Eks PM Malaysia Ismail Sabri Tersangka Korupsi Rp2,6 Triliun, Emas Batangan dan Uang Disita
Kamis, 06 Maret 2025 - 20:47 WIB
loading...
Mantan Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob. Foto/dpa
A
A
A
KUALA LUMPUR - Mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia Ismail Sabri Yaakob pada hari Senin (3/3/2025) ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi sekitar 700 juta ringgit (USD157 juta) atau Rp2,6 triliun.
Selama penyelidikan, uang tunai senilai hampir USD40 juta (Rp654 miliar) dan emas batangan disita dari tempat-tempat persembunyian yang diduga berada di ibu kota.
Ismail Sabri, perdana menteri dengan masa jabatan terpendek di negara itu, yakni hanya 15 bulan antara Agustus 2021 hingga November 2022, merupakan pemimpin ketiga yang terlibat dalam korupsi saat menjabat.
Dia dituduh korupsi setelah pendahulunya Muhyiddin Yassin dan Najib Razak, yang masing-masing sudah didakwa dan dihukum.
Uang tunai tersebut, dalam berbagai mata uang termasuk dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura, dirham Uni Emirat Arab (UEA), dan yen Jepang, ditemukan dalam tiga penggerebekan di properti yang terkait dengan mantan perdana menteri tersebut oleh Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC).
"Penemuan uang tunai ini menegaskan (mantan perdana menteri) adalah tersangka dalam kasus ini," tegas Kepala MACC Azam Baki kepada wartawan.
Ismail Sabri sebelumnya telah ditetapkan sebagai saksi, bukan tersangka.
Komisi sebelumnya mengatakan penyelidikannya difokuskan pada pengeluaran dan pengadaan publisitas pemerintah selama kepemimpinan Ismail Sabri.
Berbagai blok uang tunai dan emas batangan yang disita dipajang di atas meja di ruang konferensi pers, di samping jam tangan dan perhiasan mewah.
Azam menambahkan Ismail Sabri dijadwalkan dipanggil untuk diperiksa pada hari Rabu, sambil menunggu kondisi kesehatannya.
Ini setelah mantan perdana menteri tersebut tiba-tiba dirawat di rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri pada tanggal 22 Februari, menjelang penangkapan empat perwira dekatnya oleh MACC.
Komisi pertama kali memeriksa Ismail Sabri pada Januari tahun lalu sebagai bagian dari penyelidikan atas kemungkinan pelanggaran yang melibatkan sekitar 700 juta ringgit (USD157 juta) yang dihabiskan untuk publisitas pemerintah selama pemerintahannya.
Seorang perwakilan Ismail Sabri tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim telah berulang kali berjanji mengambil tindakan tegas terhadap korupsi, terlepas dari afiliasi politiknya.
Pada 8 Januari, dia menegaskan kembali sikapnya yang tidak menoleransi, dengan menyatakan dia tidak berkompromi terhadap korupsi, baik yang melibatkan anggota parlemen pemerintah maupun oposisi.
“Saya tidak peduli dengan posisi atau pengaruh mereka karena tindakan tegas harus diambil, dan kami telah memulainya,” tegas dia saat mengucapkan selamat kepada MACC atas keberaniannya di Simposium Tata Kelola Pemerintahan Nasional 2024.
Namun, para kritikus menuduh Anwar menggunakan tuduhan korupsi untuk membungkam lawan, termasuk mantan perdana menteri Mahathir Mohamad dan mendiang mantan menteri keuangan Daim Zainuddin, yang dia tuduh memperkaya diri sendiri melalui posisi mereka.
Mahathir, yang membantah tuduhan tersebut, menanggapi dengan mengajukan gugatan pencemaran nama baik sebesar 150 juta ringgit terhadap Anwar.
“Ketika Anwar membuka mulutnya, dia berbohong,” tulis Mahathir di blognya bulan lalu.
Baca juga: Para Tentara Israel Jual Barang Jarahan yang Dicuri dari Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon
Selama penyelidikan, uang tunai senilai hampir USD40 juta (Rp654 miliar) dan emas batangan disita dari tempat-tempat persembunyian yang diduga berada di ibu kota.
Ismail Sabri, perdana menteri dengan masa jabatan terpendek di negara itu, yakni hanya 15 bulan antara Agustus 2021 hingga November 2022, merupakan pemimpin ketiga yang terlibat dalam korupsi saat menjabat.
Dia dituduh korupsi setelah pendahulunya Muhyiddin Yassin dan Najib Razak, yang masing-masing sudah didakwa dan dihukum.
Uang tunai tersebut, dalam berbagai mata uang termasuk dolar Amerika Serikat (AS) dan dolar Singapura, dirham Uni Emirat Arab (UEA), dan yen Jepang, ditemukan dalam tiga penggerebekan di properti yang terkait dengan mantan perdana menteri tersebut oleh Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC).
"Penemuan uang tunai ini menegaskan (mantan perdana menteri) adalah tersangka dalam kasus ini," tegas Kepala MACC Azam Baki kepada wartawan.
Ismail Sabri sebelumnya telah ditetapkan sebagai saksi, bukan tersangka.
Komisi sebelumnya mengatakan penyelidikannya difokuskan pada pengeluaran dan pengadaan publisitas pemerintah selama kepemimpinan Ismail Sabri.
Berbagai blok uang tunai dan emas batangan yang disita dipajang di atas meja di ruang konferensi pers, di samping jam tangan dan perhiasan mewah.
Azam menambahkan Ismail Sabri dijadwalkan dipanggil untuk diperiksa pada hari Rabu, sambil menunggu kondisi kesehatannya.
Ini setelah mantan perdana menteri tersebut tiba-tiba dirawat di rumah sakit setelah ditemukan tidak sadarkan diri pada tanggal 22 Februari, menjelang penangkapan empat perwira dekatnya oleh MACC.
Komisi pertama kali memeriksa Ismail Sabri pada Januari tahun lalu sebagai bagian dari penyelidikan atas kemungkinan pelanggaran yang melibatkan sekitar 700 juta ringgit (USD157 juta) yang dihabiskan untuk publisitas pemerintah selama pemerintahannya.
Seorang perwakilan Ismail Sabri tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim telah berulang kali berjanji mengambil tindakan tegas terhadap korupsi, terlepas dari afiliasi politiknya.
Pada 8 Januari, dia menegaskan kembali sikapnya yang tidak menoleransi, dengan menyatakan dia tidak berkompromi terhadap korupsi, baik yang melibatkan anggota parlemen pemerintah maupun oposisi.
“Saya tidak peduli dengan posisi atau pengaruh mereka karena tindakan tegas harus diambil, dan kami telah memulainya,” tegas dia saat mengucapkan selamat kepada MACC atas keberaniannya di Simposium Tata Kelola Pemerintahan Nasional 2024.
Namun, para kritikus menuduh Anwar menggunakan tuduhan korupsi untuk membungkam lawan, termasuk mantan perdana menteri Mahathir Mohamad dan mendiang mantan menteri keuangan Daim Zainuddin, yang dia tuduh memperkaya diri sendiri melalui posisi mereka.
Mahathir, yang membantah tuduhan tersebut, menanggapi dengan mengajukan gugatan pencemaran nama baik sebesar 150 juta ringgit terhadap Anwar.
“Ketika Anwar membuka mulutnya, dia berbohong,” tulis Mahathir di blognya bulan lalu.
Baca juga: Para Tentara Israel Jual Barang Jarahan yang Dicuri dari Gaza, Tepi Barat, dan Lebanon
(sya)
Lihat Juga :