AS Kembali Tangkap Mahasiswa Pro-Palestina, Namanya Mohsen Mahdawi

Selasa, 15 April 2025 - 12:05 WIB
loading...
AS Kembali Tangkap Mahasiswa...
Mohsen Mahdawi, mahasiswa pro-Palestina yang studi di Universitas Columbia, ditangkap petugas imigrasi AS. Foto/Screenshot video CNN
A A A
WASHINGTON - Mohsen Mahdawi, seorang mahasiswa kelahiran Palestina yang studi di Universitas Columbia, ditangkap petugas imigrasi Amerika Serikat (AS) pada hari Senin waktu setempat.

Mahdawi, aktivis pro-Palestina pemegang green card (kartu hijau), telah berada di AS selama satu dekade. Dia ditangkap petugas imigrasi di kantor imigrasi Vermont tempat dia akan diwawancarai untuk mendapatkan kewarganegaraan AS.

Sosoknya memiliki kehadiran terkemuka sebagai penyelenggara protes mahasiswa tahun lalu.

Menurut pernyataan pengacaranya kepada CNN, Selasa (15/4/2025), Mahdawi ditahan di fasilitas Layanan Kewarganegaraan dan Imigrasi AS di Colchester, Vermont.

Baca Juga: Bela Aktivis Palestina Mahmoud Khalil, Ratusan Demonstran Yahudi Duduki Trump Tower

Penangkapan Mohsen Mahdawi terjadi di tengah upaya deportasi massal yang sedang berlangsung oleh Presiden Donald Trump—kebijakan yang mengganggu mahasiswa internasional, yang, dengan satu atau lain cara, telah menyatakan keprihatinan kemanusiaan terhadap tujuan pro-Palestina.

Dia bukan mahasiswa Palestina pertama dari Universitas Columbia yang ditahan di bawah tindakan keras imigrasi pemerintahan Trump.

Bulan lalu, agen imigrasi federal menahan Mahmoud Khalil (30), penduduk sah AS lainnya yang berasal dari Palestina, karena memimpin protes kampus terhadap perang brutal Israel di Gaza.

Ketika Khalil terus terjerat dalam pertempuran hukum yang penuh gejolak—berusaha sekuat tenaga untuk menolak deportasi, pemerintahan Trump kini telah menahan Mohnsen Mahdawi.

Menurut pernyataan pengacaranya, Luna Droubi, mahasiswa senior di Universitas Columbia itu ditangkap “sebagai pembalasan langsung atas advokasinya atas nama Palestina dan karena identitasnya sebagai orang Palestina.”

"Penahanannya merupakan upaya untuk membungkam mereka yang menentang kekejaman di Gaza. Itu semua inkonstitusional," katanya.

Setelah menerima konfirmasi dari Penjabat Jaksa AS Michael Drescher dan kantor Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) setempat, Droubi mengatakan bahwa Mahdawi masih berada di Vermont, tempat tinggalnya.

Aktivis pro-Palestina tersebut lahir di kamp pengungsi di Tepi Barat yang diduduki Israel dan tinggal di sana hingga pindah ke Amerika Serikat pada tahun 2014, menurut AFP.

Setelah menjadi penduduk tetap resmi AS sejak tahun 2015, Mohsen Mahdawi akan segera lulus bulan depan. Sebuah dokumen pengadilan lebih lanjut menyatakan bahwa dia berencana untuk kembali ke Columbia untuk mengikuti program magister di Sekolah Hubungan Internasional dan Publik Universitas Columbia pada musim gugur ini.

Sebuah petisi habeas corpus yang diajukan atas namanya menyebutnya sebagai "seorang pengkritik keras kampanye militer Israel di Gaza dan seorang aktivis serta organisator protes mahasiswa".

Mahdawi mengambil peran tersebut di kampus Columbia hingga Maret 2024, dan sejak itu mengundurkan diri dan tidak terlibat dalam pengorganisasian protes.

Perlu dicatat bahwa Mohsen Mahdawi tidak dituduh melakukan kejahatan.

Pengajuan petisi tersebut menyatakan bahwa Departemen Keamanan Dalam Negeri berupaya mendeportasinya berdasarkan Determinasi Rubio dan Pasal 237 (a) (4) (C) (i) Undang-Undang Imigrasi dan Kebangsaan, yang merupakan "ketentuan yang jarang digunakan" yang juga digunakan untuk menahan Mahmoud Khalil, penduduk tetap sah lainnya di negara tersebut.
Akibatnya, pengajuan resmi tersebut tidak hanya menuduh pejabat melanggar Amandemen Pertama, tetapi juga hak-hak hukum dan hak proses hukumnya.

Pengacaranya meminta perintah penahanan sementara, yang sejak itu telah dikeluarkan oleh Hakim Pengadilan Distrik Vermont William Sessions, yang melarang pemindahan Mahdawi dari Vermont dan pengusiran dari AS.

Dalam kasus serupa yang melibatkan mahasiswa internasional, mereka dipindahkan ke fasilitas penahanan di Louisiana dan Texas.

Keterlibatan Mohnsen Mahdawi dalam Aktivisme Mahasiswa

Mahasiswa ini mendirikan "Dar: Perkumpulan Mahasiswa Palestina di Universitas Columbia" bersama Mahmoud Khalil. Petisi pengacaranya menyatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk “merayakan budaya, sejarah, dan identitas Palestina.”

Mahdawi juga berperan penting dalam pembentukan Columbia University Apartheid Divest, sebuah koalisi yang tidak hanya memimpin protes pro-Palestina di kampus, tetapi juga mendesak universitas untuk memutus hubungan dengan Israel.

Selain itu, dia menjabat sebagai presiden Columbia University Buddhist Association selama dua tahun.

Pada bulan Desember 2023, dia tampil dalam sebuah wawancara dengan "60 Minutes", di mana dia menekankan, “Motivasi saya sekarang muncul dari cinta, bukan dari kemarahan, bukan dari kebencian.”

Temannya; Mikey Baratz, yang merupakan seorang Yahudi dan lahir serta dibesarkan di Israel hingga usia 12 tahun, mengatakan kepada New York Times, "Ini orang Palestina. Saya orang Israel. Orang-orang kami sedang berperang. Dan kesediaannya untuk benar-benar mendengar dan secara aktif belajar serta memahami pengalaman Israel—maksud saya, saya belum pernah bertemu orang yang begitu cepat bersedia menerima masukan."

Baratz juga mengatakan bahwa Mahdawi menghubunginya enam bulan karena dia ingin bertemu dengan mahasiswa Israel di universitas tersebut dan mendengar cerita dari sudut pandangnya.

Senator Vermont Bernie Sanders, Peter Welch, Becca Balint telah mengecam penangkapannya, menyebutnya "tidak bermoral, tidak manusiawi, dan ilegal."

Dalam pernyataan bersama, mereka menambahkan, “Mahdawi, seorang penduduk sah Amerika Serikat, harus diberikan proses hukum yang semestinya dan segera dibebaskan dari tahanan.”
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Trump Kecam Pemungutan...
Trump Kecam Pemungutan Suara Senat untuk Batasi Kewenangannya dalam Perang Iran
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Senat AS Sahkan Resolusi...
Senat AS Sahkan Resolusi Penghentian Perang Iran, Pukulan Telak bagi Trump
Trump Ungkap Dana Iran...
Trump Ungkap Dana Iran yang Dilepaskan akan Digunakan untuk Beli Barang-barang AS
Mobil Buatan Amerika...
Mobil Buatan Amerika Serikat Dapat Ujian Besar di Pasar Jepang
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
PBB: Israel Lanjutkan...
PBB: Israel Lanjutkan Praktik Genosida di Gaza dan Tepi Barat, Anak-Anak Jadi Korban
Rekomendasi
Harga LNG Naik Turun...
Harga LNG Naik Turun Mengacu Harga Minyak Dunia
Sidang Perdana Dokter...
Sidang Perdana Dokter Tifa Digelar 2 Juli 2026, Roy Suryo Tunggu Praperadilan
Dana Rampasan Rp153,6...
Dana Rampasan Rp153,6 Miliar Kembali ke TASPEN, Buah Manis Sinergi dengan KPK
Berita Terkini
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Menlu AS Jual Kesepakatan...
Menlu AS Jual Kesepakatan Damai dengan Iran ke Negara-negara Arab
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved