Hamas Setuju Gencatan Senjata di Gaza, AS dan Israel Menolak Tawaran Itu
Selasa, 27 Mei 2025 - 16:51 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu, Hamas mengatakan bersedia membebaskan tawanan yang tersisa sekaligus dengan imbalan gencatan senjata permanen.
Kelompok itu juga menyatakan bersedia menyerahkan kendali Jalur Gaza kepada pemerintah sementara, seperti yang diusulkan dalam rencana senilai USD53 miliar yang didukung Liga Arab untuk rekonstruksi daerah kantong itu.
Namun, kelompok itu menentang pemindahan warga Palestina dan menolak meletakkan senjata atau mengasingkan para pemimpinnya dari Gaza, dengan menggambarkan tuntutan terakhir sebagai "garis merah" selama pendudukan Israel atas wilayah Palestina berlanjut.
Di Gaza, warga Palestina mengatakan mereka sangat menginginkan kesepakatan apa pun untuk mengakhiri pemboman dan blokade Israel, yang telah membuat seluruh penduduk daerah kantong itu berada di ambang kelaparan.
"Semua mata warga Palestina tertuju pada Doha," ungkap Hind Khoudary dari Al Jazeera dari Deir el-Balah di Gaza tengah.
"Sejak Israel memulai kembali perang, warga Palestina telah diserang di rumah, sekolah, tenda darurat, dan juga di apa yang disebut zona kemanusiaan yang aman... Mereka juga mengatakan mereka bahkan tidak dapat mengamankan satu makanan pun untuk keluarga mereka," papar Khoudary.
Dia menjelaskan, “Warga Palestina di sini mengatakan mereka tidak punya pilihan lain lagi, dan mereka berusaha bertahan hidup dari serangan udara Israel dan kelaparan massal yang telah menimpa mereka.”
Israel melanjutkan perang di Gaza pada 18 Maret, dua pekan setelah memberlakukan blokade total di wilayah kantong tersebut.
Otoritas kesehatan di Gaza mengatakan 3.822 warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel yang kembali dilakukan, dan jumlah korban tewas yang dikonfirmasi secara keseluruhan kini telah mencapai 53.977. Sekitar 122.966 orang terluka.
Israel melonggarkan blokadenya pekan lalu, dengan mengatakan telah mengizinkan sekitar 170 truk bantuan masuk ke Gaza, tetapi pejabat kemanusiaan mengatakan jumlah tersebut masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan untuk memberi makan dua juta penduduk daerah kantong itu setelah 11 pekan pengepungan total.
Baca juga: Trump Tegaskan AS bisa Keluar dari Perundingan Ukraina dan Rusia
Kelompok itu juga menyatakan bersedia menyerahkan kendali Jalur Gaza kepada pemerintah sementara, seperti yang diusulkan dalam rencana senilai USD53 miliar yang didukung Liga Arab untuk rekonstruksi daerah kantong itu.
Namun, kelompok itu menentang pemindahan warga Palestina dan menolak meletakkan senjata atau mengasingkan para pemimpinnya dari Gaza, dengan menggambarkan tuntutan terakhir sebagai "garis merah" selama pendudukan Israel atas wilayah Palestina berlanjut.
Semua Mata Tertuju pada Doha
Di Gaza, warga Palestina mengatakan mereka sangat menginginkan kesepakatan apa pun untuk mengakhiri pemboman dan blokade Israel, yang telah membuat seluruh penduduk daerah kantong itu berada di ambang kelaparan.
"Semua mata warga Palestina tertuju pada Doha," ungkap Hind Khoudary dari Al Jazeera dari Deir el-Balah di Gaza tengah.
"Sejak Israel memulai kembali perang, warga Palestina telah diserang di rumah, sekolah, tenda darurat, dan juga di apa yang disebut zona kemanusiaan yang aman... Mereka juga mengatakan mereka bahkan tidak dapat mengamankan satu makanan pun untuk keluarga mereka," papar Khoudary.
Dia menjelaskan, “Warga Palestina di sini mengatakan mereka tidak punya pilihan lain lagi, dan mereka berusaha bertahan hidup dari serangan udara Israel dan kelaparan massal yang telah menimpa mereka.”
Israel melanjutkan perang di Gaza pada 18 Maret, dua pekan setelah memberlakukan blokade total di wilayah kantong tersebut.
Otoritas kesehatan di Gaza mengatakan 3.822 warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel yang kembali dilakukan, dan jumlah korban tewas yang dikonfirmasi secara keseluruhan kini telah mencapai 53.977. Sekitar 122.966 orang terluka.
Israel melonggarkan blokadenya pekan lalu, dengan mengatakan telah mengizinkan sekitar 170 truk bantuan masuk ke Gaza, tetapi pejabat kemanusiaan mengatakan jumlah tersebut masih jauh dari jumlah yang dibutuhkan untuk memberi makan dua juta penduduk daerah kantong itu setelah 11 pekan pengepungan total.
Baca juga: Trump Tegaskan AS bisa Keluar dari Perundingan Ukraina dan Rusia
(sya)
Lihat Juga :