Kurban Dilarang, Bagaimana Umat Islam Maroko Merayakan Iduladha?
Jum'at, 06 Juni 2025 - 09:38 WIB
loading...
Kerajaan Maroko yang mayoritas Muslim melarang rakyat mereka melakukan kurban saat Iduladha. Foto/Friendly Morocco
A
A
A
RABAT - Kerajaan Maroko yang mayoritas Muslim telah melarang rakyat mereka melakukan kurban saat Iduladha. Lantas bagaimana umat Islam di sana merayakan Iduladha di tengah larangan tersebut?
Tahun ini, Maroko menutup pasar ternak menjelang Iduladha di tengah perintah kerajaan untuk tidak melakukan kurban dan melestarikan ternak yang kritis di negara tersebut dalam menghadapi kekeringan.
Pada bulan Februari, Raja Mohammed VI, yang juga bergelar Panglima Umat Beriman, meminta warga Maroko untuk menangguhkan kurban tahunan dengan alasan kebutuhan lingkungan.
Itu adalah intervensi kerajaan yang langka, meskipun bukan tanpa preseden.
Baca Juga: Warga Maroko Diminta Tidak Potong Hewan Kurban saat Iduladha, Ada Apa?
Ayahnya, almarhum Raja Hassan II, menangguhkan kurban tiga kali selama pemerintahannya: selama masa perang, kekeringan, dan di bawah penghematan yang diberlakukan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memaksa Maroko untuk mencabut subsidi pangan.
"Itu adalah keputusan yang sulit, yang dibuat untuk melindungi ternak nasional, tetapi itu telah berdampak buruk pada para petani," kata Mourad Soussi, seorang penggembala di Azrou, sebuah kota kecil di Maroko bagian tengah, kepada The New Arab (TNA).
Menurut LSM lokal Nechfate, 35 persen keluarga Maroko yang terlibat dalam pertanian subsisten bergantung pada penggembalaan hewan sebagai pendapatan utama mereka. "Bagi mereka, ternak seperti asuransi", kata kelompok itu.
"Mereka menjual hewan ketika mereka membutuhkan uang tunai," lanjut kelompok tersebut.
Namun, setelah enam tahun kekeringan, pendapatan pertanian anjlok, yang memaksa banyak keluarga menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan. Hasilnya: jumlah ternak nasional menyusut ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 1970-an, saat populasi Maroko kira-kira setengah dari jumlah saat ini.
Kerajaan itu kini menjadi rumah bagi sekitar 37 juta orang.
Meskipun larangan kurban tersebut diharapkan dapat mendorong keberlanjutan jangka panjang, dampak ekonomi jangka pendeknya cukup signifikan.
Dengan penjualan domba yang kini ilegal pada minggu-minggu menjelang Iduladha, pemerintah setempat telah menutup pasar ternak mingguan dan kios-kios dadakan di seluruh negeri.
Di Rabat, Kementerian Dalam Negeri telah menangguhkan semua perdagangan ternak musiman dan melarang penjualan perlengkapan terkait, yang berdampak buruk bagi para perajin dan pekerja informal yang bergantung pada ekonomi Iduladha.
"Kami sudah berjuang dengan tingginya biaya pakan ternak, yang telah kami investasikan secara besar-besaran," imbuh Mourad.
"Hal ini telah membebani modal kami. Saya perkirakan kerugian kami sekitar 50 persen. Belum lagi kerja keras selama delapan hingga dua belas bulan untuk memelihara dan menyiapkan ternak untuk Iduladha. Kami mendesak Kementerian Pertanian untuk memberikan dukungan finansial dan moral," paparnya.
Bulan lalu, pemerintah meluncurkan rencana bantuan senilai 6,2 miliar dirham, termasuk subsidi untuk pakan ternak dan keringanan utang sebagian untuk para penggembala.
Mourad, seorang penggembala kecil, berharap bantuan tersebut didistribusikan secara adil, dengan mengatakan bahwa pemilik ternak besar biasanya menjadi penerima manfaat utama.
Ini menandai pertama kalinya dalam tiga puluh tahun umat Islam Maroko tidak merayakan Iduladha secara tradisional, dalam artian tidak melakukan kurban.
Namun bagi banyak orang, perayaan harus terus berlanjut. Rumah tangga beralih ke daging, unggas, dan makanan laut supermarket untuk menyiapkan daging panggang Iduladha mereka.
Lonjakan permintaan unggas—alternatif yang lebih terjangkau—telah menaikkan harga hingga lima dirham per kilo pada hari-hari menjelang perayaan.
Untuk menstabilkan pasokan dan harga, Maroko telah meningkatkan impor daging. Namun, daging impor tetap mahal, dan panggangan Iduladha tradisional kini harganya lebih dari USD700.
Sebuah survei oleh surat kabar lokal L'Économiste menemukan bahwa sebagian besar warga Maroko menghindari daging impor karena rasanya yang tidak biasa dan kekhawatiran agama atas sertifikasi halal.
"Belum ada metode praktis untuk menerapkan keputusan ini. Tidak akan ada [kurban] Iduladha, tetapi semua orang telah membeli hati dan perut! Seolah-olah mereka menutup pintu tetapi masuk melalui jendela," kata Mouhssine Hajji, seorang pemuda dari Sefrou, dekat Fez, kepada TNA, Jumat (6/6/2025).
Dalam pelarangan sebelumnya, sementara lebih sedikit keluarga yang menjalankan ritual kurban, beberapa diam-diam menentang perintah kerajaan karena alasan agama.
Surat kabar lokal Yabiladi melaporkan bahwa pada tahun 1981, beberapa warga Maroko menyembelih domba secara diam-diam. Di kota Guelmima, di tenggara negara itu, para pengunjuk rasa bahkan sampai menggantung anjing-anjing yang disembelih di gerbang istana kota itu karena marah atas larangan kurban Iduladha.
Namun, yang lain melihat larangan itu sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali aspek-aspek budaya lama dari hari raya itu, seperti kumpul-kumpul keluarga dan festival rakyat pasca-Iduladha; Boujloud.
Disebut juga sebagai Bilmawen, Boujloud adalah tradisi Afrika Utara yang semarak yang berakar pada ritual pra-Islam; Amazigh, yang dikaitkan dengan kesuburan dan perubahan musim.
Meskipun awalnya merupakan perayaan pertanian pagan, festival itu secara bertahap menyatu dengan tradisi Islam. Biasanya menampilkan para penampil yang mengenakan kulit domba atau kambing kering—sisa-sisa kurban Iduladha—yang berparade melalui desa-desa, menari mengikuti alunan genderang dan seruling, memberkati atau mengejar penonton dengan riang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Boujloud telah mengalami kebangkitan, dengan para penampil memilih kostum yang lebih mewah dan modern sambil mempertahankan semangat Amazigh-nya—merayakan tanah dan masyarakat.
"Mereka dapat membatalkan kurban, tetapi ini tidak dapat dibatalkan. Bagi saya, ini adalah Iduladha. Inilah yang saya tunggu setiap tahun," kata Siham Azeroual, seorang wanita muda Amazigh, kepada TNA.
Jadi, meskipun orang Maroko mungkin harus melewatkan "boulfaf"—hidangan hati domba panggang yang menandai dimulainya hidangan Iduladha—mereka akan tetap berkumpul untuk menikmati musik Ahidous dan semangat Boujloud yang semarak dan subversif.
Tahun ini, Maroko menutup pasar ternak menjelang Iduladha di tengah perintah kerajaan untuk tidak melakukan kurban dan melestarikan ternak yang kritis di negara tersebut dalam menghadapi kekeringan.
Pada bulan Februari, Raja Mohammed VI, yang juga bergelar Panglima Umat Beriman, meminta warga Maroko untuk menangguhkan kurban tahunan dengan alasan kebutuhan lingkungan.
Itu adalah intervensi kerajaan yang langka, meskipun bukan tanpa preseden.
Baca Juga: Warga Maroko Diminta Tidak Potong Hewan Kurban saat Iduladha, Ada Apa?
Ayahnya, almarhum Raja Hassan II, menangguhkan kurban tiga kali selama pemerintahannya: selama masa perang, kekeringan, dan di bawah penghematan yang diberlakukan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memaksa Maroko untuk mencabut subsidi pangan.
"Itu adalah keputusan yang sulit, yang dibuat untuk melindungi ternak nasional, tetapi itu telah berdampak buruk pada para petani," kata Mourad Soussi, seorang penggembala di Azrou, sebuah kota kecil di Maroko bagian tengah, kepada The New Arab (TNA).
Menurut LSM lokal Nechfate, 35 persen keluarga Maroko yang terlibat dalam pertanian subsisten bergantung pada penggembalaan hewan sebagai pendapatan utama mereka. "Bagi mereka, ternak seperti asuransi", kata kelompok itu.
"Mereka menjual hewan ketika mereka membutuhkan uang tunai," lanjut kelompok tersebut.
Namun, setelah enam tahun kekeringan, pendapatan pertanian anjlok, yang memaksa banyak keluarga menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan. Hasilnya: jumlah ternak nasional menyusut ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak tahun 1970-an, saat populasi Maroko kira-kira setengah dari jumlah saat ini.
Kerajaan itu kini menjadi rumah bagi sekitar 37 juta orang.
Meskipun larangan kurban tersebut diharapkan dapat mendorong keberlanjutan jangka panjang, dampak ekonomi jangka pendeknya cukup signifikan.
Dengan penjualan domba yang kini ilegal pada minggu-minggu menjelang Iduladha, pemerintah setempat telah menutup pasar ternak mingguan dan kios-kios dadakan di seluruh negeri.
Di Rabat, Kementerian Dalam Negeri telah menangguhkan semua perdagangan ternak musiman dan melarang penjualan perlengkapan terkait, yang berdampak buruk bagi para perajin dan pekerja informal yang bergantung pada ekonomi Iduladha.
"Kami sudah berjuang dengan tingginya biaya pakan ternak, yang telah kami investasikan secara besar-besaran," imbuh Mourad.
"Hal ini telah membebani modal kami. Saya perkirakan kerugian kami sekitar 50 persen. Belum lagi kerja keras selama delapan hingga dua belas bulan untuk memelihara dan menyiapkan ternak untuk Iduladha. Kami mendesak Kementerian Pertanian untuk memberikan dukungan finansial dan moral," paparnya.
Bulan lalu, pemerintah meluncurkan rencana bantuan senilai 6,2 miliar dirham, termasuk subsidi untuk pakan ternak dan keringanan utang sebagian untuk para penggembala.
Mourad, seorang penggembala kecil, berharap bantuan tersebut didistribusikan secara adil, dengan mengatakan bahwa pemilik ternak besar biasanya menjadi penerima manfaat utama.
Bagaimana Umat Islam Maroko Rayakan Iduladha?
Ini menandai pertama kalinya dalam tiga puluh tahun umat Islam Maroko tidak merayakan Iduladha secara tradisional, dalam artian tidak melakukan kurban.
Namun bagi banyak orang, perayaan harus terus berlanjut. Rumah tangga beralih ke daging, unggas, dan makanan laut supermarket untuk menyiapkan daging panggang Iduladha mereka.
Lonjakan permintaan unggas—alternatif yang lebih terjangkau—telah menaikkan harga hingga lima dirham per kilo pada hari-hari menjelang perayaan.
Untuk menstabilkan pasokan dan harga, Maroko telah meningkatkan impor daging. Namun, daging impor tetap mahal, dan panggangan Iduladha tradisional kini harganya lebih dari USD700.
Sebuah survei oleh surat kabar lokal L'Économiste menemukan bahwa sebagian besar warga Maroko menghindari daging impor karena rasanya yang tidak biasa dan kekhawatiran agama atas sertifikasi halal.
"Belum ada metode praktis untuk menerapkan keputusan ini. Tidak akan ada [kurban] Iduladha, tetapi semua orang telah membeli hati dan perut! Seolah-olah mereka menutup pintu tetapi masuk melalui jendela," kata Mouhssine Hajji, seorang pemuda dari Sefrou, dekat Fez, kepada TNA, Jumat (6/6/2025).
Dalam pelarangan sebelumnya, sementara lebih sedikit keluarga yang menjalankan ritual kurban, beberapa diam-diam menentang perintah kerajaan karena alasan agama.
Surat kabar lokal Yabiladi melaporkan bahwa pada tahun 1981, beberapa warga Maroko menyembelih domba secara diam-diam. Di kota Guelmima, di tenggara negara itu, para pengunjuk rasa bahkan sampai menggantung anjing-anjing yang disembelih di gerbang istana kota itu karena marah atas larangan kurban Iduladha.
Namun, yang lain melihat larangan itu sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali aspek-aspek budaya lama dari hari raya itu, seperti kumpul-kumpul keluarga dan festival rakyat pasca-Iduladha; Boujloud.
Disebut juga sebagai Bilmawen, Boujloud adalah tradisi Afrika Utara yang semarak yang berakar pada ritual pra-Islam; Amazigh, yang dikaitkan dengan kesuburan dan perubahan musim.
Meskipun awalnya merupakan perayaan pertanian pagan, festival itu secara bertahap menyatu dengan tradisi Islam. Biasanya menampilkan para penampil yang mengenakan kulit domba atau kambing kering—sisa-sisa kurban Iduladha—yang berparade melalui desa-desa, menari mengikuti alunan genderang dan seruling, memberkati atau mengejar penonton dengan riang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Boujloud telah mengalami kebangkitan, dengan para penampil memilih kostum yang lebih mewah dan modern sambil mempertahankan semangat Amazigh-nya—merayakan tanah dan masyarakat.
"Mereka dapat membatalkan kurban, tetapi ini tidak dapat dibatalkan. Bagi saya, ini adalah Iduladha. Inilah yang saya tunggu setiap tahun," kata Siham Azeroual, seorang wanita muda Amazigh, kepada TNA.
Jadi, meskipun orang Maroko mungkin harus melewatkan "boulfaf"—hidangan hati domba panggang yang menandai dimulainya hidangan Iduladha—mereka akan tetap berkumpul untuk menikmati musik Ahidous dan semangat Boujloud yang semarak dan subversif.
(mas)
Lihat Juga :