Gawat, Zionis Israel Ingin Rebut Total Jalur Gaza!
Selasa, 06 Mei 2025 - 09:01 WIB
loading...
A
A
A
Forum Sandera dan Keluarga Hilang, yang mewakili keluarga sandera Israel, mengatakan bahwa rencana tersebut merupakan pengakuan pemerintah bahwa mereka "memilih wilayah daripada para sandera" dan bahwa hal ini bertentangan dengan keinginan lebih dari 70% orang di Israel.
Pejabat Hamas Mahmoud Mardawi menegaskan kembali bahwa kelompok tersebut menginginkan kesepakatan yang komprehensif, termasuk gencatan senjata lengkap, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pembangunan kembali Jalur Gaza, dan pembebasan semua tahanan dari kedua belah pihak.
Warga Palestina di Gaza utara mengatakan kepada BBC bahwa mereka sangat menentang pemindahan paksa ke selatan sekali lagi, dengan beberapa mengatakan mereka lebih baik mati di tengah reruntuhan rumah mereka.
"Pada Oktober 2023, saya—mengungsi bersama anak-anak, anak perempuan, dan cucu saya—totalnya sekitar 60 orang," kata warga Kota Gaza berusia 76 tahun, Ahmed Shehata.
"Kami hidup dalam kondisi yang tak tertahankan di tempat yang diklaim Israel sebagai 'zona aman' di selatan. Kali ini, kami tidak akan pergi, bahkan jika Israel merobohkan tenda-tenda di atas kepala kami."
Osama Tawfiq, seorang ayah lima anak berusia 48 tahun, mengatakan: "Ancaman Israel tidak akan membuat kami takut. Kami tetap di Gaza."
Pejabat Israel mengatakan kabinet keamanan juga menyetujui dengan suara mayoritas "kemungkinan penyaluran [bantuan] kemanusiaan—jika perlu—yang akan mencegah Hamas mengambil alih persediaan dan akan menghancurkan kemampuan pemerintahannya".
Pejabat keamanan Zionis mengatakan pengiriman akan dilanjutkan setelah perluasan serangan dimulai, dan bahwa militer akan membangun "daerah steril" di daerah Rafah selatan yang dapat dimasuki warga Palestina sambil menunggu pemeriksaan.
Militer Israel melancarkan kampanye pengeboman untuk menghancurkan Hamas sebagai respons atas serangan lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Setidaknya 52.567 orang telah tewas di Gaza sejak saat itu, termasuk 2.459 orang sejak serangan brutal Israel dilanjutkan, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah tersebut.
Pejabat Hamas Mahmoud Mardawi menegaskan kembali bahwa kelompok tersebut menginginkan kesepakatan yang komprehensif, termasuk gencatan senjata lengkap, penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza, pembangunan kembali Jalur Gaza, dan pembebasan semua tahanan dari kedua belah pihak.
Warga Palestina di Gaza utara mengatakan kepada BBC bahwa mereka sangat menentang pemindahan paksa ke selatan sekali lagi, dengan beberapa mengatakan mereka lebih baik mati di tengah reruntuhan rumah mereka.
"Pada Oktober 2023, saya—mengungsi bersama anak-anak, anak perempuan, dan cucu saya—totalnya sekitar 60 orang," kata warga Kota Gaza berusia 76 tahun, Ahmed Shehata.
"Kami hidup dalam kondisi yang tak tertahankan di tempat yang diklaim Israel sebagai 'zona aman' di selatan. Kali ini, kami tidak akan pergi, bahkan jika Israel merobohkan tenda-tenda di atas kepala kami."
Osama Tawfiq, seorang ayah lima anak berusia 48 tahun, mengatakan: "Ancaman Israel tidak akan membuat kami takut. Kami tetap di Gaza."
Pejabat Israel mengatakan kabinet keamanan juga menyetujui dengan suara mayoritas "kemungkinan penyaluran [bantuan] kemanusiaan—jika perlu—yang akan mencegah Hamas mengambil alih persediaan dan akan menghancurkan kemampuan pemerintahannya".
Pejabat keamanan Zionis mengatakan pengiriman akan dilanjutkan setelah perluasan serangan dimulai, dan bahwa militer akan membangun "daerah steril" di daerah Rafah selatan yang dapat dimasuki warga Palestina sambil menunggu pemeriksaan.
Militer Israel melancarkan kampanye pengeboman untuk menghancurkan Hamas sebagai respons atas serangan lintas batas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Setidaknya 52.567 orang telah tewas di Gaza sejak saat itu, termasuk 2.459 orang sejak serangan brutal Israel dilanjutkan, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah tersebut.
(mas)
Lihat Juga :