Mengejutkan, Rudal Houthi Nyaris Tembak Jatuh Jet Tempur Siluman F-35 dan F-16 AS
Kamis, 15 Mei 2025 - 08:42 WIB
loading...
A
A
A
Selain itu, hal ini menyoroti seberapa cepat jet tempur Barat kehilangan kemilaunya. Jet-jet tempur ini, termasuk jet tempur siluman, yang dulunya dianggap tak terkalahkan, kini berada dalam jangkauan serang bahkan pasukan milisi seperti Houthi.
Setelah laporan tentang jet tempur Rafale buatan Prancis, mungkin dua atau bahkan tiga unit, yang ditembak jatuh di India oleh jet buatan China yang dioperasikan Pakistan, dan dua laporan kehilangan F-16 di Ukraina, sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa jet tempur Barat tidak lagi membawa aura tak terkalahkan di sekitar mereka.
Menurut laporan media Amerika, AS kehilangan sedikitnya tujuh drone MQ-9 Reaper di Yaman. Sebagian besar pesawat nirawak bernilai tinggi, yang masing-masing berharga sekitar USD30 juta, tengah melakukan pengawasan di wilayah udara Yaman saat diserang.
Ini berarti bahwa Houthi telah menjatuhkan pesawat-pesawat nirawak MQ-9 Reaper yang bernilai total lebih dari USD200 juta.
Para analis meyakini bahwa Houthi menggunakan sistem rudal permukaan-ke-udara mobile dan mungkin taktik peperangan elektronik untuk menargetkan pesawat nirawak tersebut. Persenjataan mereka kemungkinan mencakup sistem turunan Iran seperti Sayyad-2C dan Saqr, serta rudal SA-6 buatan Rusia.
AS juga kehilangan dua jet tempur F/A-18 Super Hornet, yang masing-masing berharga lebih dari USD65 juta. Dalam waktu 10 hari, kedua jet tempur itu jatuh ke Laut Merah dari kapal induk USS Harry S Truman.
Pada 28 April, USS Harry Truman terpaksa berbelok tajam di laut untuk menghindari rudal Houthi yang masuk, menyebabkan F/A-18 Super Hornet, yang sedang ditarik pada saat itu, jatuh ke laut.
Kemudian, pada 6 Mei, dua pilot terpaksa melontarkan diri setelah Super Hornet mereka gagal menangkap kabel baja di dek kapal induk, yang menyebabkan pesawat jatuh ke Laut Merah.
Namun, potensi kerugian paling serius adalah F-16 dan F-35. F-35 adalah salah satu jet tempur siluman tercanggih milik AS.
Setelah laporan tentang jet tempur Rafale buatan Prancis, mungkin dua atau bahkan tiga unit, yang ditembak jatuh di India oleh jet buatan China yang dioperasikan Pakistan, dan dua laporan kehilangan F-16 di Ukraina, sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa jet tempur Barat tidak lagi membawa aura tak terkalahkan di sekitar mereka.
Menurut laporan media Amerika, AS kehilangan sedikitnya tujuh drone MQ-9 Reaper di Yaman. Sebagian besar pesawat nirawak bernilai tinggi, yang masing-masing berharga sekitar USD30 juta, tengah melakukan pengawasan di wilayah udara Yaman saat diserang.
Ini berarti bahwa Houthi telah menjatuhkan pesawat-pesawat nirawak MQ-9 Reaper yang bernilai total lebih dari USD200 juta.
Para analis meyakini bahwa Houthi menggunakan sistem rudal permukaan-ke-udara mobile dan mungkin taktik peperangan elektronik untuk menargetkan pesawat nirawak tersebut. Persenjataan mereka kemungkinan mencakup sistem turunan Iran seperti Sayyad-2C dan Saqr, serta rudal SA-6 buatan Rusia.
AS juga kehilangan dua jet tempur F/A-18 Super Hornet, yang masing-masing berharga lebih dari USD65 juta. Dalam waktu 10 hari, kedua jet tempur itu jatuh ke Laut Merah dari kapal induk USS Harry S Truman.
Pada 28 April, USS Harry Truman terpaksa berbelok tajam di laut untuk menghindari rudal Houthi yang masuk, menyebabkan F/A-18 Super Hornet, yang sedang ditarik pada saat itu, jatuh ke laut.
Kemudian, pada 6 Mei, dua pilot terpaksa melontarkan diri setelah Super Hornet mereka gagal menangkap kabel baja di dek kapal induk, yang menyebabkan pesawat jatuh ke Laut Merah.
Namun, potensi kerugian paling serius adalah F-16 dan F-35. F-35 adalah salah satu jet tempur siluman tercanggih milik AS.
Lihat Juga :