Aktivis: Hapus Bahasa Daerah dari Kurikulum, China Coba Lenyapkan Budaya Mongolia

Senin, 07 September 2020 - 03:00 WIB
loading...
Aktivis: Hapus Bahasa...
Ilustrasi. FOTO/Reuters
A A A
BEIJING - Etnis Mongolia di China utara telah melancarkan protes langka atas perubahan kurikulum sekolah yang menghapus bahasa Mongolia dari mata pelajaran inti. Demonstrasi ini sempat memicu diterapkanya jam malam di wilayah tersebut.

Panduan baru di wilayah Mongolia Dalam yang dikelola China mengharuskan mata pelajaran sekolah dasar dan menengah, termasuk sejarah, politik, dan bahasa diajarkan dalam bahasa Mandarin mulai tanggal 1 September.

(Baca: Bocah Mongolia Meninggal Akibat Wabah Bubonic )

Sebuah Video yang diedarkan oleh kelompok advokasi yang berbasis di New York, Pusat Informasi Hak Asasi Manusia Mongolia Selatan, menunjukkan kerumunan siswa dan orang tua yang marah berkumpul di luar sekolah untuk memprotes tindakan tersebut. Kelompok itu mengatakan, jumlah pengunjuk rasa mencapai ribuan.

Direktur Pusat Informasi Hak Asasi Manusia Mongolia Selatan, Enghebatu Togochog, seperti dilansir Reuters mengatakan, mereka yakin program tersebut adalah bagian dari dorongan yang lebih luas oleh Beijing untuk menghapus budaya Mongolia di wilayah tersebut dan mengatakan beberapa orang tua menarik anak-anak mereka dari sekolah sebagai protes.

Standarisasi pendidikan nasional adalah penggerak kebijakan utama di bawah Presiden China, Xi Jinping, yang sebagian besar berfokus pada mempromosikan kesetiaan kepada China dan Partai Komunis.

Dalam Tanya Jawab yang diposting online, otoritas pendidikan regional Mongolia membela perubahan tersebut, dengan mengatakan bahwa perubahan tersebut mencerminkan keinginan partai dan bangsa, dan keunggulan inheren budaya China dan kemajuan peradaban manusia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Pertama Kalinya, Taiwan...
Pertama Kalinya, Taiwan Tembakkan Puluhan Rudal HIMARS Amerika ke Arah China
China Luncurkan Alat...
China Luncurkan Alat Pelacak Kapal Selam Nuklir, Bakal Ubah Perang Masa Depan
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
3 Pelaut India Tewas...
3 Pelaut India Tewas Akibat Serangan Kapal Tanker oleh AS di Lepas Pantai Oman
Putri Bajrakitiyabha...
Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia, Thailand Umumkan Masa Berkabung Nasional
Rekomendasi
10 Tahun Jadi Tempat...
10 Tahun Jadi Tempat Kerja Terbaik di Asia, BAT Indonesia Raih Platinum Harmonia
IFG Life Lindungi Lebih...
IFG Life Lindungi Lebih dari 20.000 Peserta BTN JAKIM 2026
GP Ansor Rombak Kepengurusan,...
GP Ansor Rombak Kepengurusan, Sejumlah Tokoh Muda NU Masuk Struktur
Berita Terkini
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Infografis
China Marah, AS Tak...
China Marah, AS Tak Mau Tarik Sistem Rudal Typhon dari Filipina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved