Konvoi Ambulans Ditembaki, Sentimen Anti-China Meningkat di Myanmar
Sabtu, 26 April 2025 - 09:45 WIB
loading...
A
A
A
Sebelum itu, pada Mei 2023, protes pecah di Letpadaung, Wilayah Sagaing, tempat para demonstran membakar bendera China dan foto-foto Menteri Luar Negeri China saat itu, Qin Gang. Protes serupa terjadi di Yangon, Mandalay, dan wilayah lain, dengan spanduk yang menuntut agar China menghormati suara rakyat Myanmar.
Demonstrasi seperti yang baru-baru ini terjadi di Lashio mencerminkan keluhan mendalam rakyat Myanmar, yang merasa bahwa tindakan China mengutamakan kepentingan strategisnya daripada kesejahteraan penduduk setempat.
Sebuah studi yang dilakukan sel penelitian platform media sosial China Toutiao, bekerja sama dengan perusahaan analisis Insecurity Insight, meneliti ujaran kebencian yang menargetkan China dan orang-orang China di platform media sosial Myanmar dari Juli 2024 hingga Februari 2025.
Temuan tersebut mengungkap sentimen anti-China yang mengakar, tercermin dalam bahasa yang tidak manusiawi, kambing hitam, dan seruan untuk melakukan kekerasan dalam wacana media sosial Myanmar.
Warganet mengaitkan China dengan masalah ekonomi, termasuk ketergantungan pada produk China, ketidakseimbangan perdagangan, dan dominasi infrastruktur. Bahasa yang tidak manusiawi, seperti komentar seperti "Pemikiran China pada dasarnya lebih rendah" dan "Biarkan mereka tenggelam, anjing-anjing itu," memperburuk permusuhan.
China juga disalahkan atas masalah sosial, dengan pernyataan seperti “Jangan impor apa pun dari mereka; semua produk mereka palsu dan penuh virus korona.”
Selain itu, beberapa pernyataan semakin meningkatkan kebencian ini, dengan seruan yang mengkhawatirkan untuk melakukan kekerasan dan pengusiran, seperti “usir warga negara China; lakukan genosida jika perlu,” yang menormalkan retorika berbahaya.
Tema berulang lainnya adalah superioritas moral, di mana klaim seperti “China sangat buruk untuk diajak bertetangga—moral mereka sangat rendah” membingkai individu China sebagai orang yang pada dasarnya tidak bermoral, memperdalam kesenjangan sosial dan melestarikan stereotip negatif.
Studi ini menyoroti bahwa unggahan yang mengkritik blokade perbatasan China—seperti yang terjadi di Muse dan pos pemeriksaan lain di Negara Bagian Shan utara pada Oktober 2024—mendapat perhatian signifikan. Blokade ini membatasi barang-barang seperti elektronik dan perlengkapan medis, yang memicu kemarahan publik dan memperkuat kritik terhadap pengaruh China.
Menurut survei pertengahan tahun 2024 yang dilakukan oleh Institut Strategi dan Kebijakan Myanmar (ISP-Myanmar), 54 persen pemangku kepentingan utama di Myanmar menyatakan persepsi negatif terhadap China sebagai tetangga.
Sentimen ini bahkan lebih kuat di kalangan organisasi masyarakat sipil, dengan 72 persen menggambarkan China sebagai "tidak baik sama sekali" atau "bukan tetangga yang baik."
Demikian pula, 60 persen organisasi etnis bersenjata dan 54 persen Pasukan Pertahanan Rakyat—yang terdiri dari sayap bersenjata Pemerintah Persatuan Nasional dan pasukan pertahanan lokal yang dibentuk setelah kudeta—memiliki pandangan yang tidak menguntungkan ini.
Selain protes terhadap pengaruh Beijing yang semakin besar, ujaran kebencian yang ditujukan kepada China dan warga China di lingkungan media sosial Myanmar telah menjadi cerminan signifikan dari meningkatnya ketegangan geopolitik di negara tersebut.
Demonstrasi seperti yang baru-baru ini terjadi di Lashio mencerminkan keluhan mendalam rakyat Myanmar, yang merasa bahwa tindakan China mengutamakan kepentingan strategisnya daripada kesejahteraan penduduk setempat.
Ujaran Kebencian di Media Sosial
Sebuah studi yang dilakukan sel penelitian platform media sosial China Toutiao, bekerja sama dengan perusahaan analisis Insecurity Insight, meneliti ujaran kebencian yang menargetkan China dan orang-orang China di platform media sosial Myanmar dari Juli 2024 hingga Februari 2025.
Temuan tersebut mengungkap sentimen anti-China yang mengakar, tercermin dalam bahasa yang tidak manusiawi, kambing hitam, dan seruan untuk melakukan kekerasan dalam wacana media sosial Myanmar.
Warganet mengaitkan China dengan masalah ekonomi, termasuk ketergantungan pada produk China, ketidakseimbangan perdagangan, dan dominasi infrastruktur. Bahasa yang tidak manusiawi, seperti komentar seperti "Pemikiran China pada dasarnya lebih rendah" dan "Biarkan mereka tenggelam, anjing-anjing itu," memperburuk permusuhan.
China juga disalahkan atas masalah sosial, dengan pernyataan seperti “Jangan impor apa pun dari mereka; semua produk mereka palsu dan penuh virus korona.”
Selain itu, beberapa pernyataan semakin meningkatkan kebencian ini, dengan seruan yang mengkhawatirkan untuk melakukan kekerasan dan pengusiran, seperti “usir warga negara China; lakukan genosida jika perlu,” yang menormalkan retorika berbahaya.
Tema berulang lainnya adalah superioritas moral, di mana klaim seperti “China sangat buruk untuk diajak bertetangga—moral mereka sangat rendah” membingkai individu China sebagai orang yang pada dasarnya tidak bermoral, memperdalam kesenjangan sosial dan melestarikan stereotip negatif.
Studi ini menyoroti bahwa unggahan yang mengkritik blokade perbatasan China—seperti yang terjadi di Muse dan pos pemeriksaan lain di Negara Bagian Shan utara pada Oktober 2024—mendapat perhatian signifikan. Blokade ini membatasi barang-barang seperti elektronik dan perlengkapan medis, yang memicu kemarahan publik dan memperkuat kritik terhadap pengaruh China.
Menurut survei pertengahan tahun 2024 yang dilakukan oleh Institut Strategi dan Kebijakan Myanmar (ISP-Myanmar), 54 persen pemangku kepentingan utama di Myanmar menyatakan persepsi negatif terhadap China sebagai tetangga.
Sentimen ini bahkan lebih kuat di kalangan organisasi masyarakat sipil, dengan 72 persen menggambarkan China sebagai "tidak baik sama sekali" atau "bukan tetangga yang baik."
Demikian pula, 60 persen organisasi etnis bersenjata dan 54 persen Pasukan Pertahanan Rakyat—yang terdiri dari sayap bersenjata Pemerintah Persatuan Nasional dan pasukan pertahanan lokal yang dibentuk setelah kudeta—memiliki pandangan yang tidak menguntungkan ini.
Selain protes terhadap pengaruh Beijing yang semakin besar, ujaran kebencian yang ditujukan kepada China dan warga China di lingkungan media sosial Myanmar telah menjadi cerminan signifikan dari meningkatnya ketegangan geopolitik di negara tersebut.
Lihat Juga :