Bill Gates dan Bisnis Vaksin: Sumbang Rp2,6 Triliun tapi Minta Uji Vaksin TBC pada Rakyat Indonesia
Jum'at, 09 Mei 2025 - 10:01 WIB
loading...
A
A
A
Di sisi lain, Gates juga tercatat pernah berinvestasi langsung ke perusahaan biofarmasi, seperti BioNTech dan CureVac—dua nama besar dalam pengembangan vaksin COVID-19.
Menurut data dari Forbes dan SEC, Gates Foundation membeli saham BioNTech senilai USD55 juta pada 2019, yang nilainya melonjak saat pandemi melanda.
“Tidak boleh ada satu orang pun—sekalipun dermawan—yang memiliki pengaruh sebesar itu terhadap kebijakan kesehatan global,” ujar Dr David McCoy dari University College London kepada The Lancet pada 2020.
Pengaruh Gates semakin mencolok saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Dia terlibat dalam peluncuran inisiatif COVAX dan menyumbang ke WHO saat Amerika Serikat menghentikan pendanaan.
Namun, program ini dikritik karena distribusi vaksin yang timpang—negara-negara berkembang tetap tertinggal.
Kontroversi juga sempat muncul dalam program vaksin HPV di India tahun 2009, yang disponsori oleh PATH, mitra Gates Foundation. Program ini dihentikan setelah beberapa kematian remaja perempuan dan temuan parlemen India terkait kurangnya pengawasan dan pelanggaran etika.
Di Indonesia, perdebatan serupa muncul. “Filantropi besar seharusnya memperkuat sistem kesehatan lokal, bukan menggantikannya dengan pendekatan global yang kadang tak memahami konteks lokal,” kata Dr Siti Mardiyah, mantan Menteri Kesehatan Indonesia yang juga pakar bioetika dari Universitas Gadjah Mada.
Meski begitu, banyak pihak juga mengakui peran besar Gates dalam memberantas polio, mempercepat distribusi vaksin malaria, dan mendanai riset penyakit tropis yang sering diabaikan.
Kini, dunia dihadapkan pada dilema: antara memanfaatkan dana dan jaringan Gates yang sangat besar, atau membatasi pengaruhnya demi menjaga akuntabilitas publik.
Sejak didirikan pada tahun 2000, BMGF telah menyumbangkan lebih dari USD50 miliar ke berbagai sektor, termasuk kesehatan global. Fokus utama yayasan ini adalah:
Menurut data dari Forbes dan SEC, Gates Foundation membeli saham BioNTech senilai USD55 juta pada 2019, yang nilainya melonjak saat pandemi melanda.
“Tidak boleh ada satu orang pun—sekalipun dermawan—yang memiliki pengaruh sebesar itu terhadap kebijakan kesehatan global,” ujar Dr David McCoy dari University College London kepada The Lancet pada 2020.
Pengaruh Gates semakin mencolok saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Dia terlibat dalam peluncuran inisiatif COVAX dan menyumbang ke WHO saat Amerika Serikat menghentikan pendanaan.
Namun, program ini dikritik karena distribusi vaksin yang timpang—negara-negara berkembang tetap tertinggal.
Kontroversi juga sempat muncul dalam program vaksin HPV di India tahun 2009, yang disponsori oleh PATH, mitra Gates Foundation. Program ini dihentikan setelah beberapa kematian remaja perempuan dan temuan parlemen India terkait kurangnya pengawasan dan pelanggaran etika.
Di Indonesia, perdebatan serupa muncul. “Filantropi besar seharusnya memperkuat sistem kesehatan lokal, bukan menggantikannya dengan pendekatan global yang kadang tak memahami konteks lokal,” kata Dr Siti Mardiyah, mantan Menteri Kesehatan Indonesia yang juga pakar bioetika dari Universitas Gadjah Mada.
Meski begitu, banyak pihak juga mengakui peran besar Gates dalam memberantas polio, mempercepat distribusi vaksin malaria, dan mendanai riset penyakit tropis yang sering diabaikan.
Kini, dunia dihadapkan pada dilema: antara memanfaatkan dana dan jaringan Gates yang sangat besar, atau membatasi pengaruhnya demi menjaga akuntabilitas publik.
Peran Bill Gates dalam Dunia Vaksin
Sejak didirikan pada tahun 2000, BMGF telah menyumbangkan lebih dari USD50 miliar ke berbagai sektor, termasuk kesehatan global. Fokus utama yayasan ini adalah:
Lihat Juga :