Putin Ancam Balas Ukraina setelah 41 Pesawat Rusia Dibom, Perang Nuklir Dikhawatirkan Pecah
Kamis, 05 Juni 2025 - 10:22 WIB
loading...
Presiden Vladimir Putin ancam balas Ukraina setelah 41 pesawat Rusia dibombardir di lima pangkalan udara. Foto/X @DefenceU
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Rusia Vladimir Putin telah berjanji untuk membalas Ukraina atas gelombang serangan drone yang membombardir 41 pesawat di lima pangkalan udara Rusia pada hari Minggu lalu. Para penasihat Kremlin dan tokoh-tokoh di sekitar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai khawatir perang nuklir akan pecah.
Kirill Dmitriev, kepala dana kekayaan kedaulatan Rusia dan perantara penting antara Kremlin dan utusan Trump; Steve Witkoff, menyebut gelombang serangan drone Ukraina sebagai serangan terhadap "aset nuklir Rusia", dan menggemakan pernyataan dari tokoh-tokoh yang pro-MAGA (Make America Great Again) yang memperingatkan potensi Perang Dunia III.
"Komunikasi yang jelas sangat mendesak–untuk memahami kenyataan dan meningkatnya risiko sebelum terlambat," tulis Dmitriev di media sosial, sambil menambahkan emoji merpati, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (5/6/2025).
Baca Juga: Putin Bersumpah Balas Ukraina yang Bombardir 41 Pesawat Rusia, Termasuk Pesawat Pengebom Nuklir
Ukraina mengeklaim bahwa serangan itu merusak 41 pesawat Rusia, termasuk pesawat pengebom nuklir Tu-95 dan Tu-22M. Pesawat Tu-95 dan Tu-22M sebelumnya digunakan Rusia untuk meluncurkan rudal jelajah ke kota-kota Ukraina selama perang berlangsung.
Pesawat-pesawat merupakan bagian dari triad nuklir bersama dengan rudal berbasis kapal selam dan silo yang menjadi dasar bagi sistem penangkal nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat.
Setelah panggilan telepon dengan Putin pada hari Rabu, Trump mengatakan: "Presiden Putin mengatakan, dan dengan sangat tegas, bahwa dia harus menanggapi serangan baru-baru ini di lapangan udara."
Ukraina secara sukarela menyerahkan senjata nuklirnya pada tahun 1994, sebagai imbalan atas jaminan keamanan dari AS, Inggris, dan Rusia.
Mereka yang skeptis terhadap dukungan AS untuk Ukraina memanfaatkan risiko konfrontasi nuklir untuk menyatakan bahwa konflik tersebut mungkin akan lepas kendali.
Para influencer MAGA seperti Steve Bannon dan Charlie Kirk secara terbuka mengutuk gelombang serangan drone Ukraina tersebut, dengan Bannon menyamakan serangan itu dengan serangan Jepang di Pearl Harbor dan Kirk menulis: "Kebanyakan orang tidak memperhatikan, tetapi kita lebih dekat dengan perang nuklir daripada sebelumnya sejak ini dimulai pada tahun 2022."
Namun, penasihat yang lebih berhaluan tengah dalam kubu Trump—termasuk beberapa yang memiliki hubungan lebih dekat dengan Ukraina—juga memperingatkan bahwa risiko konflik nuklir meningkat karena mereka berusaha mempertahankan minat Trump dalam menengahi perdamaian.
"Tingkat risiko meningkat pesat," kata Keith Kellogg, utusan Trump untuk Ukraina dan Rusia, kepada Fox News.
"Ketika Anda menyerang bagian lawan dari triad [nuklir] mereka, tingkat risiko Anda meningkat karena Anda tidak tahu apa yang akan dilakukan pihak lain. Dan itulah yang mereka lakukan," paparnya.
Kellogg juga mengulang rumor bahwa Ukraina telah menyerang armada nuklir Rusia di Severomorsk, meskipun laporan ledakan di sana belum dikonfirmasi. Dia mengatakan AS berusaha menghindari eskalasi.
Anggota pemerintahan Amerika saat ini dan sebelumnya yang skeptis terhadap dukungan AS untuk Ukraina juga secara vokal menentang serangan drone tersebut.
"Bukan kepentingan Amerika jika Ukraina menyerang pasukan nuklir strategis Rusia sehari sebelum putaran perundingan perdamaian berikutnya," kata Dan Caldwell, penasihat kebijakan luar negeri berpengaruh yang merupakan asisten senior Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hingga dia disingkirkan di tengah skandal kebocoran rencana perang AS terhadap Houthi bulan lalu.
"Ini berpotensi menjadi sangat eskalatif dan meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara Rusia dan NATO," katanya.
"AS seharusnya tidak hanya menjauhkan diri dari serangan ini tetapi juga mengakhiri dukungan apa pun yang secara langsung atau tidak langsung dapat memungkinkan serangan terhadap pasukan nuklir strategis Rusia," imbuh dia.
Ini bukan pertama kalinya kekhawatiran atas penggunaan senjata nuklir Rusia digunakan untuk mencoba meredam dukungan AS terhadap Ukraina.
Ketika pasukan Moskow dikalahkan di dekat Kharkiv dan di selatan di Kherson pada September 2022, pejabat Rusia mengirimkan sinyal bahwa Kremlin sedang mempertimbangkan untuk menggunakan senjata nuklir di medan perang, kata pejabat senior Biden.
Pejabat keamanan nasional mengatakan mereka yakin bahwa jika garis pertahanan Rusia runtuh dan membiarkan potensi serangan Ukraina terhadap Crimea terbuka, maka ada kemungkinan 50% Rusia akan menggunakan senjata nuklir sebagai akibatnya.
Pejabat Ukraina menanggapi dengan mengatakan bahwa Rusia telah membesar-besarkan ancaman serangan nuklirnya untuk memeras AS agar tidak memberikan dukungan yang lebih besar kepada Ukraina.
Kirill Dmitriev, kepala dana kekayaan kedaulatan Rusia dan perantara penting antara Kremlin dan utusan Trump; Steve Witkoff, menyebut gelombang serangan drone Ukraina sebagai serangan terhadap "aset nuklir Rusia", dan menggemakan pernyataan dari tokoh-tokoh yang pro-MAGA (Make America Great Again) yang memperingatkan potensi Perang Dunia III.
"Komunikasi yang jelas sangat mendesak–untuk memahami kenyataan dan meningkatnya risiko sebelum terlambat," tulis Dmitriev di media sosial, sambil menambahkan emoji merpati, seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (5/6/2025).
Baca Juga: Putin Bersumpah Balas Ukraina yang Bombardir 41 Pesawat Rusia, Termasuk Pesawat Pengebom Nuklir
Ukraina mengeklaim bahwa serangan itu merusak 41 pesawat Rusia, termasuk pesawat pengebom nuklir Tu-95 dan Tu-22M. Pesawat Tu-95 dan Tu-22M sebelumnya digunakan Rusia untuk meluncurkan rudal jelajah ke kota-kota Ukraina selama perang berlangsung.
Pesawat-pesawat merupakan bagian dari triad nuklir bersama dengan rudal berbasis kapal selam dan silo yang menjadi dasar bagi sistem penangkal nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat.
Setelah panggilan telepon dengan Putin pada hari Rabu, Trump mengatakan: "Presiden Putin mengatakan, dan dengan sangat tegas, bahwa dia harus menanggapi serangan baru-baru ini di lapangan udara."
Ukraina secara sukarela menyerahkan senjata nuklirnya pada tahun 1994, sebagai imbalan atas jaminan keamanan dari AS, Inggris, dan Rusia.
Mereka yang skeptis terhadap dukungan AS untuk Ukraina memanfaatkan risiko konfrontasi nuklir untuk menyatakan bahwa konflik tersebut mungkin akan lepas kendali.
Para influencer MAGA seperti Steve Bannon dan Charlie Kirk secara terbuka mengutuk gelombang serangan drone Ukraina tersebut, dengan Bannon menyamakan serangan itu dengan serangan Jepang di Pearl Harbor dan Kirk menulis: "Kebanyakan orang tidak memperhatikan, tetapi kita lebih dekat dengan perang nuklir daripada sebelumnya sejak ini dimulai pada tahun 2022."
Namun, penasihat yang lebih berhaluan tengah dalam kubu Trump—termasuk beberapa yang memiliki hubungan lebih dekat dengan Ukraina—juga memperingatkan bahwa risiko konflik nuklir meningkat karena mereka berusaha mempertahankan minat Trump dalam menengahi perdamaian.
"Tingkat risiko meningkat pesat," kata Keith Kellogg, utusan Trump untuk Ukraina dan Rusia, kepada Fox News.
"Ketika Anda menyerang bagian lawan dari triad [nuklir] mereka, tingkat risiko Anda meningkat karena Anda tidak tahu apa yang akan dilakukan pihak lain. Dan itulah yang mereka lakukan," paparnya.
Kellogg juga mengulang rumor bahwa Ukraina telah menyerang armada nuklir Rusia di Severomorsk, meskipun laporan ledakan di sana belum dikonfirmasi. Dia mengatakan AS berusaha menghindari eskalasi.
Anggota pemerintahan Amerika saat ini dan sebelumnya yang skeptis terhadap dukungan AS untuk Ukraina juga secara vokal menentang serangan drone tersebut.
"Bukan kepentingan Amerika jika Ukraina menyerang pasukan nuklir strategis Rusia sehari sebelum putaran perundingan perdamaian berikutnya," kata Dan Caldwell, penasihat kebijakan luar negeri berpengaruh yang merupakan asisten senior Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hingga dia disingkirkan di tengah skandal kebocoran rencana perang AS terhadap Houthi bulan lalu.
"Ini berpotensi menjadi sangat eskalatif dan meningkatkan risiko konfrontasi langsung antara Rusia dan NATO," katanya.
"AS seharusnya tidak hanya menjauhkan diri dari serangan ini tetapi juga mengakhiri dukungan apa pun yang secara langsung atau tidak langsung dapat memungkinkan serangan terhadap pasukan nuklir strategis Rusia," imbuh dia.
Ini bukan pertama kalinya kekhawatiran atas penggunaan senjata nuklir Rusia digunakan untuk mencoba meredam dukungan AS terhadap Ukraina.
Ketika pasukan Moskow dikalahkan di dekat Kharkiv dan di selatan di Kherson pada September 2022, pejabat Rusia mengirimkan sinyal bahwa Kremlin sedang mempertimbangkan untuk menggunakan senjata nuklir di medan perang, kata pejabat senior Biden.
Pejabat keamanan nasional mengatakan mereka yakin bahwa jika garis pertahanan Rusia runtuh dan membiarkan potensi serangan Ukraina terhadap Crimea terbuka, maka ada kemungkinan 50% Rusia akan menggunakan senjata nuklir sebagai akibatnya.
Pejabat Ukraina menanggapi dengan mengatakan bahwa Rusia telah membesar-besarkan ancaman serangan nuklirnya untuk memeras AS agar tidak memberikan dukungan yang lebih besar kepada Ukraina.
(mas)
Lihat Juga :