa yang akan menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya?
Dalam sistem Republik Islam Iran, posisi ini bukan diwariskan secara resmi seperti dalam monarki, melainkan dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts).
Namun, nama Mojtaba Khamenei berulang kali mencuat dalam spekulasi suksesi, meskipun tidak pernah diumumkan secara terbuka.
Isu ini sangat kontroversial. Iran dibangun dengan semangat anti-monarki setelah revolusi 1979 menggulingkan Shah.
Pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak akan mencederai fondasi revolusi itu sendiri. Namun, fakta bahwa Mojtaba telah dipersiapkan secara militer, ideologis, dan spiritual membuat sebagian elite politik memandangnya sebagai figur paling siap untuk menjaga kontinuitas sistem teokrasi Iran.
Bahkan, beberapa anggota Majelis Pakar dikabarkan telah membahas namanya dalam sidang tertutup.
Meski demikian, banyak faksi dalam sistem politik Iran yang menolak ide pewarisan ini. Mereka melihat Mojtaba belum memiliki legitimasi religius yang cukup, dan terlalu terasosiasi dengan tindakan represif serta pengaruh militer.
Tidak sedikit ulama senior di Qom yang menyatakan secara terbuka bahwa kepemimpinan Islam tidak boleh didasarkan pada garis keturunan.
Inilah salah satu sebab mengapa Mojtaba tetap menjadi figur bayangan, bukan publik, dalam perbincangan politik formal Iran.
Pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pribadi kepada Mojtaba Khamenei karena dianggap berperan dalam pelanggaran hak asasi manusia, pengawasan represif, dan dukungan terhadap kebijakan destabilisasi di kawasan Timur Tengah.
Sanksi ini menargetkan aset Mojtaba di luar negeri serta melarang pihak AS melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang terkait dengannya.
Laporan-laporan investigasi seperti dari Reuters dan BBC menyebut Mojtaba memiliki kendali atas sebagian kekayaan besar yang diatur melalui Setad, lembaga semi-pemerintah yang mengelola properti dan aset negara yang disita sejak Revolusi 1979.
Setad memiliki nilai kekayaan mencapai puluhan miliar dolar. Banyak yang percaya Mojtaba menggunakannya untuk mendanai proyek-proyek pengaruh di dalam dan luar negeri, termasuk mendukung kelompok milisi sekutu Iran.
Jumlah pasti aset pribadi Mojtaba tidak pernah diumumkan, tetapi beberapa sumber memperkirakan kekayaan keluarganya mencapai lebih dari USD90 miliar, dengan porsi pengaruh besar dikendalikan olehnya.
Ini menjadikan Mojtaba tidak hanya sebagai tokoh militer dan ideologis, tetapi juga seorang oligark yang punya kuasa ekonomi luar biasa. Fakta ini membuat posisinya semakin kuat namun juga rentan terhadap kritik dalam dan luar negeri.
Berbeda dengan ayahnya atau tokoh-tokoh ulama lain di Iran, Mojtaba sangat jarang muncul di media massa.
Ia hampir tidak pernah memberikan pidato publik atau tampil dalam acara kenegaraan secara resmi.
Foto-fotonya juga sangat terbatas dan sering kali hanya beredar dalam lingkup terbatas atau bocoran dari dalam sistem. Hal ini menciptakan aura misterius sekaligus menegaskan ia lebih suka bekerja di balik layar.
Namun, bukan berarti ia tidak membangun citra. Dalam beberapa kasus penting, Mojtaba mengatur kehadirannya secara simbolik—misalnya dalam video singkat saat mengajar di Qom atau menghadiri pemakaman tokoh militer.
Kehadiran itu sering dibuat dalam suasana informal, tanpa panggung besar atau kamera resmi. Ini memberikan kesan ia rendah hati dan lebih fokus pada tugas spiritual, walau di baliknya ada pesan politik yang jelas: ia aktif dan hadir.
Strategi ini sangat efektif dalam menciptakan kesan sebagai pemimpin “diam tapi kuat”. Ia tak perlu tampil di publik untuk menunjukkan kekuasaan.
Justru karena jarang tampil, setiap kehadirannya memiliki makna simbolik yang kuat. Di era disinformasi dan propaganda, Mojtaba mengandalkan citra sebagai penguasa bayangan, seseorang yang tidak perlu suara keras untuk mengendalikan sistem.
Dalam lingkaran kekuasaan Iran, keluarga Khamenei memiliki posisi yang sangat istimewa. Mojtaba, sebagai anak yang paling berpengaruh, memiliki koneksi erat dengan berbagai tokoh politik dan militer.
Saudara-saudaranya—Mostafa, Meysam, dan Masoud—memegang posisi penting juga, tapi tidak sekuat dan se-strategis dirinya. Mojtaba adalah pengatur strategi, sementara yang lain lebih administratif.
Perkawinan politiknya juga memperkuat posisinya. Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, mantan ketua parlemen dan salah satu tokoh konservatif paling senior di Iran.
Perkawinan ini menciptakan jaringan kekuasaan antara dua keluarga elite politik dan agama yang sangat berpengaruh. Jaringan ini memperluas akses Mojtaba ke jalur parlemen, universitas, dan media negara.
Selain keluarga dan ipar politik, Mojtaba juga membina loyalis dari kalangan militer muda. Beberapa komandan IRGC generasi baru disebut dibina langsung olehnya, bahkan dilibatkan dalam operasi luar negeri di Suriah dan Lebanon.
Dengan cara ini, ia membangun kekuasaan yang berlapis: keluarga, ideologi, kekuatan senjata, dan koneksi internasional.
Hal ini membuatnya menjadi figur yang tak mudah digeser, meski tak pernah memegang jabatan resmi.
Meski berpengaruh, Mojtaba menghadapi tantangan serius. Kritik terhadapnya datang dari dalam dan luar negeri.
Banyak rakyat Iran menolak gagasan bahwa putra Pemimpin Tertinggi bisa menjadi pengganti ayahnya.
Mereka menganggap ini sebagai bentuk monarki terselubung. Slogan seperti “Mojtaba, semoga kamu mati sebelum jadi pemimpin” yang terdengar dalam protes menunjukkan resistensi kuat dari publik.
Di sisi lain, kredensial religius Mojtaba juga masih dipertanyakan. Ia belum diakui sebagai Ayatollah oleh kebanyakan ulama senior, dan tidak memiliki karya fikih besar yang menjadi syarat legitimasi religius.
Tanpa status ini, akan sulit baginya untuk diterima sebagai Pemimpin Tertinggi, yang secara konstitusi harus memiliki otoritas keagamaan tertinggi.
Persaingan dari ulama lain seperti Ayatollah Sistani di Irak juga menjadi pembanding yang tajam.
Namun, dengan struktur kekuasaan yang masih otoriter dan militeristik, kemungkinan naiknya Mojtaba masih sangat nyata.
Jika ia gagal mendapatkan jabatan formal sebagai Pemimpin Tertinggi, ia masih bisa tetap menjadi “kingmaker” di balik layar.
Apalagi dengan krisis politik pascameninggalnya Presiden Iran Ebrahim Raisi, ruang untuk manuver Mojtaba makin terbuka.
Berakhirnya perang Iran dan Israel dengan gencatan senjata juga membuat nama Mojtaba semakin sering muncul, diiringi ancaman pembunuhan pada ayahnya oleh Amerika Serikat dan Israel.
Masa depan Iran mungkin tidak akan ditentukan oleh siapa yang menjadi presiden, melainkan oleh kekuatan tersembunyi yang seperti dirinya.
Baca juga: Iran Rayakan Kemenangan setelah Rudal Serang Israel dan Gencatan Senjata Dimulai
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, namanya kerap dikaitkan dengan berbagai kebijakan strategis negara, mulai dari urusan militer hingga represi terhadap gerakan rakyat.
Mojtaba memainkan peran penting di balik layar, membangun kekuasaan melalui jaringan keluarga, militer, dan institusi keagamaan, serta disebut-sebut sebagai calon kuat penerus ayahnya dalam posisi tertinggi negara.
Profilnya yang tertutup namun penuh kekuasaan menimbulkan kontroversi, terutama di tengah perdebatan publik mengenai legitimasi, pewarisan dinasti, dan masa depan sistem teokrasi Iran.
1. Latar Belakang dan Pendidikan
Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, Iran. Ia merupakan anak kedua dari Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989.
Kelahirannya terjadi pada masa gejolak politik menjelang Revolusi Islam 1979, sehingga kehidupan Mojtaba sejak kecil berada dalam atmosfer revolusioner dan ideologis yang sangat kuat.
Ayahnya saat itu sudah menjadi tokoh penting dalam oposisi anti-Shah dan kemudian menjadi presiden Iran (1981–1989) sebelum naik ke jabatan tertinggi negara.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, Mojtaba melanjutkan studi ke hawzah (pondok pesantren) di Qom—pusat pendidikan ulama Syiah.
Di sana, ia belajar fikih dan filsafat Islam di bawah bimbingan para ulama terkemuka seperti Ayatollah Mesbah Yazdi dan Lotfollah Safi Golpaygani.
Ia tidak dikenal sebagai ulama terkemuka, namun beberapa kalangan menyebutnya telah mencapai tingkat "Hojjatoleslam", satu tingkat di bawah "Ayatollah".
Hingga kini, ia belum diakui sebagai seorang marja‘ atau rujukan agama oleh kalangan ulama.
Pendidikan Mojtaba juga sangat berorientasi politik dan ideologis. Ia tidak sekadar belajar agama, tetapi juga menanamkan garis keras revolusioner Syiah.
Karakter pendidikannya menggambarkan pola pewarisan kekuasaan di Iran, di mana garis keturunan pemimpin besar turut dibekali pemahaman religius sebagai bekal pengaruh politik.
Namun, minimnya publikasi akademik atau pengajaran formalnya di Qom menunjukkan ia tidak mengambil jalur ulama publik secara tradisional.
2. Pengalaman Militer dan Basij
Mojtaba bergabung dengan Basij—milisi sukarelawan ideologis—pada masa remajanya, dan dilaporkan ikut serta dalam Perang Iran–Irak (1980–1988), khususnya dalam divisi Sayyid al‑Shuhada.
Meski perannya tidak banyak terdokumentasi, keterlibatannya memperkuat hubungan emosional dan strategisnya dengan militer ideologis Iran.
Basij dan IRGC (Pasukan Garda Revolusi) menjadi tulang punggung kekuasaan politik konservatif di Iran.
Setelah perang berakhir, Mojtaba tidak kembali ke kehidupan sipil biasa. Ia justru membangun koneksi militer dan keamanan dalam struktur IRGC.
Ia dikenal sebagai pengatur strategi di balik layar, termasuk dalam pelatihan pasukan elite Basij dan penyusunan doktrin ideologis.
Dalam dekade 2000-an, ia disebut-sebut memegang kendali langsung terhadap unit-unit tertentu dari Basij dan menjadi penghubung antara milisi ini dengan Pemimpin Tertinggi.
Keberadaan Mojtaba dalam Basij dan IRGC tidak bersifat simbolik saja. Ia aktif memberikan pengarahan kepada komandan lapangan dalam menghadapi demonstrasi dan gerakan mahasiswa.
Beberapa mantan pejabat intelijen Iran mengonfirmasi nama Mojtaba sering muncul dalam rapat rahasia pengambilan keputusan militer di level strategis.
Ini menunjukkan perannya bukan hanya sebagai "anak pemimpin", tapi sebagai operator politik dan militer sejati.
3. Pengaruh dalam Kekuasaan Politik
Meskipun tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan Iran, Mojtaba Khamenei dikenal luas sebagai “figur bayangan” paling berpengaruh dalam lingkar kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei.
Ia dikatakan bertindak sebagai penghubung utama antara ayahnya dengan militer, intelijen, dan faksi politik konservatif garis keras.
Tidak ada keputusan penting yang diambil tanpa keterlibatan langsung atau pengaruh dari Mojtaba.
Dalam Pemilu Presiden 2005 dan 2009, Mojtaba memainkan peran kunci dalam kemenangan Mahmoud Ahmadinejad.
Ia mengarahkan jaringan Basij untuk mendukung Ahmadinejad sebagai representasi kaum miskin dan konservatif, serta mengamankan dukungan dalam proses pemilu.
Setelah Ahmadinejad menjabat, banyak kebijakan kerasnya terhadap Barat dan oposisi domestik sejalan dengan visi Mojtaba dan IRGC.
Lebih dari itu, ia juga mengontrol beberapa media pemerintah dan outlet propaganda, seperti IRIB dan jaringan surat kabar konservatif.
Mojtaba bahkan dijuluki “Bayangan Pemimpin Tertinggi” oleh beberapa analis politik Iran karena kemampuannya mengatur banyak hal tanpa terlihat di permukaan.
Peran informal ini membuatnya hampir kebal dari pertanggungjawaban hukum atau kritik politik.
4. Terlibat dalam Represi dan Protes
Keterlibatan Mojtaba dalam represi terhadap gerakan rakyat sangat menonjol, terutama pada dua momen penting: Gerakan Hijau 2009 dan Protes Mahsa Amini 2022.
Dalam kedua kasus, Basij dan pasukan keamanan bereaksi keras terhadap demonstrasi yang menuntut reformasi, demokratisasi, dan kebebasan sosial. Mojtaba diyakini sebagai arsitek utama taktik kekerasan dan pengendalian informasi.
Dalam protes 2009, setelah kemenangan kontroversial Ahmadinejad, jutaan orang turun ke jalan. Mojtaba dituduh langsung memerintahkan penangkapan tokoh reformis dan mengatur penyiksaan terhadap aktivis.
Meskipun tidak pernah ada bukti dokumenter yang dipublikasikan secara resmi, banyak pengamat dalam dan luar negeri sepakat perintah represi datang dari lingkar dalam Khamenei, termasuk Mojtaba.
Demikian pula dalam kasus Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang tewas dalam tahanan polisi moralitas, publik menyalahkan struktur represif negara yang dikendalikan dari balik layar.
Nama Mojtaba kembali disebut rakyat dalam protes di jalan, bahkan dalam slogan: “Mojtaba, semoga kamu tidak jadi pemimpin!”
Hal ini menunjukkan ia bukan tokoh yang dicintai rakyat, tapi lebih dipandang sebagai simbol represi elit penguasa.
5. Jaringan dengan IRGC dan Pasukan Quds
Mojtaba memiliki hubungan strategis dan historis dengan komando tinggi IRGC, terutama dengan unit elit seperti Quds Force, yang bertanggung jawab atas operasi militer luar negeri.
Selama masa hidup Jenderal Qassem Soleimani, Mojtaba sering hadir dalam pertemuan-pertemuan strategis yang membahas kebijakan Iran terhadap Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina.
Hubungan ini memperkuat posisinya sebagai tokoh kebijakan luar negeri bayangan.
Beberapa diplomat asing menyatakan bahwa Mojtaba adalah figur yang sangat sulit dijangkau, tapi pengaruhnya terlihat jelas dalam keputusan-keputusan militer di Timur Tengah.
Misalnya, dukungan Iran terhadap milisi Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, dan kelompok Hashd al-Shaabi di Irak diyakini melalui jaringan yang Mojtaba bantu kelola.
Ia dianggap sebagai penghubung antara ideologi Khomeinis dan praktik geopolitik Iran.
Selain itu, posisinya dalam hubungan dengan komandan militer muda IRGC memungkinkannya mempersiapkan generasi baru loyalis yang siap mendukungnya jika ia naik ke tampuk kepemimpinan formal.
Hal ini penting karena IRGC adalah kekuatan militer dan ekonomi dominan di Iran, yang tidak hanya memegang senjata, tetapi juga perusahaan besar, pelabuhan, dan proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar.
6. Potensi Pewarisan Kekuasaan dan Kontroversi Dinasti
Sejak Ayatollah Ali Khamenei memasuki usia lanjut, pertanyaan besar yang muncul adalah: siapa yang akan menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya?
Dalam sistem Republik Islam Iran, posisi ini bukan diwariskan secara resmi seperti dalam monarki, melainkan dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts).
Namun, nama Mojtaba Khamenei berulang kali mencuat dalam spekulasi suksesi, meskipun tidak pernah diumumkan secara terbuka.
Isu ini sangat kontroversial. Iran dibangun dengan semangat anti-monarki setelah revolusi 1979 menggulingkan Shah.
Pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak akan mencederai fondasi revolusi itu sendiri. Namun, fakta bahwa Mojtaba telah dipersiapkan secara militer, ideologis, dan spiritual membuat sebagian elite politik memandangnya sebagai figur paling siap untuk menjaga kontinuitas sistem teokrasi Iran.
Bahkan, beberapa anggota Majelis Pakar dikabarkan telah membahas namanya dalam sidang tertutup.
Meski demikian, banyak faksi dalam sistem politik Iran yang menolak ide pewarisan ini. Mereka melihat Mojtaba belum memiliki legitimasi religius yang cukup, dan terlalu terasosiasi dengan tindakan represif serta pengaruh militer.
Tidak sedikit ulama senior di Qom yang menyatakan secara terbuka bahwa kepemimpinan Islam tidak boleh didasarkan pada garis keturunan.
Inilah salah satu sebab mengapa Mojtaba tetap menjadi figur bayangan, bukan publik, dalam perbincangan politik formal Iran.
7. Sanksi Internasional dan Aset Finansial
Pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pribadi kepada Mojtaba Khamenei karena dianggap berperan dalam pelanggaran hak asasi manusia, pengawasan represif, dan dukungan terhadap kebijakan destabilisasi di kawasan Timur Tengah.
Sanksi ini menargetkan aset Mojtaba di luar negeri serta melarang pihak AS melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang terkait dengannya.
Laporan-laporan investigasi seperti dari Reuters dan BBC menyebut Mojtaba memiliki kendali atas sebagian kekayaan besar yang diatur melalui Setad, lembaga semi-pemerintah yang mengelola properti dan aset negara yang disita sejak Revolusi 1979.
Setad memiliki nilai kekayaan mencapai puluhan miliar dolar. Banyak yang percaya Mojtaba menggunakannya untuk mendanai proyek-proyek pengaruh di dalam dan luar negeri, termasuk mendukung kelompok milisi sekutu Iran.
Jumlah pasti aset pribadi Mojtaba tidak pernah diumumkan, tetapi beberapa sumber memperkirakan kekayaan keluarganya mencapai lebih dari USD90 miliar, dengan porsi pengaruh besar dikendalikan olehnya.
Ini menjadikan Mojtaba tidak hanya sebagai tokoh militer dan ideologis, tetapi juga seorang oligark yang punya kuasa ekonomi luar biasa. Fakta ini membuat posisinya semakin kuat namun juga rentan terhadap kritik dalam dan luar negeri.
8. Citra Publik dan Kehati-hatian Media
Berbeda dengan ayahnya atau tokoh-tokoh ulama lain di Iran, Mojtaba sangat jarang muncul di media massa.
Ia hampir tidak pernah memberikan pidato publik atau tampil dalam acara kenegaraan secara resmi.
Foto-fotonya juga sangat terbatas dan sering kali hanya beredar dalam lingkup terbatas atau bocoran dari dalam sistem. Hal ini menciptakan aura misterius sekaligus menegaskan ia lebih suka bekerja di balik layar.
Namun, bukan berarti ia tidak membangun citra. Dalam beberapa kasus penting, Mojtaba mengatur kehadirannya secara simbolik—misalnya dalam video singkat saat mengajar di Qom atau menghadiri pemakaman tokoh militer.
Kehadiran itu sering dibuat dalam suasana informal, tanpa panggung besar atau kamera resmi. Ini memberikan kesan ia rendah hati dan lebih fokus pada tugas spiritual, walau di baliknya ada pesan politik yang jelas: ia aktif dan hadir.
Strategi ini sangat efektif dalam menciptakan kesan sebagai pemimpin “diam tapi kuat”. Ia tak perlu tampil di publik untuk menunjukkan kekuasaan.
Justru karena jarang tampil, setiap kehadirannya memiliki makna simbolik yang kuat. Di era disinformasi dan propaganda, Mojtaba mengandalkan citra sebagai penguasa bayangan, seseorang yang tidak perlu suara keras untuk mengendalikan sistem.
9. Lingkungan Kekuasaan dan Jaringan Loyalis
Dalam lingkaran kekuasaan Iran, keluarga Khamenei memiliki posisi yang sangat istimewa. Mojtaba, sebagai anak yang paling berpengaruh, memiliki koneksi erat dengan berbagai tokoh politik dan militer.
Saudara-saudaranya—Mostafa, Meysam, dan Masoud—memegang posisi penting juga, tapi tidak sekuat dan se-strategis dirinya. Mojtaba adalah pengatur strategi, sementara yang lain lebih administratif.
Perkawinan politiknya juga memperkuat posisinya. Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, mantan ketua parlemen dan salah satu tokoh konservatif paling senior di Iran.
Perkawinan ini menciptakan jaringan kekuasaan antara dua keluarga elite politik dan agama yang sangat berpengaruh. Jaringan ini memperluas akses Mojtaba ke jalur parlemen, universitas, dan media negara.
Selain keluarga dan ipar politik, Mojtaba juga membina loyalis dari kalangan militer muda. Beberapa komandan IRGC generasi baru disebut dibina langsung olehnya, bahkan dilibatkan dalam operasi luar negeri di Suriah dan Lebanon.
Dengan cara ini, ia membangun kekuasaan yang berlapis: keluarga, ideologi, kekuatan senjata, dan koneksi internasional.
Hal ini membuatnya menjadi figur yang tak mudah digeser, meski tak pernah memegang jabatan resmi.
10. Tantangan, Kritik, dan Masa Depan Politik
Meski berpengaruh, Mojtaba menghadapi tantangan serius. Kritik terhadapnya datang dari dalam dan luar negeri.
Banyak rakyat Iran menolak gagasan bahwa putra Pemimpin Tertinggi bisa menjadi pengganti ayahnya.
Mereka menganggap ini sebagai bentuk monarki terselubung. Slogan seperti “Mojtaba, semoga kamu mati sebelum jadi pemimpin” yang terdengar dalam protes menunjukkan resistensi kuat dari publik.
Di sisi lain, kredensial religius Mojtaba juga masih dipertanyakan. Ia belum diakui sebagai Ayatollah oleh kebanyakan ulama senior, dan tidak memiliki karya fikih besar yang menjadi syarat legitimasi religius.
Tanpa status ini, akan sulit baginya untuk diterima sebagai Pemimpin Tertinggi, yang secara konstitusi harus memiliki otoritas keagamaan tertinggi.
Persaingan dari ulama lain seperti Ayatollah Sistani di Irak juga menjadi pembanding yang tajam.
Namun, dengan struktur kekuasaan yang masih otoriter dan militeristik, kemungkinan naiknya Mojtaba masih sangat nyata.
Jika ia gagal mendapatkan jabatan formal sebagai Pemimpin Tertinggi, ia masih bisa tetap menjadi “kingmaker” di balik layar.
Apalagi dengan krisis politik pascameninggalnya Presiden Iran Ebrahim Raisi, ruang untuk manuver Mojtaba makin terbuka.
Berakhirnya perang Iran dan Israel dengan gencatan senjata juga membuat nama Mojtaba semakin sering muncul, diiringi ancaman pembunuhan pada ayahnya oleh Amerika Serikat dan Israel.
Masa depan Iran mungkin tidak akan ditentukan oleh siapa yang menjadi presiden, melainkan oleh kekuatan tersembunyi yang seperti dirinya.
Baca juga: Iran Rayakan Kemenangan setelah Rudal Serang Israel dan Gencatan Senjata Dimulai
(sya)
Lihat Juga :