Ini Respons Rusia setelah Zelensky Ancam Pemimpin Dunia yang Hadiri Perayaan Hari Kemenangan di Moskow

Minggu, 04 Mei 2025 - 07:48 WIB
loading...
Ini Respons Rusia setelah...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengancam para pemimpin dunia yang nekat menghadiri perayaan Hari Kemenangan di Moskow. Foto/Ilustrasi SINDO News
A A A
MOSKOW - Pemerintah Rusia angkat bicara setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengancam para pemimpin dunia yang nekat menghadiri perayaan Hari Kemenangan (Victory Day) di Moskow. Moskow menyebutnya sebagai ancaman "teroris tingkat internasional".

Zelensky telah menolak untuk bergabung dengan Rusia dalam mematuhi gencatan senjata selama 72 jam untuk menandai Hari Kemenangan, sebuah perayaan kemenangan perang Uni Soviet atas Nazi Jerman dalam Perang Dunia II.

"Itu menyingkap esensi neo-Nazi Kyiv dan merupakan ancaman dari teroris tingkat internasional," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova pada hari Sabtu, merujuk pada ancaman Zelensky.

Baca Juga: Zelensky Ancam Pemimpin Dunia yang Hadir di Perayaan Hari Kemenangan di Moskow

Sebelumnya pada hari itu, Zelensky menegaskan kembali penolakannya atas usulan Moskow untuk gencatan senjata tiga hari yang dimulai pada 8 Mei dan berlanjut hingga perayaan Hari Kemenangan Perang Dunia II, menganggapnya sebagai "produksi teatrikal" Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Tidak mungkin untuk membuat rencana apa pun untuk langkah selanjutnya guna mengakhiri perang dalam dua atau tiga hari. Jadi, itu tidak terlihat sangat serius. Itu lebih merupakan produksi teatrikal di pihaknya,” katanya, merujuk pada Putin.

Dia kemudian mengancam para pemimpin dunia yang menghadiri perayaan tersebut di Moskow. “Tidak seorang pun akan membantu Putin memainkan ini untuk memberinya suasana yang lembut untuk melarikan diri dari isolasi pada tanggal 9 Mei, dan untuk membuat semua orang merasa nyaman dan aman—para pemimpin, teman, atau mitra Putin yang akan datang ke Lapangan Kremlin...Kita sedang berperang, atau Putin menunjukkan bahwa dia siap untuk gencatan senjata,” imbuh Zelensky.

"Pernyataan Zelensky sekali lagi membuktikan sifat neo-Nazi dari rezim Kyiv, yang telah berubah menjadi sel teroris," kata Zakharova dalam sebuah pernyataan.

"Hari ini [Zelensky] mencapai titik terendah: sekarang dia mengancam keselamatan fisik para veteran yang akan datang ke parade dan acara seremonial pada hari suci tersebut," imbuh Zakharova, seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (4/5/2025).

"Setelah setiap serangan teroris di wilayah Rusia, rezim Kyiv, dinas keamanannya, dan Zelensky secara pribadi membanggakan bahwa itu adalah perbuatan mereka dan akan terus seperti ini. Oleh karena itu, frasa bahwa dia 'tidak menjamin keamanan pada 9 Mei di wilayah Rusia', karena ini bukan wilayah tanggung jawabnya, tentu saja merupakan ancaman langsung," tegas Zakharova.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyampaikan pandangan serupa atas pernyataan Zelensky, yang menyatakan bahwa gencatan senjata yang diusulkan adalah "ujian" bagi Kyiv. "Dan penolakan yang tampak untuk bergabung jelas menunjukkan bahwa neo-Nazisme adalah dasar ideologis rezim Kyiv kontemporer," katanya.

Gencatan senjata selama 72 jam diumumkan secara sepihak oleh Putin pada hari Senin. Presiden Rusia itu memerintahkan penangguhan semua aksi militer terhadap pasukan Ukraina mulai tengah malam tanggal 7 Mei hingga tengah malam tanggal 10 Mei dan mendesak Kyiv untuk bergabung dalam gencatan senjata.

Pada bulan Maret, Rusia dan Ukraina menyetujui gencatan senjata parsial selama 30 hari yang ditengahi Amerika Serikat yang difokuskan pada penghentian serangan terhadap infrastruktur energi.

Namun, menurut militer Rusia, Kyiv melanggar gencatan senjata pada beberapa kesempatan. Pada gilirannya, Ukraina menuduh balik Rusia yang melanggar gencatan senjata.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Trump Ancam Ambil Alih...
Trump Ancam Ambil Alih Selat Hormuz, Sebut AS Malaikat Pelindung
Rekomendasi
Apple Setuju Berkolaborasi...
Apple Setuju Berkolaborasi dengan Intel untuk Merancang dan Memproduksi Chip
Harga Emas Malas Bergerak...
Harga Emas Malas Bergerak di Posisi Rp2.668.000 per Gram, Intip Daftar Lengkapnya
Seruan Masyayikh NU...
Seruan Masyayikh NU di Ponpes Al Falah Ploso Redam Ketegangan di PBNU
Berita Terkini
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Perundingan Iran-AS...
Perundingan Iran-AS Hasilkan 4 Kesepakatan Utama, Negosiator Teheran Sempat Walkout
Jenderal Iran Peringatkan...
Jenderal Iran Peringatkan Pasukan Israel: Tinggalkan Lebanon atau Diusir Secara Memalukan!
Pertama Kalinya, China...
Pertama Kalinya, China Pamer Peluncuran Rudal Hipersonik Dongfeng-17 sebagai Pesan untuk AS
Yordania Gantung 6 Orang...
Yordania Gantung 6 Orang atas Tuduhan Terorisme
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved