Jawab Tantangan Pendukung Israel, Greta Thunberg: Sangat Bisa Berenang

Sabtu, 07 Juni 2025 - 20:14 WIB
loading...
Jawab Tantangan Pendukung...
Greta Thunberg mengaku bisa berenang. Foto/X
A A A
GAZA - Greta Thunberg adalah salah satu dari selusin awak kapal yang berlayar ke wilayah yang dilanda perang tersebut. Aktivis iklim Greta Thunberg membalas Senator Carolina Selatan Lindsey Graham karena mengejek perjalanannya ke Gaza, dengan mengatakan bahwa perjalanan itu "banyak bicara tentang prioritas mereka".

Graham, sekutu Presiden AS Donald Trump dan pendukung vokal Israel, sebelumnya memicu kemarahan setelah berbagi komentar samar tentang Thunberg di X.

Berbagi artikel oleh The Times of Israel tentang aktivis berusia 22 tahun itu, ia menulis, "Semoga Greta dan teman-temannya bisa berenang!"

Saat ditanya tentang tanggapannya terhadap unggahan Graham, Thunberg mengatakan kepada Democracy Now, "Kami bisa berenang dengan sangat baik... Dalam menghadapi genosida dan kelaparan sistematis terhadap dua juta orang, anggota parlemen, pejabat terpilih, yang seharusnya bertanggung jawab untuk melayani dan melindungi rakyat, justru berfokus pada mengejek orang-orang yang setidaknya berusaha melakukan bagian mereka, daripada mengakhiri keterlibatan mereka dalam genosida dan pembantaian besar-besaran warga sipil," katanya.

"Saya pikir itu mengungkapkan semua yang perlu kita ketahui tentang prioritas mereka," tambahnya.

Thunberg adalah salah satu dari belasan awak kapal yang berlayar ke jalur yang dilanda perang itu dengan perahu penuh bantuan kemanusiaan. Mereka berlayar pada hari Minggu di atas Madleen, sebuah kapal yang dioperasikan oleh Freedom Flotilla Coalition (FFC). Selain dia, di antara 11 orang lainnya adalah aktor Game of Thrones Liam Cunningham dan Rima Hassan, seorang anggota Parlemen Eropa asal Prancis. Hassan adalah keturunan Palestina.

Baca Juga: Aliansi Eropa - Yahudi di Ujung Tanduk

Kelompok tersebut mengklaim misi mereka adalah "aksi langsung tanpa kekerasan untuk menentang pengepungan ilegal Israel dan meningkatnya kejahatan perang."

Gaza menghadapi blokade total dari pihak Israel selama lebih dari 90 hari. Gaza telah berada di bawah pembatasan darat, laut, dan udara sejak 2007.

Pemerintah Benjamin Netanyahu telah mengebom kota berpenduduk sekitar dua juta orang itu selama satu setengah tahun, menewaskan lebih dari 54.000 warga Palestina, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Serangan udara tersebut telah menargetkan sekolah, rumah sakit, dan bahkan kamp tempat ribuan orang berlindung setelah mengungsi dan diminta pindah beberapa kali.

Thunberg dan yang lainnya membawa perlengkapan penting, termasuk susu, protein bar, susu formula bayi, popok, tepung, beras, penyaring air, produk kebersihan, dan peralatan medis, untuk penduduk setempat di Gaza.

Menurut Al Jazeera, Forensic Architecture, sebuah kelompok penelitian multidisiplin yang berbasis di Goldsmiths, Universitas London, telah melengkapi kapal tersebut dengan sistem pelacakan canggih. Sebelumnya pada hari itu, umpan langsungnya menunjukkan kapal tersebut berada di lepas pantai tenggara Pulau Kreta, Yunani.

Sebelumnya, seorang juru bicara militer senior untuk Israel mengatakan bahwa mereka "siap" untuk mencegah kedatangan armada tersebut.

"Untuk kasus ini juga, kami siap," kata juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Brigjen Effie Defrin kepada The Times of London. "Kami telah memperoleh pengalaman dalam beberapa tahun terakhir, dan kami akan bertindak sesuai dengan itu."

(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Komite Administrasi...
Komite Administrasi Gaza Ungkap Prioritas Rekonstruksi Sudah Ditetapkan, Siap Mulai Pekerjaan
Israel Marah setelah...
Israel Marah setelah Presiden Belarusia Samakan Pembantaian Gaza dengan Holocaust Nazi
Israel Danai Pemukim...
Israel Danai Pemukim Ekstremis, Bayar Rp34 Miliar Per Bulan
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
Prabowo-Macron Sepakat...
Prabowo-Macron Sepakat Dukung Solusi Dua Negara untuk Palestina
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Survei: Semakin Banyak...
Survei: Semakin Banyak Warga Israel Tak Suka kepada Netanyahu gegara Perang Iran
Rekomendasi
Menkeu Purbaya Raih...
Menkeu Purbaya Raih Gelar Profesor Kehormatan Bidang Ekonomi dari Nankai University
Prabowo Sindir Penolak...
Prabowo Sindir Penolak MBG: Enggak Ada yang Lebih Genting dari Perut Lapar
7 Lolos ke Babak 32...
7 Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Kolombia Jadi yang Terbaru
Berita Terkini
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Menlu AS Jual Kesepakatan...
Menlu AS Jual Kesepakatan Damai dengan Iran ke Negara-negara Arab
Israel Anggap Turki...
Israel Anggap Turki Lebih Berbahaya Dibandingkan Iran
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved