Penjualan Mobil Anjlok, Volkswagen akan Produksi Senjata dan Peralatan Militer

Kamis, 13 Maret 2025 - 17:30 WIB
loading...
Penjualan Mobil Anjlok,...
Pengunjung melihat model mobil Volkswagen di Area Pameran Otomotif selama Pameran Impor Internasional China (CIIE) ketujuh di Shanghai, China timur, 7 November 2024. Foto/Chang Nengjia/Xinhua
A A A
BERLIN - Pabrikan mobil Jerman yang sedang berjuang, Volkswagen, terbuka untuk memproduksi senjata dan peralatan militer, menurut CEO Oliver Blume.

Dia menyampaikan pernyataan tersebut sebagai tanggapan atas pengumuman Uni Eropa (UE) baru-baru ini tentang rencana membelanjakan hingga USD870 miliar untuk sektor pertahanannya.

Raksasa otomotif itu membukukan penurunan penjualan dan laba tahun lalu dan terpaksa mengumumkan penutupan pabrik dan PHK massal di Jerman untuk pertama kalinya.

Jerman adalah ekonomi utama dengan kinerja terburuk secara global pada tahun 2023 dengan mencatat kontraksi 0,3%, diikuti pertumbuhan minimal pada tahun 2024 yang menyebabkan resesi. Krisis ekonomi sebagian disebabkan oleh hilangnya energi Rusia yang terjangkau setelah sanksi terkait Ukraina.

Berbicara kepada penyiar negara Jerman NDR pada hari Selasa, Blume mengumumkan pembuat mobil itu sedang memeriksa dengan saksama kebutuhan industri pertahanan.

Semua opsi ada di atas meja, menurut dia, termasuk mengubah beberapa pabrik dari produksi sipil menjadi produksi militer. "Kami pada dasarnya terbuka terhadap topik-topik seperti itu," klaim Blume.

Gagasan tersebut didukung produsen senjata terbesar Jerman, Rheinmetall. CEO Rheinmetall, Armin Papperger, mengatakan pada hari Rabu bahwa fasilitas VW di Osnabrueck akan cocok untuk diubah.

VW sebelumnya memproduksi kendaraan militer untuk Wehrmacht, angkatan bersenjata Nazi Jerman, selama Perang Dunia II, termasuk pengangkut ringan Kubelwagen dan kendaraan amfibi berpenggerak empat roda Schwimmwagen.

Satu pabrik VW terlibat dalam pembuatan komponen untuk bom terbang V-1, sejenis rudal jelajah awal yang digunakan untuk menimbulkan efek yang menghancurkan oleh Nazi.

Uni Eropa mengintensifkan upayanya melakukan militerisasi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berulang kali mengkritik anggota NATO Eropa karena gagal memenuhi komitmen pengeluaran pertahanan blok tersebut.

Sebagai tanggapan, Brussels mengumumkan inisiatif militerisasi besar yang diusulkan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.

Dijuluki ReArm Europe, rencana tersebut dapat mengalihkan 800 miliar euro (USD870 miliar) ke sektor pertahanan selama empat tahun ke depan.

Sementara pengumuman itu membuat harga saham produsen senjata terbesar di Eropa melonjak, rencana itu ditolak anggota parlemen Belanda, dengan alasan masalah fiskal.

Moskow mengecam rencana UE, dengan menyatakan rencana itu terutama ditujukan kepada Rusia dan menimbulkan "kekhawatiran yang mendalam."

Prakarsa militerisasi UE muncul saat Rusia dan AS memulai negosiasi bulan lalu untuk mencoba dan menyelesaikan konflik Ukraina.

Meskipun demikian, para pemimpin UE telah berjanji terus mendukung Ukraina secara militer.

Baca juga: Hamas Senang Trump Cabut Rencana AS Usir Warga Gaza
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
3 Alasan Denmark Larang...
3 Alasan Denmark Larang Mengumandangkan Azan, Tidak Ingin Seperti Islamabad
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Senapan Pasukan Khusus...
Senapan Pasukan Khusus AS Bukan Hanya Sekadar Senjata, Ini 3 Keunggulannya
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Presiden Korsel Lee...
Presiden Korsel Lee Jae Myung Murka Negaranya Tersingkir di Piala Dunia: Tidak Kompeten!
Rekomendasi
Jerman Ditahan Imbang...
Jerman Ditahan Imbang Paraguay 1-1, Laga Berlanjut ke Extra Time
Milo dan Kemenpora Perkuat...
Milo dan Kemenpora Perkuat Kolaborasi, Dorong Budaya Hidup Sehat Lewat Kemajuan Olahraga Indonesia
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Menanti 3 Rekor Der Panzer
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
Penjualan Mobil Murah...
Penjualan Mobil Murah LCGC Anjlok, Daya Beli Kelas Menengah Terancam?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved