10 Alasan Dunia Cenderung Senang Lihat Serangan Iran ke Israel
Selasa, 17 Juni 2025 - 19:32 WIB
loading...
A
A
A
Pendudukan yang berkelanjutan, pembangunan permukiman ilegal, blokade Gaza, dan tindakan kekerasan terhadap warga sipil telah menimbulkan kecaman luas dari banyak kalangan internasional.
Karena Israel jarang dikenai sanksi serius oleh negara-negara besar meskipun sering melanggar hukum internasional, maka saat Israel diserang, sebagian pihak melihatnya sebagai bentuk “keseimbangan” atau konsekuensi dari tindakan-tindakan sebelumnya.
Banyak negara dan kelompok masyarakat melihat adanya standar ganda dalam perlakuan dunia terhadap konflik.
Ketika Israel melancarkan serangan ke negara lain atau ke wilayah Palestina, tanggapan internasional sering dianggap lamban atau lemah.
Namun ketika Israel diserang, tanggapan dunia, terutama dari negara-negara Barat, jauh lebih cepat dan keras.
Standar ganda ini menimbulkan frustrasi dan membuat sebagian pihak merasa bahwa serangan terhadap Israel merupakan bentuk tantangan terhadap tatanan global yang dianggap tidak adil.
Di era media sosial, informasi dan opini menyebar dengan sangat cepat. Serangan Iran ke Israel sering dibingkai dalam narasi perlawanan terhadap penjajahan, terutama oleh media pro-perlawanan atau media alternatif.
Narasi-narasi ini disambut masyarakat yang merasa bahwa media arus utama Barat terlalu berpihak pada Israel.
Akibatnya, persepsi publik dipengaruhi oleh wacana digital yang melihat tindakan Iran sebagai pembelaan terhadap kaum tertindas, khususnya rakyat Palestina.
Israel sering dipandang sebagai sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Karena itu, konflik Israel–Iran juga dipahami sebagai bagian dari konflik yang lebih besar antara kelompok anti-Barat dan kekuatan yang didukung Barat.
Di banyak negara berkembang, terdapat sentimen anti-Barat yang kuat akibat kolonialisme, intervensi militer, dan dominasi ekonomi.
Dalam kerangka ini, serangan terhadap Israel dilihat sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat dan sistem global yang dianggap eksploitatif.
7. Iran Diposisikan sebagai Kekuatan yang Melawan Hegemoni
Iran berusaha memosisikan dirinya sebagai pemimpin “Poros Perlawanan” di kawasan Timur Tengah.
Karena Israel jarang dikenai sanksi serius oleh negara-negara besar meskipun sering melanggar hukum internasional, maka saat Israel diserang, sebagian pihak melihatnya sebagai bentuk “keseimbangan” atau konsekuensi dari tindakan-tindakan sebelumnya.
4. Standar Ganda dalam Politik Global
Banyak negara dan kelompok masyarakat melihat adanya standar ganda dalam perlakuan dunia terhadap konflik.
Ketika Israel melancarkan serangan ke negara lain atau ke wilayah Palestina, tanggapan internasional sering dianggap lamban atau lemah.
Namun ketika Israel diserang, tanggapan dunia, terutama dari negara-negara Barat, jauh lebih cepat dan keras.
Standar ganda ini menimbulkan frustrasi dan membuat sebagian pihak merasa bahwa serangan terhadap Israel merupakan bentuk tantangan terhadap tatanan global yang dianggap tidak adil.
5. Pengaruh Media Sosial dan Narasi Populer
Di era media sosial, informasi dan opini menyebar dengan sangat cepat. Serangan Iran ke Israel sering dibingkai dalam narasi perlawanan terhadap penjajahan, terutama oleh media pro-perlawanan atau media alternatif.
Narasi-narasi ini disambut masyarakat yang merasa bahwa media arus utama Barat terlalu berpihak pada Israel.
Akibatnya, persepsi publik dipengaruhi oleh wacana digital yang melihat tindakan Iran sebagai pembelaan terhadap kaum tertindas, khususnya rakyat Palestina.
6. Sentimen Anti-Barat di Beberapa Kawasan Dunia
Israel sering dipandang sebagai sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah. Karena itu, konflik Israel–Iran juga dipahami sebagai bagian dari konflik yang lebih besar antara kelompok anti-Barat dan kekuatan yang didukung Barat.
Di banyak negara berkembang, terdapat sentimen anti-Barat yang kuat akibat kolonialisme, intervensi militer, dan dominasi ekonomi.
Dalam kerangka ini, serangan terhadap Israel dilihat sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat dan sistem global yang dianggap eksploitatif.
7. Iran Diposisikan sebagai Kekuatan yang Melawan Hegemoni
Iran berusaha memosisikan dirinya sebagai pemimpin “Poros Perlawanan” di kawasan Timur Tengah.
Lihat Juga :