Trump: Intelijen AS Salah soal Iran Tidak Membangun Bom Nuklir
Sabtu, 21 Juni 2025 - 11:00 WIB
loading...
A
A
A
"Presiden Trump telah menjelaskan bahwa itu tidak mungkin terjadi, dan saya setuju," papar dia.
Namun, pernyataan itu tidak bertentangan dengan penilaiannya sebelumnya bahwa Iran tidak sedang membangun senjata.
Tidak ada penilaian intelijen AS yang diketahui yang menyimpulkan bahwa Iran sedang mempersenjatai program nuklirnya.
Sangat jarang bagi seorang presiden AS untuk secara terbuka menentang komunitas intelijen negara itu, dengan para kritikus menuduh Trump secara terang-terangan mengabaikan bukti untuk membenarkan potensi keterlibatan langsung AS dalam pertempuran tersebut, menurut analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara.
"Ini bukan hanya satu orang, satu tim yang mengatakan sesuatu," ujar Bishara. "Seluruh komunitas intelijen di Amerika Serikat. Bahwa dia (Trump) mengabaikan mereka... sungguh mengejutkan."
Berbicara pada hari Jumat, Trump juga tampak meremehkan prospek AS menjadi perantara perjanjian gencatan senjata antara Iran dan Israel, dengan mengatakan dia "mungkin" mendukung kesepakatan semacam itu, sambil menambahkan, "Israel berhasil dalam hal perang, dan saya pikir Anda akan mengatakan bahwa Iran tidak melakukannya dengan baik."
"Sulit untuk mengajukan permintaan itu sekarang. Ketika seseorang menang, itu lebih sulit daripada ketika mereka kalah," ungkap Trump.
Melaporkan dari Washington, DC, Heidi Zhou Castro dari Al Jazeera mencatat bahwa, “Trump benar-benar menegaskan bahwa dia tidak akan berusaha meminta Israel mengurangi pemboman udara terhadap target-target Iran."
"Tampaknya Trump sangat berpihak pada Israel saat keadaan terus berkembang, dan ... tampaknya ia tidak condong ke jalur diplomasi, meskipun, sekali lagi, ia memberi dirinya waktu dua minggu untuk membuat keputusan akhir," papar dia.
Namun, pernyataan itu tidak bertentangan dengan penilaiannya sebelumnya bahwa Iran tidak sedang membangun senjata.
Tidak ada penilaian intelijen AS yang diketahui yang menyimpulkan bahwa Iran sedang mempersenjatai program nuklirnya.
Sangat jarang bagi seorang presiden AS untuk secara terbuka menentang komunitas intelijen negara itu, dengan para kritikus menuduh Trump secara terang-terangan mengabaikan bukti untuk membenarkan potensi keterlibatan langsung AS dalam pertempuran tersebut, menurut analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara.
"Ini bukan hanya satu orang, satu tim yang mengatakan sesuatu," ujar Bishara. "Seluruh komunitas intelijen di Amerika Serikat. Bahwa dia (Trump) mengabaikan mereka... sungguh mengejutkan."
Berbicara pada hari Jumat, Trump juga tampak meremehkan prospek AS menjadi perantara perjanjian gencatan senjata antara Iran dan Israel, dengan mengatakan dia "mungkin" mendukung kesepakatan semacam itu, sambil menambahkan, "Israel berhasil dalam hal perang, dan saya pikir Anda akan mengatakan bahwa Iran tidak melakukannya dengan baik."
"Sulit untuk mengajukan permintaan itu sekarang. Ketika seseorang menang, itu lebih sulit daripada ketika mereka kalah," ungkap Trump.
Melaporkan dari Washington, DC, Heidi Zhou Castro dari Al Jazeera mencatat bahwa, “Trump benar-benar menegaskan bahwa dia tidak akan berusaha meminta Israel mengurangi pemboman udara terhadap target-target Iran."
"Tampaknya Trump sangat berpihak pada Israel saat keadaan terus berkembang, dan ... tampaknya ia tidak condong ke jalur diplomasi, meskipun, sekali lagi, ia memberi dirinya waktu dua minggu untuk membuat keputusan akhir," papar dia.
Lihat Juga :