Siapa Mojtaba Khamenei? Anak Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Penguasa Bayangan Iran
Rabu, 25 Juni 2025 - 13:45 WIB
loading...
A
A
A
Mojtaba bahkan dijuluki “Bayangan Pemimpin Tertinggi” oleh beberapa analis politik Iran karena kemampuannya mengatur banyak hal tanpa terlihat di permukaan.
Peran informal ini membuatnya hampir kebal dari pertanggungjawaban hukum atau kritik politik.
Keterlibatan Mojtaba dalam represi terhadap gerakan rakyat sangat menonjol, terutama pada dua momen penting: Gerakan Hijau 2009 dan Protes Mahsa Amini 2022.
Dalam kedua kasus, Basij dan pasukan keamanan bereaksi keras terhadap demonstrasi yang menuntut reformasi, demokratisasi, dan kebebasan sosial. Mojtaba diyakini sebagai arsitek utama taktik kekerasan dan pengendalian informasi.
Dalam protes 2009, setelah kemenangan kontroversial Ahmadinejad, jutaan orang turun ke jalan. Mojtaba dituduh langsung memerintahkan penangkapan tokoh reformis dan mengatur penyiksaan terhadap aktivis.
Meskipun tidak pernah ada bukti dokumenter yang dipublikasikan secara resmi, banyak pengamat dalam dan luar negeri sepakat perintah represi datang dari lingkar dalam Khamenei, termasuk Mojtaba.
Demikian pula dalam kasus Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang tewas dalam tahanan polisi moralitas, publik menyalahkan struktur represif negara yang dikendalikan dari balik layar.
Nama Mojtaba kembali disebut rakyat dalam protes di jalan, bahkan dalam slogan: “Mojtaba, semoga kamu tidak jadi pemimpin!”
Hal ini menunjukkan ia bukan tokoh yang dicintai rakyat, tapi lebih dipandang sebagai simbol represi elit penguasa.
Mojtaba memiliki hubungan strategis dan historis dengan komando tinggi IRGC, terutama dengan unit elit seperti Quds Force, yang bertanggung jawab atas operasi militer luar negeri.
Selama masa hidup Jenderal Qassem Soleimani, Mojtaba sering hadir dalam pertemuan-pertemuan strategis yang membahas kebijakan Iran terhadap Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina.
Hubungan ini memperkuat posisinya sebagai tokoh kebijakan luar negeri bayangan.
Beberapa diplomat asing menyatakan bahwa Mojtaba adalah figur yang sangat sulit dijangkau, tapi pengaruhnya terlihat jelas dalam keputusan-keputusan militer di Timur Tengah.
Misalnya, dukungan Iran terhadap milisi Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, dan kelompok Hashd al-Shaabi di Irak diyakini melalui jaringan yang Mojtaba bantu kelola.
Ia dianggap sebagai penghubung antara ideologi Khomeinis dan praktik geopolitik Iran.
Selain itu, posisinya dalam hubungan dengan komandan militer muda IRGC memungkinkannya mempersiapkan generasi baru loyalis yang siap mendukungnya jika ia naik ke tampuk kepemimpinan formal.
Hal ini penting karena IRGC adalah kekuatan militer dan ekonomi dominan di Iran, yang tidak hanya memegang senjata, tetapi juga perusahaan besar, pelabuhan, dan proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar.
Sejak Ayatollah Ali Khamenei memasuki usia lanjut, pertanyaan besar yang muncul adalah: siapa yang akan menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya?
Dalam sistem Republik Islam Iran, posisi ini bukan diwariskan secara resmi seperti dalam monarki, melainkan dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts).
Namun, nama Mojtaba Khamenei berulang kali mencuat dalam spekulasi suksesi, meskipun tidak pernah diumumkan secara terbuka.
Isu ini sangat kontroversial. Iran dibangun dengan semangat anti-monarki setelah revolusi 1979 menggulingkan Shah.
Pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak akan mencederai fondasi revolusi itu sendiri. Namun, fakta bahwa Mojtaba telah dipersiapkan secara militer, ideologis, dan spiritual membuat sebagian elite politik memandangnya sebagai figur paling siap untuk menjaga kontinuitas sistem teokrasi Iran.
Bahkan, beberapa anggota Majelis Pakar dikabarkan telah membahas namanya dalam sidang tertutup.
Meski demikian, banyak faksi dalam sistem politik Iran yang menolak ide pewarisan ini. Mereka melihat Mojtaba belum memiliki legitimasi religius yang cukup, dan terlalu terasosiasi dengan tindakan represif serta pengaruh militer.
Tidak sedikit ulama senior di Qom yang menyatakan secara terbuka bahwa kepemimpinan Islam tidak boleh didasarkan pada garis keturunan.
Inilah salah satu sebab mengapa Mojtaba tetap menjadi figur bayangan, bukan publik, dalam perbincangan politik formal Iran.
Pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pribadi kepada Mojtaba Khamenei karena dianggap berperan dalam pelanggaran hak asasi manusia, pengawasan represif, dan dukungan terhadap kebijakan destabilisasi di kawasan Timur Tengah.
Sanksi ini menargetkan aset Mojtaba di luar negeri serta melarang pihak AS melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang terkait dengannya.
Laporan-laporan investigasi seperti dari Reuters dan BBC menyebut Mojtaba memiliki kendali atas sebagian kekayaan besar yang diatur melalui Setad, lembaga semi-pemerintah yang mengelola properti dan aset negara yang disita sejak Revolusi 1979.
Setad memiliki nilai kekayaan mencapai puluhan miliar dolar. Banyak yang percaya Mojtaba menggunakannya untuk mendanai proyek-proyek pengaruh di dalam dan luar negeri, termasuk mendukung kelompok milisi sekutu Iran.
Peran informal ini membuatnya hampir kebal dari pertanggungjawaban hukum atau kritik politik.
4. Terlibat dalam Represi dan Protes
Keterlibatan Mojtaba dalam represi terhadap gerakan rakyat sangat menonjol, terutama pada dua momen penting: Gerakan Hijau 2009 dan Protes Mahsa Amini 2022.
Dalam kedua kasus, Basij dan pasukan keamanan bereaksi keras terhadap demonstrasi yang menuntut reformasi, demokratisasi, dan kebebasan sosial. Mojtaba diyakini sebagai arsitek utama taktik kekerasan dan pengendalian informasi.
Dalam protes 2009, setelah kemenangan kontroversial Ahmadinejad, jutaan orang turun ke jalan. Mojtaba dituduh langsung memerintahkan penangkapan tokoh reformis dan mengatur penyiksaan terhadap aktivis.
Meskipun tidak pernah ada bukti dokumenter yang dipublikasikan secara resmi, banyak pengamat dalam dan luar negeri sepakat perintah represi datang dari lingkar dalam Khamenei, termasuk Mojtaba.
Demikian pula dalam kasus Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang tewas dalam tahanan polisi moralitas, publik menyalahkan struktur represif negara yang dikendalikan dari balik layar.
Nama Mojtaba kembali disebut rakyat dalam protes di jalan, bahkan dalam slogan: “Mojtaba, semoga kamu tidak jadi pemimpin!”
Hal ini menunjukkan ia bukan tokoh yang dicintai rakyat, tapi lebih dipandang sebagai simbol represi elit penguasa.
5. Jaringan dengan IRGC dan Pasukan Quds
Mojtaba memiliki hubungan strategis dan historis dengan komando tinggi IRGC, terutama dengan unit elit seperti Quds Force, yang bertanggung jawab atas operasi militer luar negeri.
Selama masa hidup Jenderal Qassem Soleimani, Mojtaba sering hadir dalam pertemuan-pertemuan strategis yang membahas kebijakan Iran terhadap Irak, Suriah, Lebanon, dan Palestina.
Hubungan ini memperkuat posisinya sebagai tokoh kebijakan luar negeri bayangan.
Beberapa diplomat asing menyatakan bahwa Mojtaba adalah figur yang sangat sulit dijangkau, tapi pengaruhnya terlihat jelas dalam keputusan-keputusan militer di Timur Tengah.
Misalnya, dukungan Iran terhadap milisi Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, dan kelompok Hashd al-Shaabi di Irak diyakini melalui jaringan yang Mojtaba bantu kelola.
Ia dianggap sebagai penghubung antara ideologi Khomeinis dan praktik geopolitik Iran.
Selain itu, posisinya dalam hubungan dengan komandan militer muda IRGC memungkinkannya mempersiapkan generasi baru loyalis yang siap mendukungnya jika ia naik ke tampuk kepemimpinan formal.
Hal ini penting karena IRGC adalah kekuatan militer dan ekonomi dominan di Iran, yang tidak hanya memegang senjata, tetapi juga perusahaan besar, pelabuhan, dan proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar.
6. Potensi Pewarisan Kekuasaan dan Kontroversi Dinasti
Sejak Ayatollah Ali Khamenei memasuki usia lanjut, pertanyaan besar yang muncul adalah: siapa yang akan menjadi Pemimpin Tertinggi berikutnya?
Dalam sistem Republik Islam Iran, posisi ini bukan diwariskan secara resmi seperti dalam monarki, melainkan dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts).
Namun, nama Mojtaba Khamenei berulang kali mencuat dalam spekulasi suksesi, meskipun tidak pernah diumumkan secara terbuka.
Isu ini sangat kontroversial. Iran dibangun dengan semangat anti-monarki setelah revolusi 1979 menggulingkan Shah.
Pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak akan mencederai fondasi revolusi itu sendiri. Namun, fakta bahwa Mojtaba telah dipersiapkan secara militer, ideologis, dan spiritual membuat sebagian elite politik memandangnya sebagai figur paling siap untuk menjaga kontinuitas sistem teokrasi Iran.
Bahkan, beberapa anggota Majelis Pakar dikabarkan telah membahas namanya dalam sidang tertutup.
Meski demikian, banyak faksi dalam sistem politik Iran yang menolak ide pewarisan ini. Mereka melihat Mojtaba belum memiliki legitimasi religius yang cukup, dan terlalu terasosiasi dengan tindakan represif serta pengaruh militer.
Tidak sedikit ulama senior di Qom yang menyatakan secara terbuka bahwa kepemimpinan Islam tidak boleh didasarkan pada garis keturunan.
Inilah salah satu sebab mengapa Mojtaba tetap menjadi figur bayangan, bukan publik, dalam perbincangan politik formal Iran.
7. Sanksi Internasional dan Aset Finansial
Pada tahun 2019, pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pribadi kepada Mojtaba Khamenei karena dianggap berperan dalam pelanggaran hak asasi manusia, pengawasan represif, dan dukungan terhadap kebijakan destabilisasi di kawasan Timur Tengah.
Sanksi ini menargetkan aset Mojtaba di luar negeri serta melarang pihak AS melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang terkait dengannya.
Laporan-laporan investigasi seperti dari Reuters dan BBC menyebut Mojtaba memiliki kendali atas sebagian kekayaan besar yang diatur melalui Setad, lembaga semi-pemerintah yang mengelola properti dan aset negara yang disita sejak Revolusi 1979.
Setad memiliki nilai kekayaan mencapai puluhan miliar dolar. Banyak yang percaya Mojtaba menggunakannya untuk mendanai proyek-proyek pengaruh di dalam dan luar negeri, termasuk mendukung kelompok milisi sekutu Iran.
Lihat Juga :