Dulu Menentang, Sekarang Arab Saudi Dukung Kesepakatan Nuklir Iran-AS, Mengapa?
Senin, 21 April 2025 - 09:15 WIB
loading...
A
A
A
"Di bawah Obama, negara-negara Teluk takut akan pemulihan hubungan AS dan Iran yang akan mengisolasi mereka. Di bawah Trump, mereka takut akan eskalasi AS dan Iran yang akan menargetkan mereka," paparnya, seperti dikutip dari New York Times, Senin (21/4/2025).
Iran dan Amerika Serikat menyelesaikan putaran kedua perundingan diplomatik mengenai aktivitas nuklir Teheran pada hari Sabtu, menetapkan agenda untuk negosiasi yang berlangsung cepat.
Trump tidak menjelaskan secara rinci tujuan negosiasi tersebut, selain untuk menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki bom nuklir.
Namun, pejabat Iran mengatakan bahwa kesepakatan yang terbentuk tidak mengharuskan mereka untuk membongkar infrastruktur nuklir negara tersebut.
Negara-negara Arab termasuk Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, dan Bahrain menyambut baik pembicaraan tersebut, dan lebih memilih diplomasi daripada konflik yang meningkat.
"Pembicaraan ini semakin memanas dan sekarang bahkan yang tidak mungkin pun menjadi mungkin," tulis Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi di X pada hari Sabtu.
Negosiasi tersebut terjadi di tengah ketegangan di Timur Tengah, karena serangan udara AS menargetkan milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman dan Israel terus melakukan pengeboman mematikan di Gaza.
Bulan lalu, Trump mengatakan akan mengebom Iran jika negara itu tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya.
Israel telah berencana untuk menyerang situs nuklir Iran paling cepat bulan depan, tetapi ditolak oleh Trump dalam beberapa minggu terakhir demi menegosiasikan kesepakatan dengan Teheran untuk membatasi program nuklirnya, menurut pejabat pemerintah AS dan pihak lain yang diberi pengarahan mengenai diskusi tersebut.
“Lebih dari sebelumnya, Negara-negara Teluk Arab adalah kekuatan status quo yang mencari stabilitas yang langgeng, prasyarat untuk mencapai visi ekonomi mereka yang luhur,” kata Firas Maksad, direktur pelaksana untuk praktik Timur Tengah dan Afrika Utara di Eurasia Group, sebuah konsultan risiko politik.
“Preferensi kuat mereka adalah agar aktivitas Iran yang tidak stabil dan program nuklirnya dibatasi melalui diplomasi," ujarnya.
Iran dan Amerika Serikat menyelesaikan putaran kedua perundingan diplomatik mengenai aktivitas nuklir Teheran pada hari Sabtu, menetapkan agenda untuk negosiasi yang berlangsung cepat.
Trump tidak menjelaskan secara rinci tujuan negosiasi tersebut, selain untuk menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki bom nuklir.
Namun, pejabat Iran mengatakan bahwa kesepakatan yang terbentuk tidak mengharuskan mereka untuk membongkar infrastruktur nuklir negara tersebut.
Negara-negara Arab termasuk Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, dan Bahrain menyambut baik pembicaraan tersebut, dan lebih memilih diplomasi daripada konflik yang meningkat.
"Pembicaraan ini semakin memanas dan sekarang bahkan yang tidak mungkin pun menjadi mungkin," tulis Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi di X pada hari Sabtu.
Negosiasi tersebut terjadi di tengah ketegangan di Timur Tengah, karena serangan udara AS menargetkan milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman dan Israel terus melakukan pengeboman mematikan di Gaza.
Bulan lalu, Trump mengatakan akan mengebom Iran jika negara itu tidak mencapai kesepakatan mengenai program nuklirnya.
Israel telah berencana untuk menyerang situs nuklir Iran paling cepat bulan depan, tetapi ditolak oleh Trump dalam beberapa minggu terakhir demi menegosiasikan kesepakatan dengan Teheran untuk membatasi program nuklirnya, menurut pejabat pemerintah AS dan pihak lain yang diberi pengarahan mengenai diskusi tersebut.
“Lebih dari sebelumnya, Negara-negara Teluk Arab adalah kekuatan status quo yang mencari stabilitas yang langgeng, prasyarat untuk mencapai visi ekonomi mereka yang luhur,” kata Firas Maksad, direktur pelaksana untuk praktik Timur Tengah dan Afrika Utara di Eurasia Group, sebuah konsultan risiko politik.
“Preferensi kuat mereka adalah agar aktivitas Iran yang tidak stabil dan program nuklirnya dibatasi melalui diplomasi," ujarnya.
Lihat Juga :