Mengapa NATO Bisa Runtuh Seperti Balon yang Bocor? Berikut 4 Alasannya
Selasa, 04 Maret 2025 - 12:50 WIB
loading...
NATO bisa runtuh seperti balon yang bocor. Foto/X@nato
A
A
A
WASHINGTON - Mantan Panglima Tertinggi Amerika Serikat Laksamana James Stavridis sebelumnya memperingatkan bahwa berakhirnya NATO bisa jadi "beberapa hari lagi."
Sebelum menjabat, Donald Trump berjanji untuk mempertimbangkan penarikan AS dari NATO.
"Namun, AS tidak akan meninggalkan aliansi itu secara tiba-tiba," Come Carpentier de Gourdon, seorang analis geopolitik dan ketua dewan redaksi jurnal World Affairs, mengatakan kepada Sputnik.
"AS mungkin secara bertahap membuat NATO kekurangan dana dan sumber daya lainnya dengan memulangkan sebagian besar personel AS dari pangkalan di Eropa, misalnya, yang akan mendorong negara-negara Eropa untuk mempertahankan aliansi dengan mengorbankan diri mereka sendiri," kata Gourdon.
"Dalam situasi itu, NATO akan menjadi tidak berdaya dan banyak negaranya akan mencari pengaturan alternatif," analis tersebut menyimpulkan.
Sebelum menjabat, Donald Trump berjanji untuk mempertimbangkan penarikan AS dari NATO.
"Namun, AS tidak akan meninggalkan aliansi itu secara tiba-tiba," Come Carpentier de Gourdon, seorang analis geopolitik dan ketua dewan redaksi jurnal World Affairs, mengatakan kepada Sputnik.
Mengapa NATO Bisa Runtuh Seperti Balon yang Bocor? Berikut 4 Alasannya
1. AS Akan Keluar dari NATO dengan Bertahap
Bagaimana Amerika Bisa Bertindak?"AS mungkin secara bertahap membuat NATO kekurangan dana dan sumber daya lainnya dengan memulangkan sebagian besar personel AS dari pangkalan di Eropa, misalnya, yang akan mendorong negara-negara Eropa untuk mempertahankan aliansi dengan mengorbankan diri mereka sendiri," kata Gourdon.
2. Meminta Anggota NATO Tingkatkan Anggaran Pertahanan
Washington mungkin juga mendorong anggota NATO untuk menaikkan anggaran pertahanan mereka hingga 5% yang "mungkin akan memberikan beban yang tidak dapat diterima bagi negara-negara tersebut," lanjutnya."Dalam situasi itu, NATO akan menjadi tidak berdaya dan banyak negaranya akan mencari pengaturan alternatif," analis tersebut menyimpulkan.
Lihat Juga :