Bunuh Anak-Anak sebagai Hobi, Israel Berisiko Terisolasi di Era Apartheid

Selasa, 20 Mei 2025 - 21:01 WIB
loading...
Bunuh Anak-Anak sebagai...
Yair Golan, kepala partai oposisi Israel Demokrat. Foto/wikimedia commons
A A A
TEL AVIV - Yair Golan, kepala partai oposisi Israel Demokrat, meluncurkan kritik pedas terhadap perang pemerintah Israel di Gaza. Dia menuduh Israel melakukan kekejaman terhadap warga sipil dan memperingatkan tindakannya dapat menyebabkan isolasi global yang mirip dengan Afrika Selatan di era apartheid.

Dalam wawancara dengan penyiar publik Kan Israel, Golan menuduh pemerintah melancarkan kampanye balas dendam alih-alih operasi militer yang sah.

“Kita membunuh anak-anak di Gaza sebagai hobi,” ujar dia, menggambarkan serangan itu sebagai bencana moral dan strategis.

“Negara yang waras tidak memerangi warga sipil, tidak membunuh anak-anak untuk olahraga, dan tidak berusaha mengusir seluruh penduduk,” papar dia.

Golan mengutuk kepemimpinan saat ini sebagai “pendendam, tidak bermoral, dan tidak kompeten,” dengan alasan mereka tidak memiliki kemampuan memerintah di saat krisis.

“Pemerintah ini penuh dengan orang-orang yang tidak memiliki kompas moral dan tidak memiliki kapasitas untuk mengelola negara secara bertanggung jawab. Ini membahayakan keberadaan kita,” tegas dia.

Mantan jenderal itu memperingatkan Israel dengan cepat menjadi negara paria. “Kita sedang menuju pengucilan internasional. Dunia tidak akan tinggal diam saat kita melakukan kejahatan ini. Kita sedang menuju keruntuhan ekonomi, politik, dan sosial jika ini terus berlanjut,” tegas dia.

Pernyataannya telah memicu badai politik di seluruh spektrum politik Israel. Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar menyebut pernyataan itu “tidak dapat dimaafkan” dan menuduh Golan memicu antisemitisme.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyebut komentar itu sebagai “fitnah anti-Israel yang berdarah,” sementara Menteri Komunikasi Shlomi Karhi melangkah lebih jauh, mencap Golan sebagai “teroris” yang membahayakan tentara Israel dan menghalangi upaya perang.

Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz menuduh Golan “mencoreng reputasi tentara” dan mengatakan pernyataan seperti itu seharusnya berujung pada pengucilan politik.

Benny Gantz, pemimpin partai Biru dan Putih, menyebut komentar tersebut "ekstrem dan salah," menuntut Golan menarik kembali pernyataannya dan meminta maaf kepada tentara Israel.

Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett juga mengecam pemimpin oposisi tersebut, dengan menegaskan "hanya Hamas yang membunuh anak-anak", pernyataan yang secara luas dipandang sebagai upaya melindungi militer Israel dari kritik internasional yang meningkat.

Meskipun mendapat reaksi keras, Golan telah menggandakan pernyataannya. Berbicara lagi pada hari Senin, ia menggambarkan pemerintahan Netanyahu sebagai ancaman eksistensial bagi Israel.

"Pemerintah ini membawa kita pada isolasi dan kehancuran. Kawasan ini terus bergerak maju sementara Israel tetap terjebak, menanggung konsekuensinya sendirian," ujar dia.

Dia menegaskan, "Menyelamatkan Israel dari kepemimpinan ini telah menjadi kebutuhan yang mendesak."

Golan telah lama menjadi kritikus vokal Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan koalisi sayap kanannya.

Dalam pernyataan sebelumnya, ia menuduh pemerintah menolak penyelesaian yang berarti untuk perang di Gaza dan salah mengalokasikan sumber daya negara untuk penunjukan politik, perluasan permukiman, dan peredaan koalisi.

Ketika perang genosida di Gaza terus berlanjut dengan jumlah korban jiwa sipil yang mengejutkan dan kerusakan yang meluas, komentar Golan menggarisbawahi perbedaan pendapat yang semakin besar dalam lingkaran politik Israel dan krisis legitimasi yang semakin dalam yang dihadapi kepemimpinan saat ini.

Baca juga: India Kerahkan Tank Tempur T-72 Rusia untuk Melawan Pakistan
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
Pasukan Israel Gagal...
Pasukan Israel Gagal Ambil Tank Komandan yang Gugur di Lebanon Selatan
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Dewan Pers Minta Pemerintah...
Dewan Pers Minta Pemerintah Tempuh Jalur Diplomatik Bebaskan Jurnalis yang Ditangkap Israel
Negosiator Iran dan...
Negosiator Iran dan AS Bertemu di Jenewa untuk Babak Baru Pembicaraan Demi Akhiri Perang
Mengejutkan! 92% Warga...
Mengejutkan! 92% Warga Israel Yakin Negaranya Kalah Perang Lawan Iran
Rekomendasi
Persaingan Ketat! 86...
Persaingan Ketat! 86 Peserta Audisi Liga Bintang Juara GTV di Depok Berebut Tiket ke Jakarta
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Ini Penampakan Taufik...
Ini Penampakan Taufik Hidayat usai Ditangkap Polisi, Tangan Diborgol Tali Ties
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
15 Negara dengan Militer...
15 Negara dengan Militer Terkuat di Dunia 2025, Indonesia Ungguli Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved