Siapa Masafer Yatta? Komunitas Palestina yang Tampil dalam Dokumenter No Other Land
Selasa, 04 Maret 2025 - 02:20 WIB
loading...
A
A
A
Melansir Al Jazeera, sebagai bagian dari Tepi Barat yang ditetapkan sebagai Area C, area tersebut berada di bawah kekuasaan militer dan administratif penuh Israel. Penduduk area tersebut telah tinggal di sana sebelum pendudukan Israel di Tepi Barat pada tahun 1967, mencari nafkah sebagai penggembala dan petani.
Penduduk Palestina di Masafer Yatta telah berjuang untuk menyelamatkan rumah mereka dari pembongkaran oleh pasukan Israel dan serangan dari pemukim Israel selama beberapa dekade.
Baca Juga: Emas Senilai Rp414 Miliar Dirampok Unit Khusus Penjarahan Israel saat Beraksi di Gaza, Lebanon dan Suriah
Pemukim Israel telah mendorong perluasan pemukiman di Tepi Barat – yang ilegal menurut hukum internasional – dengan dukungan dari Menteri Keuangan sayap kanan Israel Bezalel Smotrich dan mantan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
Banyak keluarga tinggal di sana sebelum pendudukan Israel di Tepi Barat pada tahun 1967. Mereka mencari nafkah sebagai penggembala dan petani tetapi menghadapi berbagai kebijakan militer Israel termasuk pembatasan dalam memelihara dan mengembangkan rumah mereka, dan ketidakmampuan untuk mengakses jaringan listrik dan jaringan air.
Mereka juga dikelilingi oleh kawasan pemukiman ilegal Israel dan hidup di bawah apa yang disebut oleh organisasi hak asasi manusia sebagai kekerasan sistematis oleh polisi, tentara, dan pemukim Israel.
Sejak tahun 1967, Israel telah menetapkan sekitar 18 persen wilayah Tepi Barat yang diduduki sebagai zona latihan militer atau zona tembak tertutup, yang menjadikan lebih dari 6.000 warga Palestina sebagai penduduk "ilegal" di rumah mereka sendiri.
Pada tahun 1999, pasukan Israel mengusir semua penduduk di Masafer Yatta dengan alasan bahwa mereka tinggal di sana "secara ilegal" dan bukan penduduk tetap, meskipun sebagian besar penduduk memiliki dokumen yang membuktikan kepemilikan tanah mereka.
Beberapa bulan setelah pengusiran, mereka diizinkan untuk kembali "sementara" setelah putusan sementara dari pengadilan Israel, dan telah memperjuangkan hak mereka untuk tetap tinggal di tanah mereka sejak saat itu.
Penduduk Palestina di Masafer Yatta telah berjuang untuk menyelamatkan rumah mereka dari pembongkaran oleh pasukan Israel dan serangan dari pemukim Israel selama beberapa dekade.
Baca Juga: Emas Senilai Rp414 Miliar Dirampok Unit Khusus Penjarahan Israel saat Beraksi di Gaza, Lebanon dan Suriah
2. Diusir Israel
Pada bulan Mei 2022, Mahkamah Agung Israel menyatakan rencana Israel untuk memindahkan paksa lebih dari 1.000 penduduk Palestina, termasuk sekitar 500 anak-anak, dari Masafer Yatta dapat dilanjutkan, dengan memutuskan menolak gugatan hukum yang telah diperjuangkan penduduk daerah tersebut selama lebih dari 20 tahun.Pemukim Israel telah mendorong perluasan pemukiman di Tepi Barat – yang ilegal menurut hukum internasional – dengan dukungan dari Menteri Keuangan sayap kanan Israel Bezalel Smotrich dan mantan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir.
3. Berada di Area C
Masafer Yatta berada di 60 persen wilayah Tepi Barat yang diduduki yang ditetapkan sebagai "Area C", di bawah kekuasaan militer dan administratif penuh Israel.Banyak keluarga tinggal di sana sebelum pendudukan Israel di Tepi Barat pada tahun 1967. Mereka mencari nafkah sebagai penggembala dan petani tetapi menghadapi berbagai kebijakan militer Israel termasuk pembatasan dalam memelihara dan mengembangkan rumah mereka, dan ketidakmampuan untuk mengakses jaringan listrik dan jaringan air.
Mereka juga dikelilingi oleh kawasan pemukiman ilegal Israel dan hidup di bawah apa yang disebut oleh organisasi hak asasi manusia sebagai kekerasan sistematis oleh polisi, tentara, dan pemukim Israel.
4. Pernah Dijadikan Zona Tembak
Melansir Al Jazeera, pada tahun 1980-an, Israel mengklasifikasikan sebagian besar Masafer Yatta sebagai "zona tembak" tertutup yang akan digunakan untuk tujuan pelatihan militer, yang disebut Zona Tembak 918.Sejak tahun 1967, Israel telah menetapkan sekitar 18 persen wilayah Tepi Barat yang diduduki sebagai zona latihan militer atau zona tembak tertutup, yang menjadikan lebih dari 6.000 warga Palestina sebagai penduduk "ilegal" di rumah mereka sendiri.
Pada tahun 1999, pasukan Israel mengusir semua penduduk di Masafer Yatta dengan alasan bahwa mereka tinggal di sana "secara ilegal" dan bukan penduduk tetap, meskipun sebagian besar penduduk memiliki dokumen yang membuktikan kepemilikan tanah mereka.
Beberapa bulan setelah pengusiran, mereka diizinkan untuk kembali "sementara" setelah putusan sementara dari pengadilan Israel, dan telah memperjuangkan hak mereka untuk tetap tinggal di tanah mereka sejak saat itu.
5. Rumah Penduduk Palestina Kerap Dihancurkan Zionis
Militer Israel secara teratur menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur Palestina di Masafer Yatta, dan melakukan pelatihan di dalam dan di sekitar desa-desa, termasuk dengan amunisi aktif dan tank, yang membuat penduduk rentan terhadap cedera atau kematian.Lihat Juga :